<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131</id><updated>2012-01-11T08:02:32.552-08:00</updated><title type='text'>Moslem Power</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-411227488391781994</id><published>2012-01-10T03:03:00.000-08:00</published><updated>2012-01-10T03:03:44.900-08:00</updated><title type='text'>RASA SYUKUR</title><content type='html'>Di kala impian belum terwujud, kita selalu banyak memohon dan terus bersabar menantinya. Namun di kala impian sukses tercapai, kadang kita malah lupa daratan dan melupakan Yang Di Atas yang telah memberikan berbagai kenikmatan. Oleh karenanya, apa kiat ketika kita telah mencapai hasil yang kita idam-idamkan? Itulah yang sedikit akan kami kupas dalam tulisan sederhana&amp;nbsp; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akui Setiap Nikmat Berasal dari-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang harus diakui oleh setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;لا يَسْأَمُ الإنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tabiat manusia, yang selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdo’a pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit. Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa. Namun lihatlah bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai dari bersyukur pada Allah, bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat orang beriman tentu saja jika ia diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang ia idam-idamkan, ia pun bersyukur pada Allah. Bahkan ia pun khawatir jangan-jangan ini adalah istidroj (cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia terjang). Sedangkan jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari kesulitan serta ia tidak berputus asa.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapkanlah “Tahmid”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah realisasi berikutnya dari syukur yaitu menampakkan nikmat tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulillah) melalui lisan. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh Dhuha: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al Jaami’ no. 3014).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pula bagaimana impian Nabi Ibrahim tercapai ketika ia memperoleh anak di usia senja. Ketika impian tersebut tercapai, beliau pun memperbanyak syukur pada Allah sebagaimana do’a beliau ketika itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama salaf ketika mereka merasakan nikmat Allah berupa kesehatan dan lainnya, lalu mereka ditanyakan, “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini?” Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah (segala puji hanyalah bagi Allah).”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, hendaklah seseorang memuji Allah dengan tahmid (alhamdulillah) atas nikmat yang diberikan tersebut. Ia menyebut-nyebut nikmat ini karena memang terdapat maslahat dan bukan karena ingin berbangga diri atau sombong. Jika ia malah melakukannya dengan sombong, maka ini adalah suatu hal yang tercela.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan Nikmat dalam Amal Ketaatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada dua hal di atas yaitu mengakui nikmat tersebut pada Allah dalam hati dan menyebut-nyebutnya dalam lisan, namun hendaklah ditambah dengan yang satu ini yaitu nikmat tersebut hendaklah dimanfaatkan dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al Qur’an, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh oleh seorang hamba malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;كل نعمة لا تقرب من الله عز وجل، فهي بلية&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukhollad bin Al Husain mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;الشكر ترك المعاصي&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: [1]&amp;nbsp; mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), [2] membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan [3] menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَأَنَّ الشُّكْرَ يَكُونُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa Puas dengan Rizki Yang Allah Beri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter asal manusia adalah tidak puas dengan harta. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ&lt;/b&gt;&lt;b&gt; »&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah watak asal manusia. Sikap seorang hamba yang benar adalah selalu bersyukur dengan nikmat dan rizki yang Allah beri walaupun itu sedikit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga mesti kita yakini bahwa rizki yang Allah beri tersebut adalah yang terbaik bagi kita karena seandainya Allah melebihkan atau mengurangi dari yang kita butuh, pasti kita akan melampaui batas dan bertindak kufur. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut diingat pula bahwa nikmat itu adalah segala apa yang diinginkan seseorang. Namun apakah nikmat dunia berupa harta dan lainnya adalah nikmat yang hakiki? Para ulama katakan, tidak demikian. Nikmat hakiki adalah kebahagiaan di negeri akhirat kelak. Tentu saja hal ini diperoleh dengan beramal sholih di dunia. Sedangkan nikmat dunia yang kita rasakan saat ini hanyalah nikmat sampingan semata. Semoga kita bisa benar-benar merenungkan hal ini.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah Hamba yang Rajin Bersyukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Taysir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 752, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H dan Tafsir Al Jalalain, hal. 482, Maktabah Ash Shofaa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 262, Darul Aqidah, cetakan pertama, tahun 1426 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 202, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan tahun 1424 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Jaami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, 294, Darul Muayyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] ‘Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/135, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/278, Muassasah Qurthubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 266.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-411227488391781994?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/411227488391781994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2012/01/rasa-syukur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/411227488391781994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/411227488391781994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2012/01/rasa-syukur.html' title='RASA SYUKUR'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-5198683099086115</id><published>2011-12-21T08:08:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T08:08:28.695-08:00</updated><title type='text'>Catatan Indah Dari Seorang Sodara Seiman</title><content type='html'>&lt;u&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Saya dapat tulisan ini dari seorang teman, semoga bermanfaat untuk kita semua. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/309555_2095968327740_1501310058_31893890_381200501_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/309555_2095968327740_1501310058_31893890_381200501_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Dengan &lt;em&gt;bismillah&lt;/em&gt; mesra, kami semburkan tinta ini untuk hati  yang tengah gundah dan gulana. Semoga Alloh meridhoi dan menjadikan kami  dan anda sebagai orang yang ikhlas dalam beramal. Pula, semoga dengan  hitam di atas putih ini adalah saksi agar kami dapat menatap wajah-Nya  kelak di surga, sebuah negeri penuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, begitu  sering kegalauan jiwa menginangi hati. Jadilah hati itu gundah. Gelisah  pun secara perlahan mendominasi hingga pikiran jernih tak lagi diraih.  Telah tiba musim jenuh yang memalaskan raga untuk peragakan amal shalih,  mendiamkan hati agar tak terpaut dengan Allah, dan membisukan lisan  agar tak semburatkan sejuta kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kapankah datang musim semi yang menghadiahkan pucuk-pucuk keimanan bagi dahan jiwa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kapankah bertandang musim hujan yang menunaskan rumput-rumput ketakwaan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenanglah  sahabat. Kepadamu, dari sudut beranda kalbu, kami bisikkan semilir  untaian kata bahwa hanya karena Alloh lah kami mencintaimu. Sehingga tak  pelak kami goreskan tinta ini untuk kami dan untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun  kiranya tak perlu banyak kata untuk membuatmu menjauhi tulisan ini, dan  tak perlu pula sajak bintang berirama indah untuk membuatmu punah dari  gundah. Tapi di tulisan ini, kami berharap ada banyak rasa yang akan  membuatmu jadi permatanya. Maka tetaplah disini. Buka mata dan hati.  Tersenyumlah, karena senyummu adalah begitu indah sejukkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Salah satu di antara tujuh golongan orang yang akan diberi naungan Allah pada hari kiamat adalah; &lt;strong&gt;seorang yang mengingat Allah lantas kedua matanya pun mengalirkan air mata&lt;/strong&gt;.” &lt;/em&gt;[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi…&lt;br /&gt;Tapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana  mungkin hati bisa tersentuh dan mata membulirkan air yang menandakan  sejuknya keimanan sementara saat ini hati kita tengah mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh  kita adalah orang-orang yang menzhalimi diri sendiri dengan kemaksiatan  yang kita lakukan. Mata kita ini bukan menangis karena takut pada  Alloh, namun karena sinetron cinta picisan. Mata ini terbangun pula di  gulita malam namun bukan untuk bermunajat pada-Nya namun hanyalah  sekedar untuk menelpon si “dia”, menonton acara-acara murahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara  serak kita ini bukanlah karena bacaan tilawah Al-Qur’an atau  mengulang-ngulang hafalannya namun karena bersenandung lagu-lagu cinta  ala anak muda. Hingga bait-bait lirik lagu lebih kita kenal dibanding  bacaan indah Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pula kata-kata yang baik dan enak terdengar namun kata-kata yang penuh dusta dan menusuklah yang terlontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki  kitapun, jarang kita dapati langkahnya untuk menuju majelis dzikir,  majelis ilmu, beribadah lima waktu di masjid, malahan degup langkah  bertapak ke konser musik, Mall dan tempat shopping lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Robbi, sungguh kami termasuk orang yang merugi. Ampunilah diri kami. Ampunilah kami.&lt;br /&gt;Takutlah  kita dengan azab Alloh ta’ala. Cobalah renungi tentang maut. Saat  sakaratul maut, terlihat demikian mudahnya arwah orang mukmin keluar  dari raganya, akan tetapi bukan berarti bebas dari rasa sakit! Tidak,  sekali-kali tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah keraguan pada diri kita bahwa Nabi Muhammad &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  adalah orang mukmin yang paling sempurna keimanannya? Akan tetapi  kemulian dan kesempurnaan iman beliau tidak dapat melindungi beliau dari  dahsyatnya sakaratul maut. Oleh karena itu, tatkala beliau menghadapi  sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan  dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan  ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali,  sambil bersabda: &lt;em&gt;"Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih." [2]&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab &lt;em&gt;Radhiyallahu 'anhu&lt;/em&gt; bertanya kepada Ka'ab Al Ahbaar: "Wahai Ka'ab, ceritakan kepada kita tentang kematian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka'ab pun berkata: &lt;em&gt;“Wahai  Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang  dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda,  sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu  sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah  perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu  dan apa yang akan tersisa!" [&lt;/em&gt;3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaddaad bin Al Aus berkata: &lt;em&gt;"Kematian  adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di  dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda  digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk.  Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang  apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak  akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur  nyenyak."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila demikian dahsyatnya rasa sakit yang  menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka bagaimana  dengan diri kita wahai saudara-saudara kami? Betapa banyak dosa dan  kemaksiatan yang menodai lembaran amal kita? Sedang masihkah kita masih  terpaku dengan pacaran, taruhan, judi, minum minuman keras dan tidak  menutup aurat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah ingat  kembali, rasa pedih dan sakit yang pernah kita rasakan ketika tertusuk  atau tersengat api! Sangat menyakitkan bukan? Padahal syaraf yang  merasakan rasa sakit hanyalah sebagiannya. Walau demikian, rasanya  begitu menyakitkan, sehingga susah untuk dilupakan? Bagaimana halnya  bila kelak pada saat sakaratul maut seluruh syaraf kita merasakan sakit.  Disaat ruh kita berusaha berpegangan erat-erat dengan setiap syaraf  anda sedangkan Malaikat Maut mencabutnya dengan keras dan kuat.  Betul-betul menyakitkan. Penampilan Rasa Malaikat Maut yang begitu seram  dan menakutkan akan semakin menambah pedih rasa sakit yang kita  rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapkah kita menjalani pengalaman yang begitu menakutkan dan begitu menyakitkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila  kita tidak kuasa menjalani sakaratul maut yang sangat menyakitkan  seperti ini, maka mengapa noda-noda maksiat terus mengotori lembaran  amal dan menghitamkan hati kita? Mengapa kaki terasa kaku, tangan serasa  terbelenggu, mata seakan melekat dan pintu hati seakan terkunci ketika  ada seruan beribadah kepada Allah?’ [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa  itu hanyalah sedikit kabar bagaimana pedihnya sakaratul maut. Belum lagi  ditambah dengan siksa kubur yang tak kalah dahsyatnya dan juga pedihnya  siksa api neraka. Sedang siksa neraka yang paling ringan saja adalah  ketika kaki menginjak neraka dan membuat otak mendidih. Lemas diri ini  membuat tulisan ini. Takut sekali rasanya. Ya robbi, sungguh zholim diri  ini, maka ampunilah kami, jikalau Kau tidak mengampuni kepada siapa  lagi hendak kami akan mohon ampun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, kami goreskan pena ini hanyalah untuk diri kami karena hati kami mati, kami yakin hati kalian masih bersemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Erlan Eskandar&lt;br /&gt;Penyunting &amp;amp; Penyelaras Bahasa : Abdullah Akiera Van as-Samawiey&lt;br /&gt;Artikel www.remajaislam.com&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Footnote:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[1] HR. Bukhari dalam Kitab Ar-Riqaq [6114]&lt;br /&gt;[2] HR. Imam Bukhari&lt;br /&gt;[3] Riwayat Abu Nu'aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya'&lt;br /&gt;[4] Sebuah renungan terhadap kematian, Ustadz Arifin Badri, dari www.almanhaj.or.id, dengan sedikit editing&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-5198683099086115?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/5198683099086115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/12/catatan-indah-dari-seorang-sodara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5198683099086115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5198683099086115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/12/catatan-indah-dari-seorang-sodara.html' title='Catatan Indah Dari Seorang Sodara Seiman'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-540967209530918301</id><published>2011-12-17T06:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-17T06:26:53.754-08:00</updated><title type='text'>IBU, BEGITU MULIA PERANMU</title><content type='html'>Agama Islam sangat memuliakan dan mengagungkan kedudukan kaum perempuan, dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah, menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;{وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا}&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS an-Nisaa’:124).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;{مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS an-Nahl:97)[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Islam juga sangat memperhatikan hak-hak kaum perempuan, dan mensyariatkan hukum-hukum yang agung untuk menjaga dan melindungi mereka[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shaleh al-Fauzan berkata, “Wanita muslimah memiliki kedudukan (yang agung) dalam Islam, sehingga disandarkan kepadanya banyak tugas (yang mulia dalam Islam). Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam&amp;nbsp; selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang khusus bagi kaum wanita[3], bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat khusus tentang wanita dalam kutbah beliau di Arafah (ketika haji wada’)[4]. Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu…[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas dan peran penting wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agungnya tugas dan peran wanita ini terlihat jelas pada kedudukannya sebagai pendidik pertama dan utama generasi muda Islam, yang dengan memberikan bimbingan yang baik bagi mereka, berarti telah mengusahakan perbaikan besar bagi masyarakat dan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata, “Sesungguhnya kaum wanita memiliki peran yang agung dan penting dalam upaya memperbaiki (kondisi) masyarakat, hal ini dikarenakan (upaya) memperbaiki (kondisi) masyarakat itu ditempuh dari dua sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Yang pertama: perbaikan (kondisi) di luar (rumah), yang dilakukan di pasar, mesjid dan tempat-tempat lainnya di luar (rumah). Yang perbaikan ini didominasi oleh kaum laki-laki, karena merekalah orang-orang yang beraktifitas di luar (rumah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Yang kedua: perbaikan di balik dinding (di dalam rumah), yang ini dilakukan di dalam rumah. Tugas (mulia) ini umumnya disandarkan kepada kaum wanita, karena merekalah pemimpin/pendidik di dalam rumah, sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;{&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا&lt;/b&gt;&lt;b&gt;}&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS al-Ahzaab:33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak salah kalau sekiranya kita mengatakan: bahwa sesungguhnya kebaikan separuh atau bahkan lebih dari (jumlah) masyarakat disandarkan kepada kaum wanita. Hal ini dikarenakan dua hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jumlah kaum wanita sama dengan jumlah laki-laki, bahkan lebih banyak dari laki-laki. Ini berarti umat manusia yang terbanyak adalah kaum wanita, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…Berdasarkan semua ini, maka kaum wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki (kondisi) masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan para wanita, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki masyarakat[6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna inilah yang diungkapkan seorang penyair dalam bait syairnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;الأم مدرسة إذا أعددتَها&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana seorang wanita mempersiapkan dirinya agar menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar seorang wanita berhasil mengemban tugas mulia ini, maka dia perlu menyiapkan dalam dirinya faktor-faktor yang sangat menentukan dalam hal ini, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Berusaha memperbaiki diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor ini sangat penting, karena bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anaknya menjadi orang yang baik, kalau dia sendiri tidak memiliki kebaikan tersebut dalam dirinya? Sebuah ungkapan Arab yang terkenal mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu yang tidak punya tidak bisa memberikan apa-apa”[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kebaikan dan ketakwaan seorang pendidik sangat menetukan keberhasilannya dalam mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan. Oleh karena itu, para ulama sangat menekankan kewajiban meneliti keadaan seorang yang akan dijadikan sebagai pendidik dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah ucapannya yang terkenal Imam Muhammad bin Sirin berkata: “Sesungguhnya ilmu (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu mencapai ketakwaan), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu”[9].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penting inilah yang merupakan salah satu sebab utama yang menjadikan para sahabat Nabi menjadi generasi terbaik umat ini dalam pemahaman dan pengamalan agama mereka. Bagaimana tidak? Da’i dan pendidik mereka adalah Nabi yang terbaik dan manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala, yaitu Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala&amp;nbsp; dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;{وكيف تكفرون وأنتم تتلى عليكم آيات الله وفيكم رسوله}&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin (baca: tidak mungkin) kalian (wahai para sahabat Nabi), (sampai) menjadi kafir, karena ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian (sebagai pembimbing)” (QS Ali ‘Imraan:101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain tentang peranan seorang pendidik yang baik adalah apa yang disebutkan dalam biografi salah seorang Imam besar dari kalangan tabi’in, Hasan bin Abil Hasan Al Bashri[10], ketika Khalid bin Shafwan[11] menerangkan sifat-sifat Hasan Al Bashri kepada Maslamah bin Abdul Malik[12] dengan berkata: “Dia adalah orang yang paling sesuai antara apa yang disembunyikannya dengan apa yang ditampakkannya, paling sesuai ucapan dengan perbuatannya, kalau dia duduk di atas suatu urusan maka diapun berdiri di atas urusan tersebut…dan seterusnya”, setelah mendengar penjelasan tersebut Maslamah bin Abdul Malik berkata: “Cukuplah (keteranganmu), bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat (dalam agama mereka) kalau orang seperti ini (sifat-sifatnya) ada di tengah-tengah mereka?”[13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, ketika seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Waasi’[14] tentang sedikitnya pengaruh nasehat yang disampaikannya dalam merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya, maka Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan nasehat yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dari dirimu sendiri, sesungguhnya peringatan (nasehat) itu jika keluarnya (ikhlas) dari dalam hati&amp;nbsp; maka (akan mudah) masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)” [15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor ini sangat berhubungan erat dengan faktor yang pertama, yang perlu kami jelaskan tersendiri karena pentingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anak didik termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan[16].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan[17].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, dalam banyak ayat al-Qur’an Allah Ta’ala menceritakan kisah-kisah para Nabi yang terdahulu, serta kuatnya kesabaran dan keteguhan mereka dalam mendakwahkan agama Allah Ta’ala, untuk meneguhkan hati Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mengambil teladan yang baik dari mereka[18]. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;{وكلا&amp;nbsp; نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك، وجاءك في هذه الحق وموعظة وذكرى للمؤمنين}&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan semua kisah para Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Hud:120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bakr Abu Zaid, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’ “[19].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal ini, imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibarahim al-Harbi[20]. Dari Muqatil bin Muhammad al-’Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”[21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- Memilih metode pendidikan yang baik bagi anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً}&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4)[22].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk metode pendidikan yang benar adalah membiasakan anak-anak sejak dini melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya, sebelum mereka mencapai usia dewasa, agar mereka terbiasa dalam ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani ketika menjelaskan makna hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Ali memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan t masih kecil[23], beliau menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah: bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[24].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Termasuk (pembinaan) awal yang diharamkan (dalam Islam) adalah memakaikan pada anak-anak kecil pakaian yang menampakkan aurat, karena ini semua menjadikan mereka terbiasa dengan pakaian dan perhiasan tersebut (sampai dewasa), padahal pakaian tersebut menyerupai (pakaian orang-orang kafir), menampakkan aurat dan merusak kehormatan”[25].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin ketika ditanya: apakah diperbolehkan bagi anak kecil, laki-laki maupun perempuan, untuk memakai pakaian pendek yang menampakkan pahanya? Beliau menjawab: “Sudah diketahui bahwa anak kecil yang umurnya dibawah tujuh tahun, tidak ada hukum (larangan menampakkan) bagi auratnya. Akan tetapi membiasakan anak-anak kecil memakai pakaian yang pendek dan menampakkan aurat (seperti) ini tentu akan membuat mereka mudah (terbiasa) membuka aurat nantinya (setelah dewasa). Bahkan bisa jadi seorang anak (setelah dewasa) tidak malu menampakkan pahanya, karena sejak kecil dia terbiasa menampakkannya dan tidak peduli dengannya… Maka menurut pandanganku anak-anak (harus) dilarang memakai pakaian (seperti) ini, meskipun mereka masih kecil, dan hendaknya mereka memakai pakaian yang sopan dan jauh dari (pakaian) yang dilarang (dalam agama)”[26].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair mengungkapkan makna ini dalam bait syairnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa (didapatkannya) dari orang tuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh[27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan syair di atas, ada pepatah arab yang mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu maka ketika tua pun dia akan terus melakukannya”[28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- Kesungguhan dan keseriusan dalam mendidik anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Anak-anak adalah amanah (titipan Allah Ta’ala) kepada kedua orang tua atau orang yang bertanggungjawab atas urusan mereka. Maka syariat (Islam) mewajibkan mereka menunaikan amanah ini dengan mendidik mereka berdasarkan petunjuk (agama) Islam, serta mengajarkan kepada mereka hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, dalam urusan agama maupun dunia. Kewajiban yang pertama (diajarkan kepada mereka) adalah: menanamkan ideologi (tentang) iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul, hari akhirat, dan mengimani takdir Allah yang baik dan buruk, juga memperkokoh (pemahaman) tauhid yang murni dalam jiwa mereka, agar menyatu ke dalam relung hati mereka. Kemudian mengajarkan rukun-rukun Islam pada diri mereka, (selalu) menyuruh mereka mendirikan shalat, menjaga kejernihan sifat-sifat bawaan mereka (yang baik), menumbuhkan (pada) watak mereka akhlak yang mulia dan tingkah laku yang baik, serta menjaga mereka dari teman pergaulan dan pengaruh luar yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah rambu-rambu pendidikan (Islam) yang diketahui dalam agama ini secara pasti (oleh setiap muslim), yang karena pentingnya sehingga para ulama menulis kitab-kitab khusus (untuk menjelaskannya)…Bahkan (metode) pendidikan (seperti) ini adalah termasuk petunjuk para Nabi dan bimbingan orang-orang yang bertakwa (para ulama salaf)”[29].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menekankan pentingnya masalah ini dalam ucapan beliau: “Anak-anak pada masa awal pertumbuhan mereka, yang selalu bersama mereka adalah seorang ibu, maka jika sang ibu memiliki akhlak dan perhatian yang baik (kepada mereka), (tentu) mereka akan tumbuh dan berkembang (dengan) baik dalam asuhannya, dan ini akan memberikan dampak (positif) yang besar bagi perbaikan masyarakat (muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, wajib bagi seorang wanita yang mempunyai anak, untuk memberikan perhatian (besar) kepada anaknya dan kepada (upaya) mendidiknya (dengan pendidikan yang baik). Kalau dia tidak mampu melakukannya seorang diri, maka dia bisa meminta tolong kepada suaminya atau orang yang bertanggung jawab atas urusan anak tersebut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak pantas seorang ibu (bersikap) pasrah dengan kenyataan (buruk yang ada), dengan mengatakan: “Orang lain sudah terbiasa melakukan (kesalahan dalam masalah) ini dan aku tidak bisa merubah (keadaan ini)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kalau kita terus menerus pasrah dengan kenyataan (buruk ini), maka nantinya tidak akan ada perbaikan, sebab (dalam) perbaikan mesti ada (upaya) merubah yang buruk dengan cara yang baik, bahkan merubah yang (sudah) baik menjadi lebih baik (lagi), supaya semua keadaan kita (benar-benar) menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, (sikap) pasrah pada kenyataan (buruk yang ada) adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam syariat Islam. Oleh karena itulah, ketika Allah mengutus Nabi kepada kaumnya yang berbuat syirik (bangsa Arab jahiliyyah), yang masing-masing mereka menyembah berhala, memutuskan hubungan kekeluargaan, berbuat aniaya dan melampaui batas terhadap orang lain tanpa alasan yang benar, (pada waktu itu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas (bersikap) pasrah (pada kenyataan yang ada), bahkan Allah sendiri tidak mengizinkan beliau (bersikap) pasrah pada kenyataan (buruk tersebut). Allah memerintahkan kepada beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sampaikanlah (secara terang-terangan) segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah (jangan pedulikan) orang-orang yang musyrik” (QS al-Hijr:94)”[30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada para wanita muslimah, agar mereka menyadari mulianya tugas dan peran mereka dalam Islam, dan agar mereka senantiasa berpegang teguh dengan petunjuk-Nya dalam mendidik generasi muda Islam dan dalam urusan-urusan kehidupan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat keterangan syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat kitab “al-Mar’ah, baina takriimil Islam wa da’aawat tahriir” (hal. 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Misalnya dalam HSR al-Bukhari (no. 3153) dan Muslim (no. 1468).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Dalam HSR Muslim (no. 1218).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Kitab “at-Tanbiihaat ‘ala ahkaamin takhtashshu bil mu’minaat” (hal. 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Kitab “Daurul mar-ati fi ishlaahil mujtama’” (hal. 3-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Dinukil oleh syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab “Makaanatul mar-ati fil Islam” (hal. 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Dinukil oleh syaikh al-Albani dalam kitab “at-Tawassul, ‘anwaa’uhu wa ahkaamuhu” (hal. 74).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Muqaddimah shahih Muslim (1/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Beliau adalah Imam besar dan terkenal dari kalangan Tabi’in ‘senior’ (wafat 110 H), memiliki banyak keutamaan sehingga sebagian dari para ulama menobatkannya sebagai tabi’in yang paling utama, biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (6/95) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (4/563).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Beliau adalah Abu Bakr Khalid bin Shafwan bin Al Ahtam Al Minqari Al Bashri, seorang yang sangat fasih dalam bahasa Arab, biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/226).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Beliau adalah Maslamah bin Abdil Malik bin Marwan bin Al Hakam (wafat 120 H), seorang gubernur dari Bani Umayyah, saudara sepupu Umar bin Abdul Aziz dan meriwayatkan hadits darinya, biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (27/562) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (5/241).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Siyaru a’laamin nubala’ (2/576).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Beliau adalah Muhammad bin Waasi’ bin Jabir bin Al Akhnas Al Azdi Al Bashri (wafat 123 H), seorang Imam dari kalangan Tabi’in ‘junior’ yang taat beribadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits, Imam Muslim mengeluarkan hadits beliau dalam kitab “Shahih Muslim” . Biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (26/576) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (6/119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/122).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Lihat “al-Mu’in ‘ala tahshili adabil ‘ilmi” (hal. 50) dan “Ma’alim fi thariqi thalabil ‘ilmi” (hal. 124).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau (hal. 271).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (2/611).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Kitab “Hirasatul fadhiilah” (hal. 127-128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala’” (13/356).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Kitab “Shifatush shafwah” (2/409).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Kutubu wa rasaa-ilu syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimiin (4/14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] Fathul Baari (3/355).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25] Kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[26] Kitab “Majmu’atul as-ilah tahummul usratal muslimah (hal. 146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[27] Kitab “Adabud dunya wad diin” (hal. 334).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[28] Dinukil dan dibenarkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin dalam “Majmu’atul as-ilah tahummul usratal muslimah (hal. 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[29] Kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 122).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[30] Kitab “Daurul mar-ati fi ishlaahil mujtama’” (hal. 14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-540967209530918301?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/540967209530918301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/12/ibu-begitu-mulia-peranmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/540967209530918301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/540967209530918301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/12/ibu-begitu-mulia-peranmu.html' title='IBU, BEGITU MULIA PERANMU'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-4622642379532884211</id><published>2011-11-14T19:44:00.001-08:00</published><updated>2011-11-14T19:44:14.416-08:00</updated><title type='text'>Abu Bakar Ash-Shiddiq</title><content type='html'>Abu Bakar Ash-Shiddiq radiallahuanhu, seorang khalifah besar pengganti Rasulullah, manusia paling mulia dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan hanya kaum muslimin yang mengenalnya, bahkan orang-orang kafir pun mengenalnya. Panglima besar yang berhasil menundukkan kekuatan dan kecongkakan negara super power Romawi. Dialah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin Ka’ab bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luai yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Bakar Ash-Shiddiq radiallahuanhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya menjelaskan, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Abu Bakar lalu menjulukinya ‘atiiqullah minan nar, orang yang dibebaskan Allah dari api neraka. Ibunya bernama Ummul Khair As-Sahmi binti Shakhr bin ‘Amir, wafat dalam keadaan memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keagungan dan kemuliaan Abu Bakar bukan karena ketampanan dan kegagahannya, akan tetapi karena keimanan yang kokoh di hati yang membuahkan pembenaran terhadap semua apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara fisik ia seorang yang berbadan kurus, berdahi menonjol, berpundak sempit, berwajah cekung dan pinggang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat semua orang meragukan dan mendustakan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan, dia seorang diri membenarkannya. Ia rela merobek habis robekan demi robekan bajunya untuk menyumbat setiap lubang yang ada di dalam gua di malam hari karena takut binatang penyengat yang bersembunyi di dalamnya keluar mengganggu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang musyrik mengepung keduanya. Pagi harinya, Rasulullah menanyakan di mana pakaiannya. Setelah tahu apa yang terjadi, Rasulullah mendoakannya menjadi orang yang mempunyai derajat tinggi di jannah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memiliki beberapa anak. Dari perkawinan dengan Qutaibah dihasilkan Abdullah yang ikut perang di Thaif dan Asma’, istri Az-Zubair. Qutaibah kemudian dicerai dan wafat pada usia 100 tahun. Perkawinannya dengan Ummu Ruman melahirkan ‘Aisyah x (istri Rasulullah) dan Abdurrahman. Sebelum masuk Islam, Abdurrahman masuk dalam barisan kaum musyrikin yang memerangi Rasulullah. Namun dalam perang Badr ia baru masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari istrinya yang lain yang bernama Asma’ binti ‘Umais melahirkan Muhammad dan dari Habibah binti Kharijah bin Zaid melahirkan Ummu Kultsum x yang dinikahi shahabat Thalhah bin Ubaidillah z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi keilmuan, Abu Bakar radiallahuanhu melebihi shahabat lainnya. Banyak fatwa yang ia keluarkan di hadapan Rasulullah dan beliau menyetujuinya. Diangkatnya , ditambah adanya hadits?Abu Bakar menjadi imam shalat pengganti Rasulullah yang memerintahkan kaum muslimin untuk kembali kepada “dua bulan” (Abu Bakar dan ‘Umar) bila mengalami suatu perselisihan, menjadi saksi atas ketinggian ilmunya. Karenanya, sewaktu Rasulullah wafat orang-orang Muhajirin dan Anshar sepakat membaiatnya menjadi khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang khalifah yang adil, tidak bergaya hidup mewah dan rendah hati. Tak lama setelah diangkat jadi khalifah ia berkata, bahwa ia bukanlah orang yang terbaik, memerintah rakyatnya mengikuti syariat dan tidak mengadakan bid’ah. Bila ia baik minta diikuti dan bila menyimpang ia minta diluruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin ‘Umar c mengabarkan bahwa Abu Bakar radiallahuanhu sakit karena wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga menyebabkan kematiannya. Ahli sejarah menulis Abu Bakar z wafat antara waktu Maghrib dan ‘Isya pada hari Rabu bulan Rabi’ul Awwal tahun 13 H, dalam usia 63 tahun. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda kepada Abubakar As-Shidiq ra : “ Aku melihat dalam mimpi bahwa kita menaiki sebuah tangga, pada akhirnya aku mendahului dua langkah didepan engkau” , lalu dijawab oleh Abubakar : “ Wahai Rasulullah, Allah Yang Maha Kuasa akan memanggil Jiwamu ke haribaanNya, dan aku akan hidup dua atau satu setengah tahun lagi setelah engkau meninggalkan dunia ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi Rasulullah dan perkataan Abubakar tersebut menjadi kenyataan, Ternyata beliau menjadi Pemimpin menggantikan Rasulullah selama 2 tahun 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu prestasi yang begitu besar dalam sisa hidupnya sepeninggal Rasulullah telah dicapai. Beliau telah berhasil menumpas orang-orang Arab yang Murtad dan memberontak, membuat mata dunia terbelalak ketika berhasil menembus dua Imperium besar yang ketika itu menguasai dunia dan menentukan arah kebudayaannya yaitu Persia dan Rumawi. Kedaulatan itu pula yang mengemban peradaban dunia selama berabad-abad lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Senin 22 Agustus 634 didalam sakitnya Abubakar ra berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan datanglah sakratul maut yang membawa kebenaran : “ Inilah yang dulu hendak kamu hindari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap yang punya unta akan diwariskan&lt;br /&gt;Dan setiap barang rampasan akan dirampas&lt;br /&gt;Setiap yang kehilangan akan kembali&lt;br /&gt;Tetapi hilang dengan kematian tak akan kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tuhan ….. ambillah nyawaku sebagai orang yang berserah diri (sebagai muslim) dan tempatkanlah aku bersama orang-orang yang saleh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengetahui Abubakar ra wafat Sahabat beliau Ali Abu Talib ra, berkata sambil menangis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Abu Bakr, semoga Allah memberi rahmat kepadamu, Engkaulah orang pertama masuk Islam, dengan iman yang begitu murni. Keyakinan yang kuat dengan kekayaan yang terbesar. Engkaulah yang sangat memperhatikan Rasulullah SAW, dan sangat perduli terhadap Islam. Besar sekali pengorbananmu hendak melindungi umat. Engkaulah yang terdekat dengan Rasulullah dari segi akhlak, kemuliaan, sikap dan pandanganmu terhadap agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi balasan baik kepadamu, demi Islam, demi Rasulullah dan demi segenap umat Muslimin. Engkau sudah percaya kepada Rasululullah tatkala orang masih mendustakannya, engkau begitu dermawan dan murah hati dikala orang sangat kikir kepadanya. Engkau yang selalu bersamanya sementara orang lain masil bermalas-malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah memberimu gelar As-Siddiq dalam KitabNya: “Orang yang membawa kebenaran dan yang membenarkannya (QS 39,33). Yang dimaksud adalah Muhammad dan engkau. Demi Allah engkau adalah benteng Islam dan malapetaka bagi si kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peganganmu dan alasanmu tidak sesat, wawasanmu tak pernah lemah dan engkau tak pernah menjadi penakut. Engkau seperti gunung yang tak tergoyahkan oleh badai dan topan, tak remuk karena benturan halilintar. Engkau seperti dikatakan Rasulullah saw, lemah dalam jasmani, kuat dalam agama, rendah hati dalam dirimu, agung dalam pandangan Allah, mulia di bumi, besar di mata kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau tak tedorong ambisi dan nafsu, orang yang lemah, dimatamu adalah kuat, orang yang kuat, dalam pandanganmu adalah lemah, sesudah kau ambil hak si kuat dan kau berikan kepada si lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan sebagian pahalamu kepada kami dan tidak tersesat karena kami jauh darimu. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Aisyah, sebagai putri beliau dan sebagai Istri dari Rasulullah saw berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ayahanda, semoga Allah melimpahkan cahayaNya ke wajah mu, dan memuji segala usahamu yang sangat bermanfaat. Engkaulah orang yang tak terpesona oleh gemerlapnya dunia, dengan cara menjauhinya, engkau menjunjung tinggi kehidupan akhirat, dengan hati terbuka menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada rasa duka terbesar dalam menimpa kami setelah ditinggal Rasulullah saw, maka duka inilah, dan kalau ada peristiwa terbesar yang terjadi sesudahnya karena kehilanganmu ini pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersabar atas kepergianmu, Kitabullah menjanjikan ganti yang terbaik kepada kita. Aku siap melaksanakan janji Allah tentang engkau dengan bersabar, dengan meminta pertolongan dengan banyak istigfar untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan keselamatan kepadamu, aku melepasmu tanpa rasa dendam&lt;br /&gt;, tanpa rasa kesal atas takdir yang terjadi terhadapmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat Umar bin Khatab berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Wahai Khalifah Rasulullah!! Sepeninggalmu, sungguh ini suatu beban yang sangat berat yang harus kami pikul. Sungguh Engkau tak tertandingi, bagaimana pula hendak menyusulmu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ässalamualaika wahai Abu bakar………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menguji setiap khalifahNYa….&lt;br /&gt;Berkat keimanan dan keteguhan engkau&lt;br /&gt;Kami kaum Muslimin dapat berdiri tegak&lt;br /&gt;Penuh daya hidup untuk mengarungi dunia&lt;br /&gt;Untuk menuju tingkat peradaban yang tinggi&lt;br /&gt;Sesuai dengan martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau dipertemukan dengan Rasulullah dalam Iman&lt;br /&gt;Kini engkau dipertemukan dengan kematian.&lt;br /&gt;Perjuanganmu bersamanya sungguh melelahkan&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan kemuliaan bersamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Bacaan: Shifatush Shafwah, Al-Imam Ibnul Jauzi]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-4622642379532884211?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/4622642379532884211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/11/abu-bakar-ash-shiddiq.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/4622642379532884211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/4622642379532884211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/11/abu-bakar-ash-shiddiq.html' title='Abu Bakar Ash-Shiddiq'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-901166488412175501</id><published>2011-11-14T19:44:00.000-08:00</published><updated>2011-11-14T19:44:03.881-08:00</updated><title type='text'>Umar bin Khatab</title><content type='html'>Nabi Muhammad SAW, pernah bersabda : “ Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari Amr bin Hisyam atau Umar bin Khatab”. Allah SWT telah mengabulkan doa beliau dengan masuknya Islamnya Umar bin Khatab sekitar tahun 616. Rasulullah SAW telah mengetahui akan keunggulan-keunggulan yang dimiliki Umar, pemuda yang gagah berani, tidak mengenal takut dan gentar, mempunyai ketabahan dan kemauan keras, demi untuk kepentingan perjuangan Islam, maka Rasulullah SAW memanjat doa kepada Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Sahabat Rasul terdekat dan menjadi khalifah ke dua al-Khulafa-ar-Rasyidin., lahir dari suku Adi yang terpandang mulia dan mempunyai martabat tinggi di kalangan Arab, suku ini masih termasuk rumpun Kuraisy. Masuknya Umar binKhatab diikuti putra sulungnya, dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya Umar bin Khatab kedalam Islam membuka jalan bagi tokoh-tokoh Arab lainnya untuk masuk Islam. Saat itu berbondong-bondonglah orang masuk Islam, dalam waktu singkat pengikut islam berkembang dengan pesat. Umar telah membawa cahaya terang dalam permulaan perjuangan Islam. Dakwah Islam yang biasanya sembunyi-sembunyi kini dilaksanakan secara terang-terangan. Umar menjadi pelindung dan pembela umat Islam pada saat itu dari segala gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Asir mengungkapkan bahwa Abdullah bin Massd berkata :” Islamnya Umar adalah merupakan suatu kemenangan, hijrahnya adalah suatu pertolongan, dan pemerintahannya adalah rakhmat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Umat Islam tidak berani mendirikan Shalat secara terang-terangan, takut akan dianiaya oleh kafir Kuraisy, tetapi setelah itu mereka dapat beribadah dengan leluasa tanpa tertekan, “ Umar telah menunjukkan kesetiaan dan pengabdiannya tanpa pamrih demi kejayaan Islam, seolah-olah ia hendak menebus segala kesalahan dan dosa yang diperbuatnya pada masa jahiliyah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sangat dekat dengan Rasulullah SAW, sampai Rasul bersabda :” Andaikata masih ada Nabi sesudahku, Umar lah orangnya”. Rasul memberikan gelar untuk Umar dengan gelar al-Faruq (Pembeda/pemisah). Artinya adalah Allah SWT telah memisahkan dalam dirinya antara yang hak dan yang bathil. Hanya Umar yang berani mengemukakan pendapatnya dihadapan Nabi SAW, bahkan ia tidak segan menyampaikan kritik untuk kebaikan dan kemaslahatan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan ketika ia bersama Nabi SAW di dekat Ka’Bah, Nabi SAW menunjukkan kepadanya maqom Ibrahim. Seketika Umar bertanya apakah disitu boleh mendirikan Shalat? Nabi SAW menjawab bahwa hal itu belum diperintahkan. Lalu hari itu juga turun wahyu yang membolehkan Shalat di maqom Ibrahim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat lain Umar mengusulkan kepada Nabi SAW agar memerintahkan kepada Isteri-Isterinya untuk memakai tirai, maksudnya agar berbicara dengan tamu-tamunya dari belakang hijab, sebab menurut Umar, yang berbicara dengan mereka bukan saja orang baik-baik melainkan juga ada orang jahat. Tak lama kemudian turunkah ayat tentang hijab yang membenarkan pendapat tentang Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya yang jauh ke depan, keluwesan dan keadilannya, membuat orang senang menerima pendapatnya. Hal ini terlihat pada hari wafatnya Rasulullah SAW, terjadi saat itu juga perselisihan antara kaum Anshar dan Kaum Muhajirin di Saqifah, malah kaum Anshar telah membaiat khalifah pengganti Rasulullah SAW. Umar dengan tangkasnya melerai perselisihan, yang berahir dengan pengangkatan Abu Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah orang pertama yang mencetuskan pengumpulan Ayat Al-Quran pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Sebagai Khalifah beliau terkenal dengan sangat adil dalam menjalankan pemerintahannya, memperlakukan sama terhadap seluruh lapisan masyarakat. Pernah seorang gubernur Mesir dadili dan ternyata dinyatakan bersalah, maka ia menghukumnya dengan cara menyuruh penduduk yang teraniaya membalasnya sesuai dengan perlakuan yang diterimanya. Ia berkeliling mengamati keadaan rakyatnya, khawatir ada yang ditimpa kesulitan dan kelaparan. Tak segan dengan memberikan bantuan langsung, bahkan mengangkat sendiri bahan makanan yang akan dibagikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam pemerintahan dia melakukan pembaruan dengan membentuk dan memisahkan kekuasaan-kekuasaan pemerintahan. Didalam Fiqih beliau banyak melakukan Ijtihaj. Yang sekarang masih ada kenangan dari beliau adalah Kalender Hijrah, yang merupakan salah satu ijtihajnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragis memang beliau akhirnya, ketika beliau berhasil dalam mengibarkan panji-panji Islam, mengundang iri dan dengki musuh-musuhnya, akhirnya ketika beliau bersiap memulai Shalat Subuh, Umar Bin Khatab ditikam oleh Abu Lu’luih, yang mengakibatkan berpulangnya beliau kembali ke Rakhmatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah dan istrinya Khadijah sedang mendirikan Shalat, seketika Ali bin Abu Talib menyeruak masuk. Dilihatnya orang sedang Ruku, Sujud, serta membaca beberapa ayat AlQuran. Anak itu tertegun berdiri :” Kepada siapa kalian bersujud?” tanyanya setelah mereka selesai Shalat. “ Kami bersujud kepada Allah” Jawab Rasulullah “ Yang mengutusku menjadi nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abu Talib adalah anak pertama yaitu sepupu Rasululllah yang memeluk agama Islam, setelah terpesona mendengarkan ayat suci AlQuran. Sempat semalaman gelisah, dan akhirnya memutuskan untuk menuruti ajakan Rasulullah dengan mengatakan “ Tuhan menjadikan aku tanpa harus berunding dengan Abu Talib (ayahnya), Apa gunanya aku harus berunding dengan dia untuk menyembah Allah?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abubakar bin Abi Quhafa dari kabilah Taim adala teman akrab Rasulullah SAW, Orang dewasa yang pertama kali diajak menyembah Allah dan meninggalkan berhala adalah dia. Juga dia adalah laki-laki pertama yang merupakan tempat dia membukakan isi hatinya akan segala yang dilihat serta wahyu yang diterimanya. Jiwa yang mana yang disebut berjiwa besar disamping menyembah Allah masih mau menyembah berhala?. Jiwa yang mana lagi yang bersih masih ragu-ragu membersihkan pakaian dan jiwanya, berderma kepada orang yang membutuhkan dan berbuat kebaikan kepada piatu?. Dia seorang yang rupawan, menjadi kesayangan masyarakat dan amikal sekali, termasuk keturunan yang tinggi, sebagai pedagang berakhlak baik. Ia cukup terkenal, baik dari ilmunya, berdagangnya dan pergaulannya yang baik. Melalui Abubakar diajaknya Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talha bin Ubaidillah, Said bin Abi Waqqash, dan banyak lagi yang memeluk agama Islam, datang kepada Nabi dan menerima ajaran Islam dari Nabi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah yang menyatakan beriman, setelah masuk Islam, dan berjanji akan membela dan berkurban di jalan Allah. Ketika itu orang yang cukup disegani, kuat dan gemar berburu dan merupakan saudara sesusuan Rasul, dimana masih memeluk agama bangsa Quraisy, melihat Rasul dicaci, dan menghina dengan kata-kata yang tidak pantas dari Abu Jahl, tapi Rasul tidak melayaninya. Dia marah sekali, lalu menemui Abu Jahl, dan mengangkat busur panah dan dipukulkan sekeras-kerasnya, tanpa ada orang yang berani turut campur. Justru dengan melihat prilaku Rasul beliau memasuki Agama yang lurus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khatab, ketika itu berusia 30-35 tahun, sebagai pemuda temperamental, kuat, tegap, kesenangannya berfoya-foya, minum minuman keras. Akan tetapi kepada keluarganya sangat lembut dan bijaksana. Setelah mengetahuinya beberapa saudaranya Hijrah ke Abisina, untuk menghindari gangguan kaum Quraisy, dia merasa kesepian, sedih berpisah dengan mereka. Timbullah niatnya untuk membunuh Rasul, dengan pikiran bahwa kalau Rasul terbunuh, mereka tidak akan berpisah lagi dengan keluarganya. Ketika Rasul dan beberapa orang yang tidak ikut hijrah berkumpul, diketahui oleh Umar, iapun pergi ketempat mereka. Ditengah jalan dia bertemu dengan Nuiim b. Abdullah, setelah mengetahui maksud Umar, Nuaim berkata : “ Umar, engkau menipu diri sendiri. Kau kira keluarga Ibd Manaf akan membiarkan merajalela begini sesudah engkau membunuh Muhammad?, Tidak lebih baik kau pulang saja kerumah dan perbaiki keluargamu sendiri?”. Karena pada waktu itu saudara perempuannya Fatimah, beserta Said bin Zaid suaminya telah masuk Islam. Cepat Umar pulang kerumah dan menemui mereka, ditempat itu ia mendengar ada orang yang membaca AlQuran, setelah merasa ada yang mendekati, yang membaca itu bersembunyi dan Fatimah menyembunyikan Kitabnya. “ Aku mendengar suara bisik-bisik, apa itu?” Tanya Umar. Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara lantang: “ Aku mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad, dan menganut agamanya!”, katanya sambil menghantam Sakd sekeras-kerasnya, ketika Fatimah melindungi suaminya, fatimah pun kena hantaman, kedua suami istri itu menjadi panas dan berkata : “ Ya, kami sudah Islam!, Sekarang lakukan apa saja”, kata mereka. Tetapi Umar malah gelisah, melihat darah dimuka saudaranya itu, timbul rasa iba dan menyesal. Dimintanya kitab itu dari saudaranya, setelah dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah, Menggetar rasa nya , ada seruan yang begitu luhur. Ia keluar dengan hati yang menjadi bijaksana, tenang lembut, dan menemui Rasul yang sedang berkumpul di Shafa. Ia minta izin masuk, dan menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan masuknya Hamzah dan Umar, memperkuat benteng pertahanan Islam ketika itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-901166488412175501?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/901166488412175501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/11/umar-bin-khatab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/901166488412175501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/901166488412175501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/11/umar-bin-khatab.html' title='Umar bin Khatab'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-5099381201711315221</id><published>2011-11-14T19:43:00.000-08:00</published><updated>2011-11-14T19:43:51.284-08:00</updated><title type='text'>Bilal bin Rabah</title><content type='html'>Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati, begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai ganjarannya, Bilal di siksa dengan berbagai cara. Sampai datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan sejumlah Wang tebusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk orang yang&lt;br /&gt;pilih tanding dalam mempertahankan agamanya. Zurr bin Hubaisy, suatu ketika berkata, orang yang pertama kali menampak-kan keislamannya adalah Rasulullah. Kemudian setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Allah tentunya, Rasulullah dilindungi oleh paman beliau. Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan, budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan walin-ya, itu lebih cukup dari segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan. Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan. Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, "Ahad, ahad," puluhan kali dari bibirnya&lt;br /&gt;yang mengeluarkan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang membukti-kan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai di sisi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menjadikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. "Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu dan shalat sunnah dua rakaat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, dengan itu kamu mendahului aku," kata Rasulullah membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah. Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan merasa lebih suci&lt;br /&gt;ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak belian dari Habasya, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan diantara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-5099381201711315221?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/5099381201711315221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/11/bilal-bin-rabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5099381201711315221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5099381201711315221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/11/bilal-bin-rabah.html' title='Bilal bin Rabah'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-5020964059252400774</id><published>2011-10-25T03:46:00.000-07:00</published><updated>2011-10-25T03:46:33.329-07:00</updated><title type='text'>Hudzaifah Bin Yaman</title><content type='html'>Sahabat tokoh penaklukan ini banyak memegang rahasia-rahasia Nabi. Khalifah Umar bin Khattab ra. mengangkatnya menjadi pemerinah di Madain. Pada tahun 642 M, dia berhasil mengalahkan pasukan Persia dalam perang Nahawand, kemudian dia mengikuti perang penaklukan Jazirah Arab dan akhirnya meninggal di kota Madain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan jika engkau ingin digolongkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kalimat yang diucapkan Rasulullah kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, ketika bertemu pertama kali di Mekah. Mengenai pilihan itu, apakah beliau tergolong Muhajirin atau Anshar ada kisah tersendiri bagi Hudzaifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Yaman, ayah Hudzaifah, adalah orang Mekah dari Bani Abbas. Karena sebuah utang darah dalam kaumnya, dia terpaksa menyingkir dari Mekah ke Yastrib (Madinah). Di sana dia meminta perlindungan kepada Bani Abd Asyhal dan bersumpah setia pada mereka untuk menjadi keluarga dalam persukuan Bani Abd Asyhal. Ia kemudian menikah dengan anak perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu, lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka, hilanglah halangan yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Mekah. Sejak itu dia bebas pulang pergi antara Mekah dan Madinah. Meski demikian, dia lebih banyak tinggal dan menetap di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Islam memancarkan cahanya ke seluruh Jazirah Arab, Al-Yaman termasuk salah seorang dari sepuluh orang Bani Abbas yang berkeinginan menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Ini semua terjadi sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu garis keturunan bapak (patriach), maka Hudzaifah adalah orang Mekah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama. Karena itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan Hudzaifah hendak bertemu dengan Rasulullah memenuhi setiap rongga hatinya. Sejak masuk Islam, dia senantiasa menunggu-nunggu berita, dan nyinyir bertanya tentang kepribadian dan ciri-ciri beliau. Bila hal itu dijelaskan orang kepadanya, makin bertambah cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari dia berangkat ke Mekah sengaja hendak menemui Rasulullah. Setelah bertemu, Hudzaifah bertanya kepada beliau, “Apakah saya ini seorang Muhajir atau Anshar, ya Rasulullah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Rasulullah, “Jika engkau ingin disebut Muhajir engkau memang seorang muhajir dan jika engkau ingin disebut Anshar, engkau memang orang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah menjawab, “Aku memilih Anshar, ya Rasulullah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar. Mengapa dia tidak ikut dalam Perang Badar? Soal ini pernah diceritakan oleh Hudzaifah. Ia berkata, “Yang menghalangiku untuk turut berperang dalam peperangan Badar karena saat itu aku dan bapakku sedang pergi keluar Madinah. Dalam perjalanan pulang, kami ditangkap oleh kaum kafir Quraisy seraya bertanya, “Hendak ke mana kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, “Ke Madinah!”&lt;br /&gt;Mereka bertanya, “Kalian hendak menemui Muhammad?”&lt;br /&gt;“Kami hendak pulang ke rumah kami di Madinah,” jawab kami.&lt;br /&gt;Mereka tidak bersedia membebaskan kami, kecuali dengan perjanjian bahwa kami tidak akan membantu Muhammad, dan tidak akan memerangi mereka. Sesudah itu barulah kami dibebaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan Rasulullah , kami menceritakan kepada beliau peristiwa tertangkapnya kami oleh kaum kafir Quraisy dan perjanjian dengan mereka. Lalu, kami bertanya kepada beliau tentang apa yang harus kami lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menjawab, “Batalkan perjanjian itu, dan marilah kita mohon pertolongan Allah untuk mengalahkan mereka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Perang Uhud, Hudzaifah ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kisahnya, pada hari terjadinya Perang Uhud, Rasulullah menugaskan Al-Yaman (ayah Hudzaifah) dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat para wanita dan anak-anak, karena keduanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan sengit, Al-Yaman berkata kepada temannya, “Bagaimana pendapatmu, apalagi yang harus kita tunggu. Umur kita tinggal seperti lamanya kita menunggu keledai minum dengan puas. Kita mungkin saja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik bila kita ambil pedang, lalu menyerbu ke tengah-tengah musuh membantu Rasulullah. Mudah-mudahan Allah memberi kita rezeki menjadi syuhada bersama-sama dengan nabi-Nya.” Keduanya lalu mengambil pedangnya dan terjun ke medan pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsabit bin Waqsy memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dia syahid di tangan kaum musyrikin. Tetapi, Al-Yaman menjadi sasaran pedang kaum muslimin sendiri, karena mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah berteriak, “Itu bapakku …! Itu bapakku …!” Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya, sehingga bapaknya jatuh tersungkur oleh pedang teman-temannya sendiri. Hudzaifah tidak berkata apa-apa, kecuali hanya berdoa kepada Allah, “Semoga Allah Taala mengampuni kalian, Dia Maha Pengasih dari yang paling pengasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) bapak Hudzaifah kepada anaknya, Hudzaifah. Hudzaifah berkata, “Bapakku menginginkan supaya dia mati syahid. Keinginannya itu kini telah dicapainya. Wahai Allah! Saksikanlah, sesungguhnya aku menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan pernyataannya itu, penghargaan Rasulullah terhadap Hudzaifah bertambah tinggi dan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi salah satu kebijaksanaan Rasulullah, berusaha menyingkap keistimewaan para sahabatnya dan menyalurkannya sesuai dengan bakat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yakni, menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang selalu dilancarkan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabat. Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja. Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena inilah, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan Shaahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya, dan membutuhkan keterampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah, beliau memilih orang yang cerdas, tanggap, dan berdisiplin tinggi. Peristiwa itu terjadi pada puncak peperangan Khandaq. Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh, sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tidak tertangguhkan, serta kesulitan-kesulitan yang tidak teratasi. Semakin hari situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati yang lemah. Bahkan, menjadikan sementara kaum muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menentukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik tidak lebih baik keadaannya daripada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, Allah menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah meniupkan angin topan yang amat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk, kuali, dan belanga, memadamkan api, menyiramkan muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih dahulu mengeluh dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan informasi secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan dalam mengambil putusan melalui musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah Rasulullah membutuhkan keterampilan Hudzaifah Ibnul Yaman untuk mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka, beliau memutuskan untuk mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat. Marilah kita dengarkan dia bercerita, bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah berkata, “Malam itu kami (tentara muslimin) duduk berbaris, Abu Sufyan dengan dua baris pasukannya kaum musyrikin Mekah mengepung kami sebelah atas. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berada di sebelah bawah. Yang kami khawatirkan ialah serangan mereka terhadap para wanita dan anak-anak kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari sendiri. Angin bertiup sangat kencang, sehingga desirannya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin pulang kepada Rasulullah, dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal, sebenarnya rumah mereka terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang minta izin pulang diberi izin oleh Rasulullah, tidak ada yang dilarang atau ditahan beliau. Semuanya keluar dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap bertahan hanya tinggal 300 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah berdiri dan berjalan memeriksa kami satu per satu. Setelah beliau sampai di dekatku, aku sedang meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusuk-nusuk, selain sehelai sarung butut kepunyaan istriku, yang hanya dapat menutupi hingga lutut. Beliau mendekatiku yang sedang menggigil, seraya bertanya, “siapa ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hudzaifah!” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hudzaifah!” tanya Rasulullah minta kepastian. “Aku merapat ke tanah, sulit berdiri karena sangat lapar dan dingin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, ya Rasulullah!” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera …!” kata beliau memerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun dengan ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, “Wahai Allah! lindungilah dia, dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah! Sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa. Tatkala aku memalingkan diriku dari Rasulullah, beliau memanggilku dan berkata, “Hai, Hudzaifah! sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabku, “Saya siap, ya Rasulullah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, aku pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Aku berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah aku anggota pasukan mereka. Belum lama aku berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata, “Hai, pasukan Quraisy! dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Abu Sufyan, aku segera memegang tangan orang yang di sampingku seraya bertanya, “Siapa kamu?” Jawabnya, “Aku si Anu, anak si Anu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai, pasukan Quraisy! demi Tuhan! Sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke pos komando menemui Rasulullah. Kudapati beliau sedang salat di tikar kulit, milik salah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu, kulaporkan kepada beliau segala kejadian yang kulihat dan kudengar. Beliau sangat senang dan bersuka hati, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekalipun yang mencoba mengorek rahasia tetap ia tidak mau membocorkannya. Sampai-sampai khalifah Umar bin Khathtab r.a. ada orang muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu ?” Jika mereka menjawab, “Ada,” beliau turut menyalatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik,”Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Hudzaifah,”Ada seorang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong tunjukkan kepadaku siapa?” kata Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah menjawab, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya kautunjukkan, tentu Khalifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan,” kata Hudzaifah bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum muslimin dari genggaman kekuasaan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushhaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum muslimin. Dan Hudzaifah, hamba Allah yang sangat takut kepada Allah, dan sangat takut akan siksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,”Pukul berapa sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, “Sudah dekat Subuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bertanya kembali, “Adakah tuan-tuan membawa kafan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, “Ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah berkata, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan, jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.” Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, “Wahai Allah! sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah berdoa rohnya berangkat. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-5020964059252400774?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/5020964059252400774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/10/hudzaifah-bin-yaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5020964059252400774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5020964059252400774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/10/hudzaifah-bin-yaman.html' title='Hudzaifah Bin Yaman'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-6584736771043359665</id><published>2011-10-25T03:45:00.000-07:00</published><updated>2011-11-14T19:52:05.639-08:00</updated><title type='text'>A’isyah Binti Abu Bakr</title><content type='html'>Dialah ‘Aisyah binti Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah x. Dia seorang wanita yang cantik dan berkulit putih sehingga mendapat sebutan al-Humaira’. Ibunya bernama Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir bin ‘Abdi Syams bin ‘Attab bin Udzainah al-Kinaniyyah. Dia lahir ketika cahaya Islam telah memancar, sekitar delapan tahun sebelum hijrah. Dihabiskan masa kanak-kanaknya dalam asuhan sang ayah, , seorang sahabat yang mulia, Abu Bakr ash-Shiddiq z. kekasih Rasulullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tuntas masa kanak-kanaknya ketika datang pinangan Rasulullah melaksanakan akad pernikahan Usianya baru menginjak enam tahun saat Rasulullah&amp;nbsp; kepada Rasulullah&amp;nbsp; dengannya. Wanita mulia yang diperlihatkan oleh Allah dalam wahyu berupa mimpi untuk memberitakan bahwa dia kelak akan menjadi istri beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaluinya hari-hari setelah itu di tengah keluarganya hingga menjemputnya –tiga tahun kemudian, seusai beliau tiba saatnya Rasulullah kembali dari pertempuran Badr – untuk memasuki rumah tangga yang dipenuhi cahaya nubuwwah di Madinah. Tidak satu pun di antara istri-istri beliau yang dinikahi dalam keadaan masih gadis kecuali ‘Aisyah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita yang mulia, di tengah kefakiran dan rasa lapar, hingga terkadang sabar bersama Rasulullah hari-hari yang panjang berlalu tanpa nyala api untuk memasak makanan apa pun. Yang ada hanyalah kurma dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang istri yang menyenangkan suaminya yang mulia, menggiring kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan segala kepayahan dalam menjalani kehidupan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberikan banyak keutamaan baginya, di antaranya dengan Allah . Kecintaan yang tak tersamarkan, tatkala meraih kecintaan Rasulullah menyatakan hal itu dari lisannya yang mulia, hingga para sahabat Rasulullah dalam hal ini. Siapa pun yang ingin pun berusaha mendapatkan ridha Rasulullah memberikan hadiah kepada beliau biasa menangguhkannya hingga tiba saatnya berada di tempat ‘Aisyah. Di sisi lain, ada istri-istri Rasulullah Rasulullah , wanita-wanita mulia yang tak lepas dari tabiat mereka sebagai wanita. Tak urung kecemburuan pun merebak di kalangan mereka sehingga mereka mengutus Ummu agar mengatakan kepada manusia, Salamah untuk menyampaikan kepada Rasulullah siapa pun yang ingin memberikan hadiah, hendaknya memberikannya di mana pun beliau berada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah x pun mengungkapkan hal itu saat beliau berada di sisinya, namun beliau tidak menjawab sepatah kata pun. datang kepadanya, dan beliau Diulanginya permintaan itu setiap kali Rasulullah pun tetap tidak memberikan jawaban. Pada kali yang ketiga Ummu Salamah x mengatakannya, beliau menjawab, “Janganlah engkau menggangguku dalam permasalahan ‘Aisyah, karena sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu dalam keadaan diriku di dalam selimut salah seorang pun dari kalian kecuali ‘Aisyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Dari kemuliaan demi kemuliaan diraihnya dari sisi Allah menurunkan ayat-ayat-Nya. Suatu banyak peristiwa yang dialaminya, Allah . Rombongan itu pun singgah ketika, ‘Aisyah turut dalam perjalanan Rasulullah di suatu tempat. Tiba-tiba ‘Aisyah&amp;nbsp; merasa kalungnya hilang, sementara kalung itu dipinjamnya dari Asma’, kakaknya&lt;br /&gt;pun memerintahkan Rasulullah para sahabat yang turut dalam rombongan itu untuk mencarinya. Terus berlangsung pencarian itu hingga masuk waktu shalat. Akan tetapi ternyata tak ada air di tempat itu sehingga para sahabat pun shalat tanpa wudhu’. Tatkala bertemu dengan , mereka mengeluhkan hal ini kepada beliau. Saat itulah Allah kepada rasullullah menurunkan ayat-Nya tentang tayammum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kejadian ini, Usaid bin Hudhair z mengatakan kepada ‘Aisyah, “Semoga Allah memberikan balasan kepadamu berupa kebaikan. Demi Allah, tidak pernah sama sekali terjadi sesuatu padamu kecuali Allah jadikan jalan keluar bagimu dari permasalahan itu, dan Allah jadikan barakah di dalamnya bagi seluruh kaum muslimin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu peristiwa menyatakan kesucian dirinya. penting tercatat dalam kehidupan ‘Aisyah. Allah dari pertempuran Bani Musthaliq yang Berawal dari kepulangan Rasulullah ‘Aisyah&amp;nbsp; turut dalam rombongan itu. Di tengah perjalanan, ketika rombongan tengah beristirahat, ‘Aisyah&amp;nbsp; pergi untuk menunaikan hajatnya. Namun ia kehilangan kalungnya sehingga kembali lagi untuk mencarinya. Berangkatlah rombongan dan ‘Aisyah tertinggal tanpa disadari oleh seorang pun. ‘Aisyah menunggu di tempatnya semula dengan harapan rombongan itu kembali hingga ia tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu muncullah Shafwan ibnul Mu’atthal z yang tertinggal . Melihat ‘Aisyah, dia pun ber?dari rombongan Rasulullah istirja’1 dan ‘Aisyah terbangun mendengar ucapannya. Tanpa mengatakan sesuatu pun dia persilakan ‘Aisyah&amp;nbsp; untuk naik kendaraannya dan dituntunnya hingga bertemu dengan rombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum munafikin yang ditokohi oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul menghembuskan berita bohong tentang ‘Aisyah x. Berita itu terus , sedang ‘Aisyah?beredar dan mengguncangkan kaum muslimin, termasuk Rasulullah sendiri tidak mendengarnya karena dia langsung jatuh sakit selama sebulan setelah kepulangan itu. Hanya saja ia merasa heran karena tidak menemukan selama sakitnya sebagaimana biasa bila dia?sentuhan kelembutan Rasulullah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya berita bohong itu pun sampai kepada ‘Aisyah melalui Ummu Misthah . ‘Aisyah pun menangis sejadi-jadinya dan meminta izin kepada untuk tinggal sementara waktu dengan orang tuanya. Beliau pun?Rasulullah mengizinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, wahyu yang memutuskan perkara ini belum juga meminta pendapat ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin turun sehingga Rasulullah Zaid&amp;nbsp; dalam urusan ini. Beliau pun menemui ‘Aisyah , mengharap kejelasan dari peristiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di puncak kegalauan itu, dari atas langit Allah menurunkan ayat-ayatnya yang membebaskan ‘Aisyah&amp;nbsp; dari segala tuduhan yang disebarkan oleh orang-orang munafik. ‘Aisyah , wanita mulia yang mendapatkan dari atas langit. pembebasan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melukiskan keadaannya pada waktu itu, “Demi Allah, saat itu aku tahu bahwa diriku terbebas dari segala tuduhan itu dan Allah akan membebaskan aku darinya. Namun, demi Allah, aku tidak pernah menyangka Allah akan menurunkan wahyu yang dibaca dalam permasalahanku, dan aku merasa terlalu rendah untuk dibicarakan Allah di dalam ayat yang dibaca. akan melihat mimpi yang dengannya Allah?Aku hanya berharap, Rasulullah membebaskan diriku dari tuduhan itu.” Ayat-ayat itu terus terbaca oleh seluruh kaum muslimin hingga hari kiamat di dalam Surat an-Nuur ayat 11 beserta sembilan ayat berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita mulia ini menjalani hari-harinya bersama . Delapan hingga tiba saatnya beliau kembali ke hadapan Allah ?Rasulullah wafat di atas pangkuannya setelah belas tahun usianya, saat Rasulullah hari-hari terakhir selama sakit beliau memilih untuk dirawat di tempatnya. Beliau pun dikuburkan di kamar ‘Aisyah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal beliau, ‘Aisyah&amp;nbsp; menyebarkan ilmu yang dia dapatkan dalam rumah tangga nubuwah. Riwayatnya banyak diambil oleh para sahabat yang lain dan tercatat dalam kitab-kitab. Dia menjadi seorang pengajar bagi seluruh kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan dari sisi Allah menyatakan, “Keutamaan ‘Aisyah atasnya banyak dimilikinya, hingga Rasulullah seluruh wanita bagaikan keutamaan tsarid2 atas seluruh makanan.” Bahkan, menyampaikan salam padanya melalui Rasulullah Jibril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba waktunya ‘Aisyah&amp;nbsp; kembali kepada Rabb-Nya. Wanita mulia ini wafat pada tahun 57 Hijriah dan dikuburkan di pekuburan Baqi’. Ilmunya, kisah hidupnya, keharumannya namanya tak pernah sirna dari goresan tinta para penuntut ilmu. Semoga Allah meridhainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-6584736771043359665?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/6584736771043359665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/10/aisyah-bintu-abu-bakr.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/6584736771043359665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/6584736771043359665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/10/aisyah-bintu-abu-bakr.html' title='A’isyah Binti Abu Bakr'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-1826295350188520113</id><published>2011-10-25T03:43:00.000-07:00</published><updated>2011-10-25T03:43:51.823-07:00</updated><title type='text'>Abbas bin Abdul Muththalib</title><content type='html'>"Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang". (Q.,s. al-Anfaal : 7) Menurut beberapa orang ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib, Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku." Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai'at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pemah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan, maka iapun menepati nazamya itu Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibu Si Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan haji wada'-nya. Ia meninggal dunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut ; yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Ia pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma'bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan murah hati meninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli sejarah berbeda keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katamya, ia memberitakan kegiatan kaum musyrikin kepada Nabi di Madinah, dan kaum muslimin yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah menyatakan, "Kau lebih baik tinggal di Mekah ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi', pembantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selalu menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Ka'bah. Ka'ab bin Malik mengutarakan, "Kami (saya dan al-Barra' bin Ma'rur) mencari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah. Ia balik bertanya, 'Apakah kalian berdua mengenalnya?' Kami menjawab, 'Tidak!'. Ia lalu bertanya, 'Kalian mengenal Abbas bin Abdul Muththalib, pamannya?'&lt;br /&gt;Kami menjawab, 'Ya!' Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan. Orang tadi lalu berkata, 'Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di sebelahnya".&lt;br /&gt;Abbas radhiallahu 'anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam baiat al-Aqabah. Ia orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata "Wahai kaum Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya. Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, rembukkanlah antara kalian dengan mufakat dan sepakat bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka. Ia lalu berkata lagi, "Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?". Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, "Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, "Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, lengkap," jawab mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah bersabda, "Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam., janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah, yang berucap dengan lantang, "Kami membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan Abbas? Demi Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam., lalu beliau berkata kepada Umar ibnul Khaththab, "Ya Aba Hafsah,ada juga orang yang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik," ucap Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Rasulullah tidak membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternayta, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataanya, "Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah kaku yucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!" Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang Yamamah.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Abbas pergi berhijarah ke Medinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.telah membemberikan sebidang tanah kepadanya berdekatan dengan tempat kediamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Madinah terjadi pertengkaran antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliah, di mana orang itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas terjadi berualng-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang itu tidak senang hati, mereka siap-siap akan menuntut balas. Mereka berkata, "Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara kami!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman mereka itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam , lalu beliau mengumpulkan kaum muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah Subhanahu wata'ala dan bersabda, "Wahai para hadirin, tahukah kalian, siapa orang yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wata'ala?" "Engkau, ya Rasulullah!" jawab hadirin. "Tahukah kalian bahwa Abbas itu dariku dan aku darinya? Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup." Kabilah orang itu datang mengahadap Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah, kami mohon perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tersebut menguatkan keterangan Abu Majas radhiallahu 'anhu. tentang sabdanya, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakitinya sama dengan menyakitiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan bermohon dengan penuh harap, "Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan; ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. Ia menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian, "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan." Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam., tetapi malah Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, "Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya ,"Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia tidak diberi kesemopatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, "Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Menjawab, "Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.menuiakan risalah Alalh Subhanahu wata'ala dengan baik, manyampaikan agamaNya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke rahmatullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu. Abbas hidup terhormat di bawah pemerintrahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan Umar ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali Khalifah hendak ke masjid ia selalu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu menumpahkan airnya dan mengenai pakaian Umat. Ia kembali pulang untuk mengganti pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dibuka. Sesudah beliau selesai shalat, datanglah Abbas seraya berkata, "Demi Allah, pancuran itu diletakkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar menjawab, "Aku mohon kepadamu supaya engkau memasang kembali pancuran itu di tempat yang diletakkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dengan menaiki pundakku." Abbas menerima baik harapan Umar untuk memperbaiki kesalahannya itu.Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Nabawi di Madinah kian hari kian menjadi kecil karena bilangan kaum muslimin dari hari ke hari makin bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengna membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdullah Muththalib. Apa mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima harga ganti ruginya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar datang menemuinya seraya berkata, "Ya Abal Fadhal, engkau lihat, masjid sudah sempit sekali karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada disekitarnya untuk memperbesar bangunan masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mu'minin yang belum. Kalau kamar-akmar Ummuhatul Mu'minin rasanya tidak mungkin kami membeli dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid."&lt;br /&gt;Abbas menjawab, "Aku tidak mau." Umar berkata; "Pilihlah satu diantara tiga: engkau menjual berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan lain yang akan aku bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang engkau kehendaki, atau engkau berikan sebagai sedekah kepada muslimin untuk meluaskan masjid mereka."&lt;br /&gt;Abbas berkeras, "Aku tidak mau terima semaunya."Umar berharap, "Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.'Abbas menjawab, "Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka'ab." Keduanya pergi menemui Ubai bin Ka'ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubai berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Allah Subhanahu wata'ala pernah mewahyukan kepada Nabi Daud, 'Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.' Nabi Daud lalu merencanakan pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu mengenai rumah seorang Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan paksa. Allah Subhanahu wata'ala lalu mewahyukan kepadanya, 'Hai Daud, aku menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku pemaksaan itu bukan watak-Ku. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah membangunnya!' Nabi Daud menjawab, 'Ya Allah, aku lakukan pada anakku!' Allah berfirman lagi, 'Siapa anakmu?""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khafilah Umar tidak bisa lagi menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka'ab dan menggiringnya ke masjid seraya berkata, "Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum muslimin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membawanya ke tengah-tengah halaqah yang diselenggarakan shahabat Rasulullah di masjid Nabawi, dimana antara lain terdapat Abu Dzar radhiallahu 'anhu.Umar lalu berkata kepada para hadirin, "Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang mendengarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.berbicara tentang Baitul Maqdis, ketika Alalh memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan rumah-Nya tempat orang menyebut-nyebut namaNya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar radhiallahu 'anhu menjawab' "Ya, saya mendengar!" Disambut oleh yang lain, "Ya, saya juga mendengar!" Dari sudut sana ada pula yang menyambung, "Saya juga mendengar!" Khalifah Umar radhiallahu 'anhu lalu berkata kepada Abbas radhiallahu 'anhu, "pergilah! Aku tidak akan menuntutmu membongkar rumahmu." Abbas radhiallahu 'anhu berkata, "Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan untuk kepentingan kaum muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi, kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan mengalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Khalifah Umar radhiallahu 'anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi, apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. Ia harus tunduk dan menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar berjuang demi kesehjahteraan kaum muslimin, maka ia pun memutuskan untuk menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum muslimin.&lt;br /&gt;Demikian tokoh-tokoh model "sekolah Rasulullah" dan "sekolah Al-Qur'anul Karim" radhiallahu 'anhum ajma'in. Mereka angkatan kaum muslimin yang pertama, yang telah membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, yang telah membangkitkan peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju dan mengenali peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada muslimin yang berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka'ab masuk menemui Khalifah Umar seraya mengutrarakan, "Ya Amirul Mukminin, biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar berakta, "Ini dia paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan bani Hasyim." Khalifah Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu, kemudian ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, "Ya Allah, kami menghadapkan diri kepadaMu bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah Subhanahu wata'ala, "Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu yang tidak bicara, atas nama hewan ternak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan berputus asa dengan rahmat karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata doanya itu langsung diterima dan disambut Allah Subhanahu wata'ala. Hujan lebat turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah Subhanahu wata'ala dan mengucapkan selamat kepada Abbas, "Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Mekah dan Madinah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas hidup terhormat, baik oleh kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun dari kendaraannya, seraya berkata, "Paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi sunnatullah, setiap permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian pula dengan Abbas radhiallahu 'anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali ke rahmatullah menyusul keponakkannya Shallallahu 'alaihi wasallam dan rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam usia 82 tahun, dan dikebumikan di al-Baqi' di Madinah, rahimullah wa radhiallahu'anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Turunya Ayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Perang Badar yang berkecamuk antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Abbas berhasil ditawan oleh Abul Yusr, Ka'ab bin Amru, yang menurut Ahli sejarah kedua tangannya kurus dan perawakannya juga lemah, sedangkan Abbas seorang yang tinggi besar. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bertanya keheranan, "Ya Abal Yusr, bagaimana kau bisa menawan Abbas?"&lt;br /&gt;"Ya Rasulullah, aku dibantu oleh seorang yang belum pernah kulihat sebelum dan sesudah itu (lalu ia mengutarakan ciri-ciri dan perawakan orang itu)," jawab Abul Yusr.&lt;br /&gt;"Kau dibantu oleh seorang malaikat yang pemurah," sabda Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abbas jatuh sebagai tawanan, pertanyaan pertama yang terlontar adalah tentang keadaan Muhammad kepada yang menawannya, "Bagaimana keadaan Muhammad dalam peperangan ini?"&lt;br /&gt;"Allah memuliakan dan menenangkannya," jawabnya."Segala sesuatu selain Allah rusak. Kini, apa maumu?" tanya Abbas"Rasulullah melarang kami membunuhmu," jawabnya."Itu bukan kebaikannya yang pertama." Abbas diborgol dan dikumpulkan bersama tawanan perang lainya. Kiranya, ikatannya terlalu keras sehingga ia merintih kesakitan. Ternyata rintihan itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya. Berapa orang shahabat yang melihatnya belum tidur, menegurnya, "Wahai Nabi Allah, sudah jauh malam, engkau belum tidur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mendengar riuntihan Abbas," jawab Nabi.&lt;br /&gt;Orang itu lalu pergi melonggarkan ikatannya, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.bertanya lagi, "Mengapa sekarang aku tidak mendengarkan rintihannya?"&lt;br /&gt;"Aku longgarkan ikatannya, ya Rasulullah," jawab shahabat"Lakukanlah juga terhadap semua tawanan lainnya," perintah Nabi.&lt;br /&gt;Pagi harinya, semua tawanan dihadapkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Akhirnya, sampai giliran Abbas. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ya Abbas, tebuslah dirimu dan keponakanmu aqil bin Abi Thalib, Naufal bin al-Harits, dan teman karibmu Utbah bin Amru bin Jahdam karena engkau seorang kaya."&lt;br /&gt;"Ya Rasulullah, saya ini seorang Muslim, tetapi saya dipaksa ikut berperang oleh mereka," ucap Abbas. "Allah saja yang Maha Tahu dengan keislamanmu itu: kalau pengakuanmu itu benar, Allah akan mengganjarmu, namun aku melihatmu dari segi lahirmu maka bayarlah tebusanmu itu."&lt;br /&gt;'Aku tidak mempunyai uang, ya Rasulullah."&lt;br /&gt;"Mana uang yang kau simpan pada Ummul Fadhal, isterimu, ketika kau hendak keluar ikut berperang, lalu pesanmu kepadanya, 'Kalau aku tewas dalam peperangan, uang itu dibagi-bagikan antara kau, Fadhal, Abdullah, Ubaidullah, dan Qatsam.'?" tanya Rasulullah.&lt;br /&gt;"Dari mana kau tahu ini padahal aku tidak pernah memberitahukan hal itu kepada siapa pun?" tanya Abbas keheranan.&lt;br /&gt;"Allah Subhanahu wata'ala Yang memberitahukan rahasiamu itu," jawab Nabi. "Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau benar-benar rasul Allah, bahwa kau seorang yang jujur."&lt;br /&gt;Pada saat itu, turunlah firman Allah Subhanahu wata'ala. "Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu:"Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu". Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.,S. al-Anfal: 70)&lt;br /&gt;Abbas berkomentar, "Allah berkenan menepati janji-Nya kepadaku, memberikan kebaikan lebih dari apa yang diambil: 20 uqiyah diganti dengan 20 orang budak. Kini, aku sedang menantikan pengampun-Nya. Aku diberi kuasa mengurus air zamzam dan aku bisa merasa bangga lebih dari itu, meskipun aku memiliki semua harta penduduk kota Mekkah. Kini, aku sedang menantikan pengampunan-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, darimana ia memiliki harta bila membeli dua puluh orang budak dan tiap budak memiliki modal edar yang diperdagangkan?&lt;br /&gt;Ibnu Sa'ad dalam bukunya, ath-Thabaqat al-kubra, menyebutkan bahwa al-Ala' bin al-Hadhrami mengirimkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Harta benda sebanyak 80.000. Belum pernah Nabi menerima lebih dari itu. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengundang kaum muslimin. Begitu mereka melihat timbunan harta itu, penuh sesaklah masjid dengan orang-orang. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membagi-bagikan hartra itu seolah-olah tanpa perhitungan dan pertimbangan, masing-masing diberikan segenggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas datang, lalu berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam., "Ya Rasulullah, aku telah memberikan tebusanku dan tebusan Aqil bin Abi Thalib dalam perang Badar. Aqil tidak punya uang penggantinya. Berikan aku dari uang ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tertawa lebar sehingga terlihat gigi taringnya, lalu bersabda, "Harta itu diambil seperlunya; yang lain dikembalikan!" Ia lalu pergi dengan mengambil seperlunya, seraya berucap, "Janji Allah kepadaku, yang satu sudah ditepati dan yang lain aku belum tahu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abas bin Abdul Muththalib radhiallahu 'anhu, paman Rasululah Shallallahu 'alaihi wasallam dan saudara kandung ayahnya, termasuk salah seorang tokoh shahabat yang ikut mengibarkan panji Islam dan menyebarkan dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam baiat al-Aqabah al-Kubra, ia bertindak sebagai seorang penasihat dan perunding ahli, menyertai keponakannya dalam majelis itu, membentangkan sikapnya dengan tepat, dan mengamati sikap kaum Anshar yang hendak menerima kedatangannya ke Madinah dengan cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberikan gambaran kepada mereka akan bahaya dan resiko yang akan mereka hadapi sepanjang hidup mereka jika menerima Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Bangsa Arab tidak akan membiarkan Muhammad dan dakwahnya berkembang dengan mulus kecuali kalau mereka terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir perundingan, sesudah ia yakin bahwa kaum Anshar dari Yastrib itu terdiri atas para pahlawan yang berbudi luhur yang bisa dipercaya dan menerima keponakannya, barulah ia bangkit mempertemukan tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dengan tangan wakil kaum Anshar itu sebagai tanda baiat disetujui dan janji setia dimulai, disertai doa harap kepada Allah Subhanahu wata'ala mudah-mudahan persekutuannya yang luhur akan melindungi agama-Nya dan Dia memberi taufiq dan hidayah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Hijrah ke Yastrib, Abbas menyatakan hasratnya akan menyusul ke sana. Akan tetapi, beliau mencegahnya dan menganjurkan supaya tinggal di Makkah saja dulu supaya bisa mendukung semangat kaum mustadh'afin di Mekah yang belum bisa hijrah meninggalkan Mekah. Abbas patuh kepada perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Itu. ia tinggal di Mekkah bersama kelompok kaum muslimin yang belum sanggup pergi berhijrah, menyiapkan kesempatan dan bekal mereka, menutup utang-utang mereka, mengamati gerak-gerik kaum Quraisy supaya selalu diketahui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.dan tidak bisa mengadakan serangan mendadak kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada permulaan Islam, Abbas banyak melunasi utan kaum muslimin yang fakir misjkin. Pada zaman kita sekarang ini, alangkah perlunya kita kepada seorang Abbas modern yang sudi menyelamatkan umat agar tidak menjadi mangsa pengikut komunis dan kapitalis Barat, dan berdiri tegak membendung invasi ideologi dan kristenisasi di kalangan kaum muslimin.&lt;br /&gt;Ia menjadi tawanan dalam Perang Badar, ia diborgol dan diringkus bersama tawanan yang lain. Ketika borgolnya dilonggarkan, para tawanan yang lain pun harus dilonggarkan.&lt;br /&gt;Tawanan lain harus, membayar uang tebusan, Abbas pun harus membayar uang tebusan diri dan keluarganya. Itulah Islam, tidak ada sistem famili atau keluarga, tidak mengutamakan kawan atau kenalan. Tolak ukur keutamaan seseorang hanyalah karena ketakwaan dan amal salehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Khalifah Umar ibnul Khaththab yang terkenal sebagai penakluk kekaisaran Romawi dan Persia itu, mencabut pancuran air dari rumah Abbas. Sesudah diberitahukan bahwa pancuran itu dahulu dipasang oleh kedua tangan Rasulullah sendiri. Umar menggigil ketakutan; apakah ia akan menyingkirkan apa yang diletakkan Rasulullah? Beranikah ia membongkar apa yang dibangun Rasulullah? Umar resah dan gelisah atas perbuatannya. Ia mengumpat dan mengutuk kelancangannya itu. Barulah ia puas sesudah Abbas menerima baik sarannya untuk mengembalikan pemasangan pancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba giliran Umar untuk memperluas masjid Nabawi. Sebagai khalifah kaum muslimin, sebagai panglima Angkatan Perang Islam, ia mempunyai kekuatan penuh untuk merampas dan mengganti rugi dari Baitul mal, demi kepentingan kaum muslimin, selama tidak bertentangan dengan hukum agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Umar untuk menggusur rumah Abbas itu rupanya kurang berkenan di hatinya, meskipun ia akan diganti rugi. Ia tidak mau menjual apa yang diberikan Rasulullah itu dan tidak sudi menerima ganti ruginya. Ia berikan sebagai sedekah karena Allah, demi kepentingan kaum muslimin, sesudahnya Umar bersikap lemah-lembut tidak disertai dengan paksaan dan kekuasaannya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-1826295350188520113?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/1826295350188520113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/10/abbas-bin-abdul-muththalib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/1826295350188520113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/1826295350188520113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/10/abbas-bin-abdul-muththalib.html' title='Abbas bin Abdul Muththalib'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-3299697532082317593</id><published>2011-07-30T22:02:00.000-07:00</published><updated>2011-07-30T22:02:21.631-07:00</updated><title type='text'>NAJIS</title><content type='html'>Pengertian Najis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najis adalah sesuatu yang dianggap kotor oleh orang yang memiliki tabi’at yang selamat (baik) dan selalu menjaga diri darinya. Apabila pakaian terkena najis –seperti kotoran manusia dan kencing- maka harus dibersihkan.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dibedakan antara najis dan hadats. Najis kadang kita temukan pada badan, pakaian dan tempat. Sedangkan hadats terkhusus kita temukan pada badan. Najis bentuknya konkrit, sedangkan hadats itu abstrak dan menunjukkan keadaan seseorang.&lt;br /&gt;Ketika seseorang selesai berhubungan badan dengan istri (baca: jima’), ia dalam keadaan hadats besar. Ketika ia kentut, ia dalam keadaan hadats kecil. Sedangkan apabila pakaiannya terkena air kencing, maka ia berarti terkena najis. Hadats kecil dihilangkan dengan berwudhu dan hadats besar dengan mandi. Sedangkan najis, asalkan najis tersebut hilang, maka sudah membuat benda tersebut suci. Mudah-mudahan kita bisa membedakan antara hadats dan najis ini.[2]&lt;br /&gt;Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama islam mengajarkan kita untuk selalu bersih dari kotoran atau najis, terutama pada saat hendak melakukan ibadah kepada Allah SWT. Najis bisa menempel di badan/tubuh, di pakaian atau di suatu tempat. Najis terbagi atas beberapa tingkatan dari mulai yang ringan sampai yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang termasuk najis ringan ini adalah air seni atau air kencing bayi laki-laki yang hanya diberi minum asi (air susu ibu) tanpa makanan lain dan belum berumur 2 tahun. Untuk mensucikan najis mukhafafah ini yaitu dengan memercikkan air bersih pada bagian yang kena najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Najis Mutawassithah (Najis Biasa/Sedang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang/hewan adalah najis biasa dengan tingkatan sedang. Air kencing, kotoran buang air besar dan air mani/sperma adalah najis, termasuk bangkai (kecuali bangke orang, ikan dan belalang), air susu hewan haram, khamar, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najis Mutawasitah terdiri atas dua bagian, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Najis 'Ainiyah : Jelas terlihat rupa, rasa atau tercium baunya.&lt;br /&gt;- Najis Hukmiyah : Tidak tampat (bekas kencing &amp;amp; miras)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat suci najis mutawasithah 'ainiyah caranya dengan dibasuh 1 s/d 3 dengan air bersih hingga hilang benar najisnya. Sengankan untuk najis hukmiyah dapat kembali suci dan hilang najisnya dengan jalan dialirkan air di tempat yang kena najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Najis Mughallazhah (Najis Berat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najis mugholazah contohnya seperti air liur anjing, air iler babi dan sebangsanya. Najis ini sangat tinggi tingkatannya sehingga untuk membersihkan najis tersebut sampai suci harus dicuci dengan air bersih 7 kali di mana 1 kali diantaranya menggunakan air dicampur tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat suatu kaedah penting yang harus diperhatikan yaitu segala sesuatu hukum asalnya adalah mubah dan suci. Barangsiapa mengklaim bahwa sesuatu itu najis maka dia harus mendatangkan dalil. Namun, apabila dia tidak mampu mendatangkan dalil atau mendatangkan dalil namun kurang tepat, maka wajib bagi kita berpegang dengan hukum asal yaitu segala sesuatu itu pada asalnya suci. [3] Menyatakan sesuatu itu najis berarti menjadi beban taklif, sehingga hal ini membutuhkan butuh dalil.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-Macam Najis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1,2 – Kencing dan kotoran (tinja) manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai najisnya kotoran manusia ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلَيْهِ الأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُورٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran (al adza) dengan alas kakinya, maka tanahlah yang nanti akan menyucikannya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al adza (kotoran) adalah segala sesuatu yang mengganggu yaitu benda najis, kotoran, batu, duri, dsb.[6] Yang dimaksud al adza dalam hadits ini adalah benda najis, termasuk pula kotoran manusia.[7] Selain dalil di atas terdapat juga beberapa dalil tentang perintah untuk istinja’ yang menunjukkan najisnya kotoran manusia.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan najisnya kencing manusia dapat dilihat pada hadits Anas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِى الْمَسْجِدِ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْقَوْمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « دَعُوهُ وَلاَ تُزْرِمُوهُ ». قَالَ فَلَمَّا فَرَغَ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“(Suatu saat) seorang Arab Badui kencing di masjid. Lalu sebagian orang (yakni sahabat) berdiri. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dan jangan hentikan (kencingnya)”. Setelah orang badui tersebut menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas meminta satu ember air lalu menyiram kencing tersebut.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shidiq Hasan Khon rahimahullah mengatakan, “Kotoran dan kencing manusia sudah tidak samar lagi mengenai kenajisannya, lebih-lebih lagi pada orang yang sering menelaah berbagai dalil syari’ah.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3,4 -&amp;nbsp; Madzi dan Wadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadi adalah sesuatu yang keluar sesudah kencing pada umumnya, berwarna putih, tebal mirip mani, namun berbeda kekeruhannya dengan mani. Wadi tidak memiliki bau yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan madzi adalah cairan berwarna putih, tipis, lengket, keluar ketika bercumbu rayu atau ketika membayangkan jima’ (bersetubuh) atau ketika berkeinginan untuk jima’. Madzi tidak menyebabkan lemas dan terkadang keluar tanpa terasa yaitu keluar ketika muqoddimah syahwat. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memiliki madzi.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum madzi adalah najis sebagaimana terdapat perintah untuk membersihkan kemaluan ketika madzi tersebut keluar. Dari ‘Ali bin Abi Thalib, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; ».&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Aku termausk orang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallm dikarenakan kedudukan anaknya (Fatimah) di sisiku. Lalu aku pun memerintahkan pada Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau memberikan jawaban pada Al Miqdad, “Perintahkan dia untuk mencuci kemaluannya kemudian suruh dia berwudhu”.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum wadi juga najis. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Mengenai mani, madzi dan wadi; adapun mani, maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 – Kotoran hewan yang dagingnya tidak halal dimakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah kotoran keledai jinak[14], kotoran anjing[15] dan kotoran babi[16]. Abdullah&amp;nbsp; bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ يَتَبَرَّزَ فَقَالَ : إِئْتِنِي بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ لَهُ حَجْرَيْنِ وَرَوْثَةِ حِمَارٍ فَأمْسَكَ الحَجْرَيْنَ وَطَرَحَ الرَّوْثَةَ وَقَالَ : هِيَ رِجْسٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud bersuci setelah buang hajat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Carikanlah tiga buah batu untukku.” Kemudian aku mendapatkan&amp;nbsp; dua batu dan kotoran keledai. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil dua batu dan membuang kotoran tadi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Kotoran ini termasuk najis”.” [17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan bahwa kotoran hewan yang tidak dimakan dagingnya semacam kotoran keledai jinak adalah najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 – Darah haidh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang menunjukkan hal ini, dari Asma’ binti Abi Bakr, beliau berkata, “Seorang wanita pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;إِحْدَانَا يُصِيبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Di antara kami ada yang bajunya terkena darah haidh. Apa yang harus kami perbuat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّى فِيهِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Gosok dan keriklah pakaian tersebut dengan air, lalu percikilah. Kemudian shalatlah dengannya.” [18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shidiq Hasan Khon rahimahullah mengatakan, “Perintah untuk menggosok dan mengerik darah haidh tersebut menunjukkan akan kenajisannya.”[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 – Jilatan anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Cara menyucikan bejana di antara kalian apabila dijilat anjing adalah dicuci sebanyak tujuh kali dan awalnya dengan tanah.”[20] Yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bagian anjing yang termasuk najis adalah jilatannya saja. Sedangkan bulu dan anggota tubuh lainnya tetap dianggap suci sebagaimana hukum asalnya.[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 – Bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkai adalah hewan yang mati begitu saja tanpa melalui penyembelihan yang syar’i.[22] Najisnya bangkai adalah berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin ‘Abbas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;إِذَا دُبِغَ الإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kulit bangkai tersebut disamak, maka dia telah suci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkai yang dikecualikan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a – Bangkai ikan dan belalang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” [23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b – Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah bangkai lalat, semut, lebah, dan kutu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ ، فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ، ثُمَّ لْيَطْرَحْهُ ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِى الآخَرِ دَاءً&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seekor lalat jatuh di salah satu bejana di antara kalian, maka celupkanlah lalat tersebut seluruhnya, kemudian buanglah. Sebab di salah satu sayap lalat ini terdapat racun (penyakit) dan sayap lainnya terdapat penawarnya.”[24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c – Tulang, tanduk, kuku, rambut dan bulu dari bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini termasuk bagian dari bangkai yang suci karena kita kembalikan kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci. Mengenai hal ini telah diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad), beliau rahimahullah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَقَالَ حَمَّادٌ لاَ بَأْسَ بِرِيشِ الْمَيْتَةِ . وَقَالَ الزُّهْرِىُّ فِى عِظَامِ الْمَوْتَى نَحْوَ الْفِيلِ وَغَيْرِهِ أَدْرَكْتُ نَاسًا مِنْ سَلَفِ الْعُلَمَاءِ يَمْتَشِطُونَ بِهَا ، وَيَدَّهِنُونَ فِيهَا ، لاَ يَرَوْنَ بِهِ بَأْسًا&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Hammad mengatakan bahwa bulu bangkai tidaklah mengapa (yaitu tidak najis). Az Zuhri mengatakan tentang tulang bangkai dari gajah dan semacamnya, ‘Aku menemukan beberapa ulama salaf menyisir rambut dan berminyak dengan menggunakan tulang tersebut. Mereka tidaklah menganggapnya najis hal ini’.” [25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu memberikan pada kita ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;[1] Lihat Rhoudhotun Nadiyah Syarh Ad Durorul Bahiyyah, Shidiq Hasan Khon, 1/22, Darul ‘Aqidah,cetakan pertama, 1422 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Faedah dari pembahasan di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Saalim, 1/71, Al Maktabah At Taufiqiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Lihat As Sailul Jaror, Asy Syaukani, 1/31, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan pertama, tahun 1405 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat Rhoudhotun Nadiyah Syarh Ad Durorul Bahiyyah, 1/24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Abu Daud no. 385. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat ‘Aunul Ma’bud, Muhammad Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi Abu Ath Thoyib, 2/32, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, cetakan kedua, 1415 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat ‘Aunul Ma’bud, 2/34.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/71.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] HR. Muslim no. 284&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 1/22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 5/383, pertanyaan kedua dari fatwa no.4262, Mawqi’ Al Ifta’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] HR. Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] HR. Al Baihaqi no. 771. Syaikh Abu Malik -penulis Shahih Fiqh Sunnah- mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Keledai jinak termasuk hewan yang diharamkan untuk dimakan. Inilah pendapat mayoritas ulama. Di antara dalilnya adalah hadits Jabir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ وَأَذِنَ فِى لُحُومِ الْخَيْلِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pada perang Khoibar memakan daging keledai jinak, dan beliau mengizinkan memakan daging kuda.” (HR. Bukhari no. 4219 dan Muslim no. 1941)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Anjing termasuk hewan yang haram dimakan karena ia termasuk hewan buas (yang dapat menyerang manusia) dan bertaring. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;كُلُّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Setiap hewan buas yang bertaring haram untuk dimakan.” (HR. Muslim no. 1933, dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Babi termasuk hewan yang haram dimakan sebagaimana disebutkan dalam Surat Al An’am ayat 145.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] HR. Ibnu Khuzaimah no. 70&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] HR. Bukhari no. 227 dan Muslim no. 291&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Ar Roudhotun Nadiyah, hal. 30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] HR. Muslim no. 279&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Lihat Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/616-620, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/73.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] HR. Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits ini shohih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] HR. Bukhari no. 5782&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25] Lihat Shohih Bukhari pada Bab ‘Benda najis yang jatuh pada minyak dan air’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-3299697532082317593?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/3299697532082317593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/07/najis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3299697532082317593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3299697532082317593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/07/najis.html' title='NAJIS'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-3860280582131675535</id><published>2011-07-04T01:28:00.000-07:00</published><updated>2011-07-04T01:28:42.087-07:00</updated><title type='text'>Keharusan Menjaga Amal Ibadah</title><content type='html'>&lt;b&gt;Dari kitab Imam An Nawawi&amp;nbsp; Bab keharusan menjaga amal ibadah ( memelihara ibadah )&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan amalan di sini adalah Amalan yang dikerjakan yang Allah ridho dengan amalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan tentang hal ini amalan dapat di bagi atas dua bagian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Amalan yg di terima oleh Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Yaitu amalan yang di kerjakan secara ikhlas dan Allah ridho dengan amalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan ini memiliki 2 buah syarat yang harus di penuhi :&lt;br /&gt;a. Amalan yang dilakukan iklas karena Allah&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ  حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ  الْقَيِّمَةِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya ”. (QS. Al-Bayyinah:5)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;b. Benar, artinya sesuai dengan apa yang terdapat di dalam kitabullah (Al-Quran) dan hadist-hadist rasullullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Amalan yang tertolak dan tidak di terima oleh Allah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yaitu amalan yang dikerjakan namun sia-sia karena amalan itu tertolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasullullah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Man 'amila amalan laysa alayhi amruna fahuwa raddun"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa mengerjakan sebuah amalan yang mana tidak ada contohnya dari kami maka ia&lt;br /&gt;tertolak" (HR. Muslim).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sepantasnya seorang muslim yang baik seharusnya melanggengkan amal ibadah yang biasa ia lakukan, tidak boleh bersikap meremehkan atau menganggapnya ringan atau tidak boleh bersikap (atakshir), menganggap amalan yang ia kerjakan sebagai perkara yang tidak penting. karena sebuah amalan yang di remehkan,di kecilkan, dan dianggap ringan akan membuat pelaku meninggalkan amalan itu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;أَحَبُّ الأَْعْمَال إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَل&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah amalan yang di kerjakan secara terus menerus (berkelanjutan) walaupun itu sedikit." (HR Bukhori dan Muslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-3860280582131675535?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/3860280582131675535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/07/keharusan-menjaga-amal-ibadah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3860280582131675535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3860280582131675535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/07/keharusan-menjaga-amal-ibadah.html' title='Keharusan Menjaga Amal Ibadah'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-7332944805487949614</id><published>2011-07-04T01:27:00.000-07:00</published><updated>2011-07-04T01:27:25.672-07:00</updated><title type='text'>Imam An Nawawi</title><content type='html'>Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai rihlah thalabul ilmi-nya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara’ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: “Tandatanganilah fatwa ini!!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: “Kenapa !?” Beliau menjawab: “Karena berisi kedhaliman yang nyata.” Raja semakin marah dan berkata: “Pecat ia dari semua jabatannya!” Para pembantu raja berkata: “Ia tidak punya jabatan sama sekali.” Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: “Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Raj apun menjawab: “Demi Allah, aku sangat segan padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Dalam bidang hadits: Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta’ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid’ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma’shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang men-ta’wil dan kadang-kadang tafwidh. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan-nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy’ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy’ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af’alil ‘ibad. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: “Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H -rahimahullah wa ghafara lahu-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Lihat biografi beliau di Tadzkiratul Huffazh 4/1470, Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra 8/395, dan Syadzaratudz Dzahab 5/354&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-7332944805487949614?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/7332944805487949614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/07/imam-nawawi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7332944805487949614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7332944805487949614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/07/imam-nawawi.html' title='Imam An Nawawi'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-353397820245450844</id><published>2011-06-12T20:04:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T20:04:18.236-07:00</updated><title type='text'>Para Sahabat</title><content type='html'>Sahabat Rasulullah, dari kata shahabah (ash-shahaabah, الصحابه) adalah mereka yang mengenal dan melihat langsung Nabi Muhammad SAW, membantu perjuangannya dan meninggal dalam keadaan Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi'i pernah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan para muslim mendefinisikan para sahabat nabi Muhammad sebagai mereka yang mengenal Nabi Muhammad SAW, mempercayai ajarannya, dan meninggal dalam keadaan Islam. Para sahabat utama yang biasanya disebutkan hingga 50 sampai 60 nama, yakni mereka yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Sahabat disebut pula murid Nabi Muhammad langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi terhadap sahabat nabi, termasuk status dan tingkatannya merupakan hal yang penting dalam dunia Islam karena dapat digunakan untuk mengevaluasi keabsahan suatu hadits maupun perbuatan Nabi yang diriwayatkan oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al-Hakim dalam Mustadrak, sahabat terbagi dalam beberapa tingkatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Para sahabat nabi Muhammad SAW yang masuk Islam di Mekkah, sebelum melakukan hijrah, seperti Khulafa'ur Rasyidin&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Khadijah binti Khuwailid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Ali bin Abi Thalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Zaid bin Haritsah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. Umar bin Khattab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 6. Utsman bin Affan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 7. Abbas bin Abdul Muthalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 8. Hamzah bin Abdul Muthalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 9. Ja'far bin Abi Thalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Para sahabat nabi yang mengikuti majelis Darunnadwah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Para sahabat nabi yang ikut serta berhijrah ke negeri Habasyah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Para sahabat nabi yang ikut serta pada bai'at Aqabah pertama&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. Para sahabat nabi yang ikut serta pada bai'at Aqabah kedua&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 6. Para sahabat nabi yang berhijrah setelah sampainya Rasulullah ke Madinah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 7. Para sahabat nabi yang ikut serta pada perang Badar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 8. Para sahabat nabi yang berhijrah antara perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 9. Para sahabat nabi yang ikut serta pada bai'at Ridhwan&lt;br /&gt;&amp;nbsp; 10. Para sahabat nabi yang berhijrah antara perjanjian Hudaibiyyah dan fathu Makkah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Khalid bin Walid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Amru bin Ash&lt;br /&gt;&amp;nbsp; 11. Para sahabat nabi yang masuk Islam pada fathu Makkah,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Abu Sufyan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Mu'awiyah bin Abu Sufyan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Ikrimah bin Abu Jahal&lt;br /&gt;&amp;nbsp; 12. Bayi-bayi dan anak-anak yang pernah melihat Rasulullah saw pada fathu Makkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat yang terkenal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah ibn Umar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdurrahman bin Auf&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Bakar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Dzar Al-Ghiffari&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Hurairah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Ubaidah bin al-Jarrah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ali bin Abi Talib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * al-Qamah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Amru bin Ash&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Bilal bin Rabah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hakim bin Hazm&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hamzah bin Abdul Muthalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khalid bin Walid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mua'dz bin Jabal&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mua'wiyah bin Abu Sufyan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mus'ab bin Umair&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Sa'ad bin Abi Waqqas&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Sa'id bin Zayd bin `Amr&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Thalhah bin Ubaidillah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Umar bin Khattab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Usamah bin Zaid bin Haritsah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Usman bin Affan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Uwais Al-Qarny&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Wahsyi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Zubair bin Awwam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat lainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abbad bin Bishir&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abbas bin Abdul-Muththalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Abbas&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Abdul-Asad&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Hudhafah as-Sahmi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Ja'far&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Mas'ud&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Rawahah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Salam&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Ubay&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Umar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Ummi-Maktum&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdullah bin Zubair&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdurrahman bin Abi Bakar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abdurrahman bin Auf&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Ayyub al-Ansari&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Bakar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Dujana&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Dzar Al-Ghifari&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Fuhayra&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Hudhaifah bin al-Mughirah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Hurairah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Jahm&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Lubaba bin Abd al-Mundzir&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Musa al-Ashari&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Qatadah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Sufyan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Sufyan bin Harits&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Thalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Ubaidah bin al-Jarrah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu al-Aas bin al-Rabiah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu al-Dardaa&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Hudhayfah bin Utbah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Abu Sa'id al-Khudri&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Akib bin Usaid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Al-Ala'a Al-Hadrami&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Al-Baraa bin Malik al-Ansari&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Al-Nahdiah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ali bin Abi Thalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Aminah binti Wahab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Amru bin al-Jamuh&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ammar bin Yasir&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Amru bin Ash&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * An-Numan bin Muqarrin&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Anas bin Malik&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ashaab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Aqil bin Abu Thalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Bashir bin Sa'ad&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Bilal bin Rabah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Bilal bin al-Harits&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Fadl bin Abbas&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Fatimah binti Asad&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Fatimah binti Hizam&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Fayruz al-Daylami&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Habibah binti Ubaidillah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hakim bin Hazm&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Halimah As-Sa'diyah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hamzah bin Abdul-Muththalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Haritsah binti al-Muammil&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hatib bin Abi Baitah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hisyam bin Al-Aas&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hudhayfah bin al-Yaman&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Hujr bin Adi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ikrimah bin Abu Jahal&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ja'far bin Abi Thalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Julaybib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khabbab bin al-Aratt&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khadijah binti Khuwailid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khalid bin Sa`id&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khalid bin Walid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khubaib bin Adi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khunais bin Hudhaifa&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Kumail bin Ziyad&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Khuzaimah bin Tsabit&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Layla binti al-Minhal&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Lubabah binti al-Harith&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Lubaynah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Malik bin Dinar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Malik al-Dar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Malik bin Ashter&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Malik bin Nuwayrah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Miqdad bin Aswad&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mua'dz bin Jabal&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Muhammad bin Abu Bakar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Muawiyah bin Abu Sufyan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Muhammad bin Maslamah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mughira bin Shu'ba&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mus'ab bin Umair&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Nawfal bin Khuwaylid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Qatadah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Rab'ah bin Umayah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Rabi'ah bin Harits&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Sa'ad bin ar-Rabi'&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Sa'ad bin Abi Waqqas&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Sa'ad bin Muadz&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Saffiyah binti Abdul-Muththalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Sa’id bin Al-Ash&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Said bin Amir al-Jumahi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Said bin Zayd&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Salim Mawla Abu Hudhayfah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Salman al-Farisi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Suhayb Ar-Rummi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Sumayyah binti Khayyat&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Syaibah bin 'Utsman&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Thalhah bin Ubaidillah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Thalib bin Abu Thalib&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ubaidah bin Harits&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ubay bin Kaab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Umamah binti Zainab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Umar bin Khattab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ummi Kultsum binti Ali&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ummi Kultsum binti Jarwila Khuzima&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ummi Syarik&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Ummi Ubays&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * `Uqbah bin Amir&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Urwah bin Mas'ud&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Usamah bin Zaid&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Usayd bin Hudhayr&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Utbah bin Ghazwan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Utsman bin Affan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Utsman bin Hunaif&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Uwais al-Qarny&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Wahab bin Abd Manaf&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Wahsyi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Waraqah bin Naufal&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Zaid bin Arqam&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Zaid bin Haritsah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Zaid bin Tsabit&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Zainab binti Ali&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Zubair bin Awwam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-353397820245450844?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/353397820245450844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/para-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/353397820245450844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/353397820245450844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/para-sahabat.html' title='Para Sahabat'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-4439603076353281063</id><published>2011-06-08T11:31:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T11:43:14.747-07:00</updated><title type='text'>Mu'adz bin Jabal</title><content type='html'>Mu'adz bin Jabal adalah sahabat nabi yang berbai'at kepada Rasulullah sejak pertama kali. Sehingga ia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun).Mu'adz bin Jabal masuk Islam di hadapan seorang da'i dari Makkah, Mush'ab bin 'Umair.&lt;br /&gt;Nama panjangnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji,  sedangkan nama julukannya adalah “Abu Abdurahman”.Dia adalah putra Amr,  seorang pemimpin dan imam, Abu Abdurrahman Al Anshari, Al Khazraji, Al  Madani, Al Badri.&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Mu’adz, dia berkata, &lt;i&gt;“Aku tidak pernah melanggar sumpahku sejak masuk Islam.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu'adz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram.&lt;br /&gt;Tidak mengherankan kalau Mu'adz bin Jabal berhasil menjadi orang pandai.  Sejak kecil dia dididik di Madrasah Rasulullah saw., dan menamatkan  pelajarannya di tangan beliau sendiri. Dia meneguk ilmu dari sumber yang  mulia itu sejak bermula. Dia berhasil menguasai Ilmu Ma'rifat sesuai  dengan ma'nanya yang baik dari guru yang paling baik. Diploma Mu'adz  cukuplah kiranya pengakuan Rasulullah saw. bagi Mu'adz dengan sabda  beliau, "Umatku yang paling 'alim tentang halal dan haram ialah Mu'adz  bin Jabal." &amp;nbsp;Mu'adz juga merupakan duta besar Islam yang pertama kali yang dikirim Rasulullah ke negeri Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ashim bin Humaid As-Sakuni, bahwa ketika Nabi  mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berwasiat kepadanya. Mu’adz  pada saat itu sedang menaiki tunggangannya, sementara Rasulullah SAW  berjalan di bawah tunggangannya. Ketika selesai, Rasulullah SAW  bersabda,&lt;i&gt; “Wahai Mu’adz, mungkin engkau tidak bisa lagi bertemu  denganku setelah tahun ini, dan mungkin engkau akan melewati masjid dan  kuburanku.” Mendengar itu, Mu’adz menangis tersedu-sedu karena harus  berpisah dengan Rasulullah SAW. Beliau kemudian bersabda, “Jangan  menangis wahai Mu’adz, karena tangisan itu berasal dari syetan.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Sa’id bin Abu Burdah, dari ayahnya, dari Abu Musa, bahwa ketika Nabi SAW mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bersabda kepada keduanya,&lt;i&gt;“Permudahlah jangan dipersulit dan bersikap lembutlah dan jangan bersikap kasar.” &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Musa berkata lalu kepadanya, &lt;i&gt;“Sesungguhnya di negeri kami ada minuman dari madu yang dikenal dengan nama Bit’u dan dari gandum yang dikenal dengan nama Mizr.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ditanya seperti itu, Mu’adz berkata, &lt;i&gt;“Setiap minuman yang memabukkan adalah haram.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Mu’adz berkata kepadaku, &lt;i&gt;“Bagaimana kamu membaca Al Qur`an?”&lt;/i&gt; Aku menjawab, &lt;i&gt;“Aku membacanya ketika shalat, ketika di atas tunggangan, ketika berdiri, dan ketika duduk. Aku akan membacanya sedikit demi sedikit.” &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’id berkata: Mu’adz kemudian berkata, &lt;i&gt;“Tetapi aku tidur kemudian bangun, dan lamanya tidurku sama dengan lamanya bangunku.”&lt;/i&gt; Seakan-akan Mu’adz lebih diutamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Mu’adz, dia berkata: Nabi SAW menemuiku seraya berkata, &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Wahai Mu’adz, aku mencintaimu karena Allah.”&lt;/i&gt; Aku lalu menjawab, &lt;i&gt;“Begitu juga denganku wahai Rasulullah, aku mencintaimu karena Allah.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu bersabda, &lt;i&gt;“Aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dibaca pada setiap selesai shalat, ‘Rabbi a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika (ya Tuhanku, tolonglah aku agar bisa mengingat-Mu, berterima kasih kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik )’.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Nafi’, dia berkata, &lt;i&gt;“Umar pernah menulis kepada  Abu Ubaidah dan Mu’adz, ‘Lihatlah orang-orang shalih dan angkatlah  mereka untuk menjadi qadhi serta berilah mereka rezeki’.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan  dari Abu Qilabah dan yang lain, mereka mengatakan bahwa suatu ketika  ada seorang pria melewati para sahabat Nabi SAW, lalu dia berkata,&lt;i&gt; “Berwasiatlah kepadaku!"&lt;/i&gt; Mereka semua lalu menasihatinya dan Mu’adz bin Jabal berada pada akhir kaum.&lt;br /&gt;Pria itu berkata, &lt;i&gt;“Berwasiatlah kepadaku niscaya Allah akan merahmatimu!”&lt;/i&gt; Mu’adz berkata, &lt;i&gt;“Mereka  semua telah menasihatimu dan mereka tidak sembarangan. Aku hanya akan  menyimpulkannya kepadamu. Ketahuilah bahwa kamu tidak membutuhkan dunia  jika kamu lebih membutuhkan akhirat, maka mulailah mencari nasibmu dari  akhirat, karena hal itu akan mengalir menuju dunia lalu mengaturnya,  lalu hilang bersamamu di manapun kamu menghilang.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muadz termasuk dalam rombongan berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu ia kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat terkemuka misalnya Amru bin al-Jamuh. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam 'Aqabah, Mu'adz mengulurka tangannya yang kecil  kepada Rasulullah untuk dibai'at. Mu'adz dibai'at bersama-sama dengan  suatu rombongan berjumlah tujuh puluh dua orang. Mereka sengaja datang  ke Makkah, memperoleh kebahagiaan dan kemuliaan bertemu dengan  Rasulullah saw untuk di bai'at oleh beliau. Mereka hendak melukis  halaman sejarah yang sangat mengagumkan dan megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya Mu'adz bin Jabal dari Makkah ke Madinah, dia dengan  beberapa orang remaja sebayanya membentuk suatu kelompok untuk untuk  menghancurkan patung-patung dan membunganya dari rumah-rumah kaum  musyrikin Tatsrib, baik dengan cara sembunyi-sembunyi atau  terang-terangan. Hasil gerakan pemuda-pemuda tanggung ini antara lain  seorang pemimpin tertua Yatsrib, 'Amr bin Jamuh, masuk Islam.&lt;br /&gt;'Amr bin Jamuh adalah pemimipin Bani Salamah, dan tergolong bangsawan. Dia mempunyai sebuah berhala milik pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhala itu terbuat dari kayu, bagus dan mahal harganya.  Memiliki berhala dan menempatkannya di rumah pribadi seperti yang  dilakukan 'Amar bin Jamuh sudah menjadi adat bagi para bangsawan  Yatsrib. Orang tua Bani Salamah ini merawat patung tersebut dengan  sungguh-sungguh. Patung itu diberinya pakaian dari sutera halus dan  diminyakinya dengan wangi-wangian setiap pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  suatu malam yang gelap gulita, remaja kelompok Mu'adz bin Jabal mencuri  patung tersebut dari tempat pemujaannya, lalu mereka bawa ke belakang  komplek perumahan Bani Salamah. Sampai di sana patung itu dilemparkan ke  tempat kotoran. Setelah hari Subuh, orang tua itu mencari-mencari  patung pujaannya, tetapi tidak bertemu. Maka dicarinya ke luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya  patung itu ditemukannya tercampak dengan kepala ke bawah, tenggelam  dalam lobang kotoran. "celakalah orang yang menganiaya tuhan kami," kata  'Amr bin Jamuh mengutuk. Patung itu dikeluarkannya dari lubang kotoran,  kemudian dimandikan dan dibersihkannya. &lt;br /&gt;Sesudah itu diminyakinya  dengan harum-haruman, lalu diletakkannya kembali di tempat pemujaan.  Katanya, "Hai Manat! (nama patung tersebut). Kalau aku tahu orang yang  menganiayamu, sungguh akan aku hukum dia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hari  sudah malam dan orang tua itu sudah tidur, Mu'adz dan kawan-kawan pergi  pula ke tempat patung itu dengan sembunyi-sembunyi. Mereka bereaksi  kembali seperti kemarin. Besok paginya 'Amr bin Jamuh mencari patungnya,  dan ditemukannya di lobang kotoran yang lain. Patung itu  dikeluarkannya, lalu dimandikan, dibersihkan dan diminyakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia  mengutuk sejadi-jadinya perbuatan orang yang menghina tuhannya.  Peristiwa seperti itu terulang berkali-kali. Setiap patung itu  dilemparkan para remaja kelobang kotoran, selalu diambil kembali..  kemudian dibersihkannya, dimunyakinya, dan diletakkannya kembali ke  tempat pemujaan. Terakhir, diambilnya pedang lalu digantungkannya di  leher patung itu. Kata 'Amr bin Jamuh kepada Manat, "Demi Allah! Aku  tidak siapa yang menganiaya engkau. Jika engkau memang sanggup, hai  manat, maka lindungilah dirimu...! Ini pedang untukmu...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  malam tiba, dan orang tua itu sudah tidur, Mu'adz dan kawan-kawan  segera pula bereaksi. Pedang yang tergantung di leher Manat mereka  ambil. Patung Manat mereka ikat menjadi satu dengan bangkai anjing,  kemudian mereka lemparkan ke lubang kotoran, pagi-pagi 'Amr bin Jamuh  mencari-cari patung pujaanya. Didapatinya patung itu tengkurap, bersatu  dengan bangkai anjing dlam comberan bergelimang kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata  'Amr bin Jamuh, "Seandainya engkau benar-benar tuhan, tentu engkau  tidak sudi diikat bersama bangkai anjing di dalam comberan bergelimang  kotoran seperti itu..." kemudian pemimpin Bani Salamah itu masuk Islam  dan menjadi muslim yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah saw. tiba di Madinah  sebagai Muhajirin, Mu'adz muda selalu mendampingi beliau. Tak ubahnya  bagaikan bayang-bayang dengan orangnya. Mu'adz belajar mengaji Al-Qur'an  dan Ilmu Syari'at Islam kepada beliau. Mu'adz cepat menjadi sahabat  yang terpandai membaca kitab Allah dan paling 'alim mengenai syari'at  Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yazid bin Quthaib pernah bercerita, "Pada suatu ketika aku masuk ke  masjid Himsh. Di sana kulihat seorang pemuda berambut keriting duduk  dikelilingi orang banyak. Kalau dia berbicara seolah-olah cahaya dan  permata yang keluar dari mulutnya. Aku bertanya, "siapa pemuda itu?"&lt;br /&gt;"Muadz  bin Jabal," jawab mereka. Abu Muslim. Abu Muslim al Kaulany pernah pula  meriwayatkan, "Aku masuk ke masjid Dimsyiq. Halaqah (majlis ta'lim)  dalam masjid penuh dengan para sahabat senior. Seorang pemuda bermata  hitam dan gigi putih berkilat duduk di tengah-tengahmereka. Setiap  mereka berselisih pendapat tentang suatu masalah, mereka tanyakan kepada  pemuda itu. Akku bertanya kepada orang di dekatku, "siapa pemuda itu?"  "Mu'adz bin Jabal!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Belajarlah Al Qur`an kepada empat orang, yaitu Ibnu Mas’ud, Ubai, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hudzaifah.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Al Harits bin Amr Ats-Tsaqafi, dia berkata:  Sahabat-sahabat kami menceritakan kepada kami tentang Mu’adz, mereka  berkata, &lt;i&gt;“Ketika Nabi SAW mengutusku ke Yaman, dia berkata kepadaku,  ‘Bagaimana kamu menetapkan hukum jika ada suatu perkara yang kamu  hadapi?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan menetapkan hukum berdasarkan  Kitabullah. Jika tidak ada dalam Kitabullah maka aku akan menetapkan  dengan hadits Rasulullah’. Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Bagaimana jika  tidak ada dalam Sunnah Rasulullah?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan  berijtihad dengan pendapatku dan tidak berlebihan’. Setelah itu  Rasulullah SAW memukul dadanya dan bersabda, ‘Segala puji bagi Allah  yang telah menyelaraskan utusan Rasulullah dengannya, sebagaimana yang  diridhai oleh Rasulullah’.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Anas secara marfu, dia berkata,&lt;i&gt; “Umatku yang paling  penuh cinta kasih kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling keras  dalam memegang agama Allah adalah Umar, yang paling malu adalah Utsman,  yang paling mengetahui masalah halal dan haram adalah Mu’adz, dan yang  paling taat adalah Zaid. Setiap umat memiliki kepercayaan, dan  kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini kita muat cerita tentang A’idzullah bin Abdillah yakni ketika pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar, ia masuk mesjid bersama beberapa orang shahabat, katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka duduklah saya pada suatu majlis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih, masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan . . . . hitam manis warna kulitnya, bersih, manis tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya, dan ia tak hendak berbicara kecuali bila diminta . . . . Dantatkala majlis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ujarnya: Saya adalah Mu’adz bin Jabal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila para shahabat berbicara sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya . . . .!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Amirul Mu’minin Umar r.a. sendiri sering meminta pendapat dan buah fikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata: “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Muhammad bin Sahal bin Abu Hatsmah, dari ayahnya, dia berkata, &lt;i&gt;“Orang-orang  yang berfatwa pada masa Rasulullah SAW masih hidup itu ada tiga dari  kalangan Muhajirin, yaitu Umar, Utsman, dan Ali, serta tiga dari  kalangan Anshar, yaitu Ubai bin Ka’ab, Mu’adz, dan Zaid.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Musa bin Ulai bin Rabah meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata,&lt;i&gt;  “Umar pernah berkhutbah di hadapan orang-orang di Jabiyah, ‘Barangsiapa  menginginkan pemahaman maka dia hendaknya mendatangi Mu’adz bin  Jabal’.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata Mu’adz memiliki otak yang terlatih baik dan logika yang menawan serta memuaskan lawan, yang mengalir dengan tenang dan cermat. Dan di mana saja kita jumpai namanya - di celah-celah riwayat dan sejarah, kita dapati ia sebagi yang selalu menjadi pusat lingkaran. Di mana ia duduk selalulah dilingkungi oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buaka suara, adalah ia sebagimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “&lt;br /&gt;Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara . . . .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini serta penghormatan Kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak suatupun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda,&lt;i&gt; “Sebaik-baik orang adalah Abu Bakar, Umar, dan Mu’adz bin Jabal.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu’adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing Kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.&lt;br /&gt;Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Yaman, Umar tahu bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka diusulkan Umara kepada khalifah agar kekayaannya itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya secara dosa bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat. Oleh sebab itu usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula . . . . Umar berpaling meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar. Demi sampai di sana, Umar dirangkul dan dipeluknya, sementara air mata mengalir mendahului perkataannya, seraya berkata:&lt;br /&gt;“Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar dan menyelamatkan saya !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bersama-sama mereka datang kepad abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satupun yang akan saya ambil darimu”, ujar Abu Bakar. “Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik”, kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz.&lt;br /&gt;Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang shaleh itu akan menyisakan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz. Hanya saja masa itu adlah mas gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’adz pindah ke Syria, di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah - amir atau gubernur militer di sana - serta shahabat karib Mu’adz meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mu’minin Umar sebagai penggantinya di Syria. Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegan jabatan itu, ia dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar r.a. berkata:&lt;br /&gt;“Sekiranya saya mengangkat Mu’adz sebagai pengganti, lalu ditanya oleh Allah kenapa saya mengangkatnya, maka akan saya jawab: Saya dengar Nabi-Mu bersabda: Bila ulama menghadap Allah Azza wa Jalla, pastilah Mu’adz akan berada di antara mereka !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat sebagai pengganti yang dimaksud Umar di sisi ialah penggantinya sebagi khalifah bagi seluruh Kaum Muslimin, bukan kepala sesuatu negeri atau wilayah.&lt;br /&gt;Sebelum menghembuskan nafasnya yang akhir, Umar pernah ditanyai orang: “Bagaimana jika anda tetapkan pengganti anda?” artinya anda pilih sendiri orang yang akan menjadi khalifah itu, lalu kami bai’at dan menyetujuinya . . . .?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ujar Umar:&lt;br /&gt;“Seandainya Mu’adz bin Jabal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagi khalifah, dan kemudian bila saya menghadap Allah Azza wa Jalla dan ditanya tentang pengangkatannya: Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin bagi ummat manusia, maka akan saya jawab: Saya angkat Mu’adz bin Jabal setelah mendengar Nabi bersabda: Mu’adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari qiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Rasulullah SAW, bersabda: “Hai Mu’adz! Demi Allah saya sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: Ya Allah, bantulah daku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu.”&lt;br /&gt;Tepat sekali: “Ya Allah, bantulah daku . . . !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW selalu mendesak manusia untuk memahami makna yang agung ini yang maksudnya ialah bahwa tiada daya maupun upaya, dan tiada bantuan maupun pertolongan kecuali dengan pertolongan dan daya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar . . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat . . . . Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu’adz, maka tanyanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?&lt;br /&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah, ujar Mu’adz&lt;br /&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Setiap kebenaran ada hakikatnya, ujar Nabi pula, maka apakah hakikat keimananmu?&lt;br /&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ujar Mu’adz: Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore.&lt;br /&gt;Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pn yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap ummat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka. Maka sabda Rasulullah SAW : Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar dan tidak salah, Mu’adz telah menyerahkan seluruh jiwa raga dan nasibnya kepada Allah, hingga tidak suatu pun yang tampak olehnya hanyalah Dia! Tepat sekali gambaran yang diberikan Ibnu Mas’ud tentang kepribadiannya. katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mu’adz adalah seorang hamba yang tunduk kepada Allah dan berpegang teguh kepada Agama-Nya. Dan kami menganggap Mu’adz serupa dengan Nabi Ibrahim a.s ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’adz senantiasa menyeru manusia untuk mencapai ilmu dan berdzikir kepada Allah. Diserunya mereka untuk mencari ilmu yang benar lagi bermanfaat, dan katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waspadalah akan tergelincirnya orang yang berilmu! Dan kenalilah kebenaran itu dengan kebenaran pula, karena kebenaran itu mempunyai cahaya . . . .!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mu’adz, ibadat itu hendaklah dilakukan dengan cermat dan jangan berlebihan.&lt;br /&gt;Pada suatu hari salah seorang Muslim meminta kepadanya agar diberi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apakah anda sedia mematuhinya bila saya ajarkan? tanya Mu’adz&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sungguh, saya amat berharap akan mentaati anda! ujar orang itu. Maka kata Mu’adz kepadanya: “Shaum dan berbukalah!”&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lakukanlah shalat dan tidurlah!!!&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berusahalah mencari nafkah dan janganlah berbuat dosa&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan janganlah kamu mati kecuali dalam beragama Islam&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Serta jauhilah do’a dari orang yang teraniaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mu’adz, ilmu itu ialah mengenal dan beramal, katanya: “Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian mafaat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dulu!”&lt;br /&gt;Baginya iman dan dzikir kepada Allah ialah selalu siap siaga demi kebesaran-Nya dan pengawasan yang tak putus-putus terhadap kegiatan jiwa. Berkata Al-Aswad bin Hilal:&lt;br /&gt;“Kami berjalan bersama Mu’adz, maka katanya kepada kami; Marilah kita duduk sebentar meresapi iman!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sikap dan pendiriannya itu terdorang oleh sikap jiwa dan fikiran yang tiada mau diam dan bergejolak sesuai dengan pendiriannya yang pernah ia kemukakan kepada Rasulullah, bahwa tiada satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali timbul sangkaan bahwa ia tidak akan mengikutinya lagi dengan langkah berikutnya. Hal itu ialah karena tenggelamnya dalam mengingat-ingat Allah dan kesibukannya dalam menganalisa dan mengoreksi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tibalah ajalnya, Mu’adz dipanggil menghadap Allah. Dan dalam sakarat maut, muncullah dari bawah sadarnya hakikat segala yang bernyawa ini, dan seandainya ia dapat berbicara akan mengalirlah dari lisannya kata-kata yang dapat menyimpulkan urusan dan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada saat-saat itu Mu’adz pun mengucapkan perkataan yang menyingkapkan dirinya sebagai seorang Mu’min besar. Sambil matanya menatap ke arah langit, Mu’adz munajat kepada Allah yang Maha Prngasih, katanya:&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan. tetapi hanyalah untuk menutup haus dikala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun  tempat ia mengajar sebagai utusan khalifah Umar bin Khattab, waktu itu  usianya 33 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, dia berkata, &lt;i&gt;“Mu’adz meninggal dunia dalam usia 33 atau 34 tahun.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;- Wikipedia. Mu'adz bin Jabal&lt;br /&gt;- islamipedia. Mu'adz bin Jabal:Biografi&lt;br /&gt;- Berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-4439603076353281063?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/4439603076353281063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/muadz-bin-jabal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/4439603076353281063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/4439603076353281063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/muadz-bin-jabal.html' title='Mu&apos;adz bin Jabal'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-1244032570075725312</id><published>2011-06-06T23:58:00.000-07:00</published><updated>2011-06-10T02:28:38.300-07:00</updated><title type='text'>Dialog Rasullullah Muhammad SAW dengan iblis</title><content type='html'>Diriwayatkan oleh &lt;a href="http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/muadz-bin-jabal.html"&gt;Muadz bin Jabal r.a&lt;/a&gt;. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar : " Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku ".&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :" Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu ?".&lt;br /&gt;Para sahabat menjawab , " Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ". Rasulullah berkata : " Dia adalah Iblis yang terkutuk ? semoga Allah senantiasa melaknatnya".&lt;br /&gt;Umar bin Khattab r.a. berkata :" Ya, Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?".&lt;br /&gt;Nabi SAW berkata pelan :" Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan [hari kiyamat]?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian! ".&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata : " Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya [masyquqatani] memanjang [terbelah ke-atas, tidak kesamping], kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau [tsur].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, " Assalamu 'alaika ya Muhammad, assalamu 'alaikum ya jamaa'atal-muslimin [salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin]".&lt;br /&gt;Nabi SAW menjawab :" Assamu lillah ya la'iin [Keselamatan hanya milik Allah SWT, wahai makhluq yang terlaknat. Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis".&lt;br /&gt;Iblis berkata :" Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa [diperintah]."&lt;br /&gt;Nabi SAW berkata :" Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?".&lt;br /&gt;Iblis berkata," Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku 'Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu'. Allah SWT bersabda," Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu". Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah.&lt;br /&gt;Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku".&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian mulai bertanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jika kamu jujur, beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?".&lt;br /&gt;Iblis menjawab :" Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu".&lt;br /&gt;Rasulullah SAW :" Siapa lagi yang kamu benci?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis :" Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT".&lt;br /&gt;Rasulullah :" Lalu siapa lagi ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis :" Orang Alim dan Wara [menjaga diri dari syubhat] yang saya tahu, lagi penyabar".&lt;br /&gt;Rasulullah :" Lalu, siapa lagi ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis :" Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran – [menjaga wudhu]".&lt;br /&gt;Rasulullah :" Lalu, siapa lagi ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis :" Orang miskin [fakir] yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya ".&lt;br /&gt;Rasulullah :" Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar ".&lt;br /&gt;Rasulullah :" Lalu, siapa lagi ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis :" Orang kaya yang bersyukur ".&lt;br /&gt;Rasulullah bertanya :" Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rassulullah :"Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat ?".&lt;br /&gt;Iblis :"Aku merasa panas dan gemetar".&lt;br /&gt;Rasulullah :"Kenapa, wahai terlaknat?".&lt;br /&gt;Iblis :" Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rassulullah :"Jika mereka shaum ?".&lt;br /&gt;Iblis : " Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :" Jika mereka menunaikan haji ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Saya menjadi gila".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :"Jika mereka membaca Al Qur'an ?'.&lt;br /&gt;Iblis :' Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :" Jika mereka berzakat ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua".&lt;br /&gt;Rasulullah :" Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang bezakat disenangi makhluq-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :"Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?".&lt;br /&gt;Iblis :" Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :" Apa pendapatmu tentang Umar ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :"Apa pendapatmu tentang Utsman ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :"Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Andai saja aku dapat selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya [menukar darinya kepala dengan kepala], dan kemudian ia meninggalkanku dan aku meninggalkannya, tetapi dia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah :" Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis yang terlaknat berkata kepada Muhammad :" Hay-hata hay-hata [tidak mungkin- tidak mungkin]. Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat. Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan. Akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf. Yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang&lt;br /&gt;mukhlis [ikhlas]".&lt;br /&gt;Rasulullah :"Siapa yang mukhlis itu menurutmu ?".&lt;br /&gt;Iblis dengan panjang-lebar menjawab :&lt;br /&gt;" Apakah engkau tidak tahu, wahai Muhammad. Barangsiapa cinta dirham dan dinar, dia tidak termasuk orang ikhlas untuk Allah. Jika aku melihat orang tidak suka dirham dan dinar, tidak suka puji dan pujaan, aku tahu bahwa dia itu ikhlas karena Allah, maka aku tinggalkan ia. Sesungguhnya hamba yang mencintai harta, pujian dan hatinya tergantung pada nafsu [syahwat] dunia, dia lebih rakus dari orang yang saya jelaskan kepadamu. Tak tahukah engkau, bahwa cinta harta termasuk salah satu dosa besar.&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, tak tahukan engkau bahwa cinta kedudukan [riyasah] termasuk dosa besar. Dan bahwa sombong, juga termasuk dosa besar.&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, tidak tahukan engkau, bahwa aku punya 70,000 anak. Setiap anak dari mereka, punya 70,000 syaithan. Diantara mereka telah aku tugaskan untuk menggoda golongan ulama, dan sebagian lagi menggoda anak muda, sebagian lagi menggoda orang-orang tua, dan sebagian lagi menggoda orang-orang lemah. Adapun anak-anak muda, tidak ada perbedaan di antara kami dan mereka, sementara anak-anak kecilnya, mereka bermain apa saja yang mereka kehendaki bersamanya.&lt;br /&gt;Sebagian lagi telah aku tugaskan untuk menggoda orang-orang yang rajin beribadah, sebagian lagi untuk kaum yang menjauhi dunia [zuhud]. Setan masuk ke dalam dan keluar dari diri mereka, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, dari satu pintu ke pintu yang lain, sampai mereka mempengaruhi manusia dengan satu sebab dari sebab-sebab yang banyak. Lalu syaithan mengambil keikhlasan dari mereka. Menjadikan mereka menyembah Allah tanpa rasa ikhlas, tetapi mereka tidak merasa.&lt;br /&gt;Apakah engkau tidak tahu, tentang Barshisha, sang pendeta yang beribadah secara ikhlas selama tujuh puluh tahun, hingga setiap orang yang sakit menjadi sehat berkat da'wahnya. Aku tidak meninggalkannya sampai dia dia berzina, membunuh, dan kafir [ingkar]. Dialah yang disebut oleh Allah dalam Qur'an dengan firmannya [dalam Surah Al Hasyr] : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;" (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika mereka berkata pada manusia:"Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;"Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam". (Al Hasyr :16).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu berasal dariku. Akulah orang yang pertama kali berbohong. Barangsiapa berbohong, dia adalah temanku, dan barangsiapa berbohong kepada Allah, dia adalah kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah engkau tidak tahu, bahwa aku bersumpah kepada Adam dan Hawa, " Demi Allah aku adalah penasihat kamu berdua". Maka, sumpah palsu merupakan kesenangan hatiku, ghibah, membicarakan kejelekan orang lain, dan namimah, meng-adu domba adalah buah kesukaanku, melihat yang jelek-jelek adalah kesukaan dan kesenanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa thalaq, bersumpah untuk cerai, dia mendekati perbuatan dosa, meskipun hanya sekali, dan meskipun ia benar. Barangsiapa membiasakan lisannya dengan ucapan cerai, istrinya menjadi haram baginya. Jika mereka masih memiliki keturunan sampai hari kiyamat, maka anak mereka semuanya adalah anak-anak hasil zina. Mereka masuk neraka hanya karena satu kata saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara umatmu ada yang meng-akhirkan shalat barang satu dua jam. Setiap kali mau shalat, aku temani dia dan aku goda dia. Kemudian aku katakan kepadanya:" Masih ada waktu, sementara engkau sibuk". Sehingga dia mengakhirkan shalatnya dan mengerjakannya tidak pada waktunya, maka Tuhan memukul wajahnya. Jika ia menang atasku, maka aku kirim satu syaithan yang membuatnya lupa waktu shalat. Jika ia menang atasku, aku tinggalkan dia sampai ketika mengerjakan shalat aku katakan kepadanya,' Lihatlah kiri-kanan', lalu ia menengok. Saat itu aku usap wajahnya dengan tanganku dan aku cium antara kedua matanya dan aku katakan kepadanya,' Aku telah menyuruh apa yang tidak baik selamanya'. Dan engkau sendiri tahu wahai Muhammad, siapa yang sering menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia menang atasku dalam hal shalat, ketika shalat sendirian, aku perintahkan dia untuk tergesa-gesa. Maka ia 'mencucuk' shalat seperti ayam mematuk biji-bijian dengan tergesa-gesa. Jika ia menang atasku, maka ketika shalat berjamaah aku cambuk dia dengan 'lijam' [cambuk] lalu aku angkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya. Aku letakkan ia hingga mendahului imam. Kamu tahu bahwa siapa yang melakukan itu, batal-lah shalatnya dan Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai pada hari kiyamat nanti.&lt;br /&gt;Jika ia masih menang atasku, aku perintahkan dia untuk mengacungkan jari-jarinya ketika shalat sehingga dia mensucikan aku ketika ia sholat. Jika ia masih menang, aku tiup hidungnya sampai dia menguap. Jika ia tidak menaruh tangan di mulutnya, syaithan masuk ke dalam perutnya dan dengan begitu ia bertambah rakus di dunia dan cinta dunia. Dia menjadi pendengar kami yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana umatmu bahagia sementara aku menyuruh orang miskin untuk meninggalkan shalat. Aku katakan kepadanya,' Shalat tidak wajib atasmu. Shalat hanya diwajibkan atas orang-orang yang mendapatkan ni'mat dari Allah'. Aku katakan kepada orang yang sakit :"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada dosa bagi orang yang sakit. Jika kamu sembuh, kamu harus shalat yang diwajibkan". Sampai dia mati dalam keadaan kafir. Jika dia mati dan meninggalkan shalat ketika sakit, dia bertemu Tuhan dan Tuhan marah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, jika aku bohong dan ngawur, maka mintalah kepada Tuhan untuk membuatku jadi pasir. Wahai Muhammad, bagaimana engkau bahagia melihat umatmu, sementara aku mengeluarkan seper-enam umatmu dari Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi berkata :" Wahai terlaknat, siapa teman dudukmu ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Pemakan riba".&lt;br /&gt;Nabi :" Siapa teman kepercayaanmu [shadiq] ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Pe-zina".&lt;br /&gt;Nabi :" Siapa teman tidurmu ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Orang yang mabuk".&lt;br /&gt;Nabi :" Siapa tamumu ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Pencuri".&lt;br /&gt;Nabi:" Siapa utusanmu ?".&lt;br /&gt;Iblis :"Tukang Sihir".&lt;br /&gt;Nabi :" Apa kesukaanmu ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Orang yang bersumpah cerai".&lt;br /&gt;Nabi :"Siapa kekasihmu ?".&lt;br /&gt;Iblis :"Orang yang meninggalkan shalat Jum'at".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi :"Wahai terlaknat, siapa yang memotong punggungmu ?".&lt;br /&gt;Iblis :"Ringkikan kuda untuk berperang di jalan Allah".&lt;br /&gt;Nabi :" Apa yang melelehkan badanmu ?".&lt;br /&gt;Iblis:"Tobatnya orang yang bertaubat".&lt;br /&gt;Nabi:"Apa yang menggosongkan [membuat panas] hatimu ?".&lt;br /&gt;Iblis:" Istighfar yang banyak kepada Allah siang-malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi:" Apa yang memuramkan wajahmu (membuat merasa malu dan hina)?".&lt;br /&gt;Iblis:": Zakat secara sembunyi-sembunyi".&lt;br /&gt;Nabi:" Apa yang membutakan matamu ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Shalat diwaktu sahur [menjelang shubuh]".&lt;br /&gt;Nabi:" Apa yang memukul kepalamu ?".&lt;br /&gt;Iblis:" Memperbanyak shalat berjamaah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi:" Siapa yang paling bisa membahagiakanmu ?".&lt;br /&gt;Iblis :" Orang yang sengaja meninggalkan shalat".&lt;br /&gt;Nabi:" siapa manusia yang paling sengsara [celaka] menurutmu?".&lt;br /&gt;Iblis:"Orang kikir / pelit".&lt;br /&gt;Nabi:" Siapa yang paling menyita pekerjaanmu [menyibukkanmu] ?".&lt;br /&gt;Iblis:" Majlis-majlis ulama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi:" Bagaimana kamu makan ?".&lt;br /&gt;Iblis:"Dengan tangan kiriku dan dengan jari-jariku".&lt;br /&gt;Nabi:"Dimana kamu lindungkan anak-anakmu ketika panas ?".&lt;br /&gt;Iblis:" Dibalik kuku-kuku manusia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi:" Berapa keperluanmu yang kau mintakan kepada Allah ?".&lt;br /&gt;Iblis:" Sepuluh perkara".&lt;br /&gt;Nabi:" Apa itu wahai terlaknat ?".&lt;br /&gt;Iblis :" &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(1)&lt;/b&gt;Aku minta kepada-Nya untuk agar saya dapat berserikat dalam diri Bani Adam, dalam harta dan anak-anak mereka. Dia mengijinkanku berserikat dalam kelompok mereka.&lt;br /&gt;Itulah maksud firman Allah : Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS. 17:64)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(2)&lt;/b&gt;Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(3)&lt;/b&gt;Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan ketika bersetubuih dengan istrinya maka syaithan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah :" ??. , dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki ?? (QS. 17:64) .&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(4)&lt;/b&gt;Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar-mandi.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(5)&lt;/b&gt;Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(6)&lt;/b&gt;Aku memohon agar saya punya al-Qur'an, maka syair adalah al-Qur'anku.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(7)&lt;/b&gt;Saya memohon agar punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(8)&lt;/b&gt;Saya memohon agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(9)&lt;/b&gt;Saya memohon agar saya punya teman-teman yang menolongku, maka maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(10)&lt;/b&gt;Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfaq-kan harta kekayaannya untuk kemaksiyatan adalah teman dekat-ku. Ia kemudian membaca ayat : &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al Israa': 27)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah berkata :" Andaikata tidak setiap apa yang engkau ucapkan didukung oleh ayat-ayat dari Kitabullah tentu aku tidak akan membenarkanmu".&lt;br /&gt;Lalu Iblis meneruskan :" Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam sementara mereka tidak dapat melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku dapat mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku dapat berjalan kemanapun sesuai dengan kemauanku dan dengan cara bagaimanapun. Kalau saya mau, dalam sesaatpun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku :" Engkau dapat melakukan apa saja yang kau minta". Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memiliki anak yang saya beri nama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(1)&lt;/b&gt; Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Isya. Andaikata tidak karenanya tentu ia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(2)&lt;/b&gt; Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan ibadah dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamer-kan ditengah-tengah manusia sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala-Nya sehingga yang tersisa hanya satu pahala, sebab, setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(3)&lt;/b&gt; Kuhyal. Ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang ada di majlis pengajian dan ketika khatib sedang memberikan khutbah, sehingga, mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Bagi mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(4)&lt;/b&gt; Setiap kali ada perempuan keluar pasti ada syaithan (kedua anaku) yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua syaithan itu kemudian berkata kepadanya,' keluarkan tanganmu'. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak dapat menyesatkan sedikitpun, akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikata saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak akan membiarkan segelintir manusia-pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan " Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya", dan tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak memberikan hidayat sedikitpun kepada siapa saja, akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanah dari Tuhan. Andaikata engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang-pun kafir di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai hujjah [argumentasi] Tuhan terhadap makhluq-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya adalah hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman dalam QS Hud : Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, (QS. 11:118) kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguh-nya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. 11:119) dilanjutkan dengan : Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (QS. 33:38)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Iblis : " Wahai Abu Murrah [Iblis], apakah engkau masih mungkin bertaubat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjamin-mu masuk surga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia Iblis menjawab :" Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam-pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka Maha Suci Tuhan, yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khatib para penduduk surga. Dia, telah memilih dan meng-khususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluq celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu dan saya mengatakan yang sejujurnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya milik Allah SWT , Tuhan Semesta Alam, awal dan akhir, dzahir dan bathin. Semoga shalawat dan salam sejahtera tetap selalu diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan Para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah dari Kisah tersebut di atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai upaya mencari hikmah dalah kisah di atas, rangkuman ini barangkali berguna untuk direnungkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kita perlu semakin menancapkan keyakinan, bahwa syaithan tidak punya kuasa sedikitpun bagi orang-orang yang disucikan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jadi upaya kita adalah memohon kepada Allah Ta'Ala agar Dia ridho dan berkenan membersihkan segala dosa baik sengaja maupun tidak untuk mendapatkan ampunan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bila kita simak, perbedaan mendasar keyakinan Iblis adalah tidak ada keinginannya untuk bertaubat, walau Rasulullah SAW telah menghimbaunya bahkan dengan menawarkan jaminan untuk mendapatkan ampunan. Dengan tegas Allah berfirman : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. 20:82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bila kita cermati hadangan dan rintangan yang akan dilakukan oleh Iblis dari kisah tersebut membuat kesadaran bahwa upaya untuk menjalani kehidupan sungguh tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hanya karena Maha Rahman dan Maha Rakhiim-Nya sajalah kita akan selamat dalam menjalani kehidupan ini hingga akan selamat dari jebakan-jebakan syaithan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu juga di-ingat, Rasulullah juga pernah mengata-kan bahwa Jihad Terbesar adalah Mengalahkan Hawa Nafsu Kita Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dari berbagai referensi yang ada, cara yang yang jitu untuk berusaha menghindar dari godaan syetan yang terkutuk dalam bentuk apapun, hanya dengan meminta pertolongan kepada Alloh, paling tidak rajin-rajinlah mengucapkan Ta’awudz dan istighfar, jika diperlukan ditambah dengan sural al-Falaq, surat An-nas, ayat kursi (ada riwayatnya dari pengalaman abu haraira), dan surat albaqoroh. Karena dengan alasan, yang menguasai syetan dan iblis hanyalah Alloh, maka rajin-rajinlah meminta perlindungan kepada Alloh dalam segala Hal termasuk dalam beribadah, agar terhindar dari segala bentuk jebakan syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bacalah “Robbi A’uudzubika min hamazatisy syayaatiini wa a’udzubika robbi iy yakhdhuruun (ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mudari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar merek tidak mendekatiku (QS. Al-Mu’minun 97-98]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Au dzu billahi minasyaithoni rrojiim…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wallahu bisho wab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-1244032570075725312?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/1244032570075725312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/dialog-rasullullah-muhammad-saw-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/1244032570075725312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/1244032570075725312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/dialog-rasullullah-muhammad-saw-dengan.html' title='Dialog Rasullullah Muhammad SAW dengan iblis'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-7053388569354636885</id><published>2011-06-06T23:29:00.000-07:00</published><updated>2011-06-10T10:59:32.315-07:00</updated><title type='text'>Muhammad SAW. ( Rasullullah )</title><content type='html'>&lt;b&gt;1. Kelahiran Sang Nabi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sangat kritis ini muncullah sebuah bintang pada malam yang gelap gulita, sinarnya semakin terang membuat malam menjadi terang benderang, ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah maha bintang yang terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di dalam dada, ia dikenal dengan Nama Muhammad, menurut sejarawan bintang ini tepat terlahir tanggal 17 Rabi’ul Awwal (12 Rabi’ul awwal menurut mazhab sunni) 570 M, bintang ini tak pernah padam walaupun 14 abad setelah ketiadaannya, bahkan ia semakin terang dan semakin terang, dari bintang ini terlahir 13 bintang yang lain, yang selalu menjadi hujjah bagi bintang-bintang yang sulit bersinar lainnya di setiap zamannya. Ia memiliki silsilah yang berhubungan langsung dengan jawara Tauhid melalui anaknya Ismail AS, yang dilahirkan melalui rahim-rahim suci dan terpelihara dari perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan. Ia begitu suci sehingga Tuhan memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk bersujud kepada Adam, karena cahayanya dibawa oleh Adam AS untuk disampaikan kepada maksud, ia adalah rencana Tuhan yang teramat besar yang langit dan bumi pun tak kan sanggup memikulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kelahiran sang bintang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luarbiasa, dimulai dengan peristiwa padamnya api “abadi” di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di sana, dan penyerangan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah, yang di kemudian hari menjadi kiblat baginya dan ummatnya sampai akhir zaman, namun tentara yang besar ini dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Sang Pemilik kiblat (Ka’bah), karenanya tahun ini dinamakan tahun Gajah. Sudah menjadi tradisi kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului peristiwa yang luar biasa. Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah, Ibundanya Aminah, kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir kedunia hanya untuk membawa nur Muhammad dan “meletakkannya” ke dalam rahim Aminah, Sang isteri saat itu mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat. Namun pada saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya, datanglah seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah, mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata – kata ini kepada wanita ini, ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di abwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik – baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam mimpinya sang wanita mulia ini berkata : “Kelak bayi yang ada didalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik – baik hingga kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ayahanda Muhammad yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain – 17 tahun), sang bintang kita ini sedang berada dalam kandungan ibunya, beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya, belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun. Setelah kepergian sang kakek, sang bintang (Muhammad) diasuh oleh pamannya, Abu Tholib, seorang putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada kemenakannya sendiri (Muhammad). Pemandu ilahi selalu saja dipilihkan oleh Ilahi untuk memiliki profesi sebagai seorang gembala, melalui profesi ini beliau mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk menjadi “gembala” domba yang lebih besar, inilah pilihan Ilahi yang memilihkan baginya sebuah jalan dimana hal ini penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang hina yang berpikiran sampai menyembah aneka batu dan pohon, ilahi menjadikannya kuat sehingga tidak menyerah kepada apapun kecuali keputusan-Nya. Ada penulis sirah yang mengutip kalimat Nabi berikut ini, “ Semua Nabi pernah menjadi gembala sebelum beroleh jabatan kerasulan.” Orang bertanya kepada Nabi,” Apakah Anda juga pernah menjadi gembala?” Beliau menjawab,” Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan domba orang Mekah di daerah Qararit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang bintang terlahir bukan dari kalangan orang yang teramat kaya, belum lagi ia dilahirkan sebagai seorang yatim, dan telah kehilangan Ayah, Ibu di masa kecil sebagai tempat bernaung, apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedangkan dia sendiri masih membutuhkan naungan kedua orang tua dan kasih sayang mereka. Mari kita masuk ke jazirah Arabia lebih jauh lagi, kita dapat melihat bahwa kondisi keuangan Muhammad terbilang cukup sulit. Muhammad terkenal dengan kemuliaan rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq dan dirinya dikenal di masyarakat sebagai “orang jujur” (al-Amin), ia menjadi salah seorang kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain. Kafilah Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, siap bertolak, kafilah tiba di tempat tujuan. Seluruh anggotanya mengeruk laba. Namun, laba yang diperoleh Nabi lebih banyak ketimbang lain. Kafilah kembali ke Makkah. Dalam perjalanan, Sang bintang melewati negeri ‘Ad dan Tsamud. Keheningan kematian yang menimpa kaum pembangkang itu mengundang perhatian sang bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafilah mendekati Mekah, Maisarah, berkata kepada sang Bintang, “Alangkah baiknya jika Anda memasuki Mekah mendahului kami dan mengabarkan kepada Khodijah tentang perdagangan dan keuntungan besar yang kita dapatkan.” Nabi tiba di Mekah ketika Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari turun dan mengajak Nabi ke ruangannya. Nabi menyampaikan, dengan menyenangkan, hal-hal menyangkut barang dagangan. Maisarah menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin selama perjalanan dan perdagangan. Maisarah menceritakan “Di Busra, Al-Amin duduk di bawah pohon untuk istirahat. Seorang pendeta, yang sedang duduk di biaranya, kebetulan melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya kepada saya, kemudian ia berkata, ‘Orang yang duduk di bawah naungan pohon itu adalah nabi, yang tentangnya telah saya baca banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil.&lt;br /&gt;Kemudian Khodijah menceritakan apa yang didengarnya dari Maisarah kepada Waraqah bin Naufal, si hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, “Orang yang memiliki sifat-sifat itu adalah nabi berbangsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Menjadi Rasul&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Maha Sakti, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Al-Qur’an, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan sia-sia, dan celaka. Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Tuhan semesta Alam, Sang Pemilik Konsep, untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada Al-amin yang berada di Gunung Hira’. Al-Amin telah mempersiapkan dirinya selama empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini, Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat dari Tuhannya. Ialah kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-qur’an sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: x-large;"&gt;                 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: xx-small;"&gt; (96:1)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: x-large;"&gt;                 خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: xx-small;"&gt; (96:2)                &lt;/span&gt;                                 &lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: x-large;"&gt;                 اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: xx-small;"&gt; (96:3)                &lt;/span&gt;                                 &lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: x-large;"&gt;                 الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: xx-small;"&gt; (96:4)                &lt;/span&gt;                                 &lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: x-large;"&gt;                 عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: xx-small;"&gt; (96:5)                &lt;/span&gt;                                 &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=4500486336722853131&amp;amp;postID=7053388569354636885" name="096-001"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: x-large;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=4500486336722853131&amp;amp;postID=7053388569354636885" name="096-001"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini dengan tegas menyatakan tentang program Nabi, dan menyatakan dalam istilah-istilah jelas bahwa fondasi agamanya diberikan dengan pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan, dan penggunaan pena.&lt;br /&gt;Muhammad, pembawa berita bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafa’at. Tidak satupun mahkluq yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad, sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah “Khodijah”. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril menyapanya,”Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril”. Muhammad menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur, fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah ‘Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya, selesai makan, beliau berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata,” Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat). “Lalu beliau menambahkan, “Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pidato Nabi mencapai poin ini, kebisuan total melanda pertemuan itu. ‘Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan mantap,” Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda.” Nabi menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali ‘Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata,” Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian. Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakluman khilafah (imamah) ‘Ali di hari-hari awal kenabian Muhammad memperlihatkan bahwa dua kedudukan ini berkaitan satu sama lain. Ketika Rosulullah diperkenalkan kepada masyarakat, khalifahnya juga ditunjuk dan diperkenalkan pada hari itu juga. Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa kenabian dan imamah merupakan dua hal yang tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran ‘Ali. Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad, suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,” Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya…”.&lt;br /&gt;Abu Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata,“ Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda.” Nabi menjawab,” Saya tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka.” Abu Jahal bangkit sambil berkata, “ Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya.” Nabi menjawab,” Kalian harus mengakui keesaan Tuhan.” Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata,” Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu Allah saja?”&lt;br /&gt;Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan,&lt;br /&gt;“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata,’Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.’ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka [seraya berkata], ‘Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu’ith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan – pria serta beberapa orang tak terlindung. Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.&lt;br /&gt;Pasukan Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Qur’an, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Qur’an Allah berfirman&lt;br /&gt;“Demikianlah, tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mengatakan,’ Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syi’ib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syi’ib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan ‘Am Al-Huzn (Tahun Duka cita). Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya,” Ayah, kemana Ibu?” Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya. Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad, akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robi’ul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, ‘Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan lanjut usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Qur’an merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata,&lt;br /&gt;“Dan [ingatlah] ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi, Ali, sekali lagi ‘Ali. Kepadanya Nabi berkata,”Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib. ‘Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Hijrah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tiba fajar. Semangat dan gairah besar tampak di kalangan musyrik itu. Mereka begitu yakin akan segera berhasil. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang menimbulkan suara gaduh. Serentak ‘Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu berkata dengan sangat tenag,”Apa yang terjadi ?” Mereka menjawab,”Kami mencari Muhammad. Di mana dia?” ’Ali berkata,” Apakah anda menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali kepada Anda? Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah.” Muhammad telah pergi jauh di luar pengetahuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi, tiba di Quba tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Sejumlah Muhajirin dan Ansor sedang menunggu kedatangan Nabi. Beliau tinggal di situ sampai akhir pekan. Sebagian orang mendesak agar beliau segera berangkat ke Madinah, tetapi beliau menunggu kedatangan ‘Ali. Orang Quraisy mengetahui hijrahnya ‘Ali dan rombongannya – diantaranya ialah Fatimah, puteri Nabi, Fatimah binti ‘Asad dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib – karena itu, mereka memburunya dan berhadap-hadapan dengan dia di daerah Zajnan. Perselisihan pun terjadi dan ‘Ali berkata “Barangsiapa menghendaki tubuhnya terpotong-potong dan darahnya tumpah, majulah! Tanda marah nampak di wajahnya. Orang-orang Quraisy yang merasa bahwa masalah telah menjadi serius, mengambil sikap damai dan berbalik pulang.” Ketika ‘Ali tiba di Quba, kakinya berdarah, dikarenakan menempuh perjalanan Makah Madinah dengan berjalan kaki. Nabi dikabari bahwa, ‘Ali telah tiba tapi tak mampu menghadap beliau. Segera nabi ke tempat ‘Ali lalu merangkulnya. Ketika melihat kaki ‘Ali membengkak, air mata Nabi menetes".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Yastrib – yang kemudian berganti menjadi nama Madinah - menyambut kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara. Pada perang Badar ‘al-washi (‘Ali) dan Hamzah tampil menghadapi pemberani kafir Quraisy, dalam sepucuk suratnya kepada Muawiyah, ‘Ali mengingatkannya dalam kata-kata ‘Pedang saya yang saya gunakan untuk membereskan kakek anda dari pihak ibu (Utbah, ayah dari Hindun Ibu Muawiyah), paman anda dari pihak Ibu (Walid bin Uthbah) dan saudara Anda (Hanzalah) masih ada pada saya. Pada perang Uhud Nabi dan lagi-lagi Hamzah dan ‘Ali tidak pernah Absen, ‘Ali adalah pembawa panji dalam setiap peperangan. Nabi mengungkapkan nilai pukulan ‘Ali pada perang Khandaq (parit) – disebut juga dengan Ahzab – kepada ‘Amar bin ‘Abdiwad itu,” Nilai pengorbanan itu melebihi segala perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan kafir terbesar itu kaum Muslim menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi aib dan terhina".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Benteng Khaibar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perang Khaibar ketika semangat kaum muslim mengendur dan merasa tidak mampu untuk menghancurkan benteng Khaibar, orang-orang menunggu dengan gelisah dan ketakutan, karena sebelumnya Abu Bakar dan Umar tidak ada yang mampu menghancurkan benteng, bahkan ‘Umar memuji keberanian pemimpin benteng, Marhab,yang luar biasa yang membuat Nabi dan para komandan Islam kecewa atas pernyataan ‘Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebisuan orang-orang sedang menunggu dengan gelisah dipecahkan oleh kata-kata Nabi,” Dimanakah ‘Ali? “ Dikabarkan kepada beliau bahwa ‘Ali menderita sakit mata dan sedang beristirahat di suatu pojok. Nabi bersabda,” Panggil dia.” ‘Ali diangkut dengan unta dan diturunkan di depan kemah Nabi.” Pernyataan ini menunjukkan sakit matanya demikian serius sampai tak mampu berjalan. Nabi menggosokkan tangannya ke mata ‘Ali seraya mendoakannya. Mata ‘Ali langsung sembuh dan tak pernah sakit lagi sepanjang hidupnya. Nabi memerintahkan ‘Ali maju, menurut riwayat pintu benteng Khaibar itu terbuat dari batu, panjangnya 60 inci, dan lebarnya 30 inci. Mengutip kisah pencabutan pintu benteng Khaibar itu dari ‘Ali melalui jalur khusus,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencabut pintu Khaibar dan menggunakannya sebagai perisai. Seusai pertempuran, saya menggunakannya sebagai jembatan pada parit yang digali kaum Yahudi.” Seseorang bertanya kepadanya,” Apakah Anda merasakan beratnya?” ‘Ali menjawab,” Saya merasakannya sama berat dengan perisai saya.” Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain selain peperangan untuk melawan kebejatan kaum kafir Quraisy, banyak juga peristiwa yang menggembirakan, misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Nabi, perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Ka’bah di Makah. Selain serangan dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda, walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Fath Makkah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kedelapan Hijrah, perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh orang-orang Quraisy mekah, Nabi segera mengeluarkan perintah kesiagaan umum. Beliau siapkan pasukan besar yang belum pernah disaksikan kehebatannya selama ini. Ketika pasukan telah lengkap dan siap bergerak, Nabi pun menyampaikan bahwa sasarannya adalah Mekah. Pasukan bergerak laksana migrasi kawanan burung menuju arah selatan. Nabi memerintahkan kepada pasukannya yang berjumlah 10.000 orang untuk membagi diri, dan menyalakan api unggun di malam hari agar pasukan musuh melihat betapa besar pasukan musuh tersebut.&lt;br /&gt;Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak di punggung Mekah, kaum muslimin membuat kubah untuk Nabi. Dari kubah inilah Nabi mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke kota dari empat penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makkah... Membisu di depan Nabi dan pendukungnya. Ya Mekah membisu dan tidak lagi menyerukan teriakan Fir’aun-fir’aun, digantikan hiruk pikuk suara 10.000 prajurit Muslim yang menggema yang seakan-akan sedang menunggu kedatangan sahabatnya&lt;br /&gt;Gua itu menatap kepada orang yang dulu berada dalam perutnya dalam keadaan terusir yang kini telah berdiri tegap dengan gagah dan dikelilingi puluhan ribu pengikut dan pembelanya.&lt;br /&gt;Nabi memasuki Mekah dan bertawaf, menghancurkan berhala-berhala bersama al-Washi, tidak ada darah yang tertumpah. Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka, namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan kepada mereka yang telah memeranginya pengampunan dan beliau berkata “... Pergilah, Anda semua adalah orang-orang yang dibebaskan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di Shafa, laki-laki yang telah membuat sejarah itu telah kembali, berdiri di depan kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih, kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah. Orang –orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa untuk memberikan Ba’iat.&lt;br /&gt;Setelah penaklukan Mekah masih ada beberapa peperangan besar berlanjut – semasa hidup Nabi - yaitu Hunain, Tabuk. Al-Washi tampil dengan gagah perkasa dalam peperangan ini, sesudah membuat kocar-kacir musuh, al-washi segera menghambur untuk bergabung dengan Nabi, ia memutari Nabi, dan menghambur membabat musuh untuk melindungi Nabi, dan pada kali yang lain menemui prajurit musuh yang lari dan menghadang kejaran musuh. Sesudah itu kembali memutari Nabi. Nabi memanggil sahabat-sahabatnya yang lari cerai-berai “ Ayyuhan Nas, mau kemana kalian ?” Wahai orang-orang yang ikut bai’at al-Ridwan! Wahai, orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al-Baqarah! Wahai orang-orang yang berbaiat di bawah pohon...! orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan, “Labbaik, Labbaik... Kami datang, kami datang...!”&lt;br /&gt;Pasukan Islam kembali memenangkan pertempuran, peran individual Muhammad dalam menyampaikan risalah agungnya telah selesai, dan kini – tidak bisa – tidak di harus melihat pasukannya, untuk kesekian kalinya, mengingat dan mengenang kembali pelajaran yang telah diberikannya selama dua puluh tiga tahun, agar di bisa mengevaluasidan menelitinya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Haji Wada&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqa’idah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak... seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,”Labbaik, Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu...Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu...” Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan – dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang – bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu dalam pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita yang membacakan hikayat-hikayat Fir’aun, Kisra dan Kaisar. Sejarah sekali melihat Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran! Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan pengikut-pengikutnya pun demikian pula. Nabi memang berjalan kaki bersama umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa “penguasa” itu berada di tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika dicari-carinya, dia tak bisa menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4 Dzulhijjah, disitu telah berkumpul Allah, Ibrahim, Ka’bah dan Muhammad. Dia juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah diantarkan kepada Maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,”Tahukah kalian, bulan apa ini ?”&lt;br /&gt;Mereka serentak menjawab,”Bulan Haram!” .....&lt;br /&gt;...”Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya... Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya.....”&lt;br /&gt;Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan “Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-7053388569354636885?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/7053388569354636885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/muhammad-saw-rasullullah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7053388569354636885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7053388569354636885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/muhammad-saw-rasullullah.html' title='Muhammad SAW. ( Rasullullah )'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-9121989460868713057</id><published>2011-06-05T16:36:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T16:36:23.521-07:00</updated><title type='text'>Mahram</title><content type='html'>Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Mahram karena nasab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ayah kandung, kakek dari jalur ayah maupun dari jalur ibu dan seterusnya keatas (kalo ada buyut), saudara kandung laki-laki, anak kandung, cucu dan seterusnya kebawah (kalo ada cicit), saudara laki2 kandung ayah (yaitu paman dari jalur ayah), saudara laki-laki kandung ibu(paman dari jalur ibu), saudara laki-laki kandung kakek, saudara kandung laki-laki nenek, anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki/perempuan (yaitu keponakan laki-laki), cucu saudara kandung dan seterusnya kebawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Mahram karena pernikahan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Suami, ayah suami (mertua), kakek dari suami, anak laki-laki dari suami (anak tiri), suami dari anak (menantu), suami ibu (ayah tiri), suami nenek (kakek tiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Mahram karena susuan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anak susuan, anak dari anak susuan (cucu susuan) dan seterusnya ke bawah, Ayah susuan, Ayah dari ayah/ibu susuan, saudara laki-laki dari ayah susuan, saudara laki-laki dari ibu susuan, saudara laki-laki sesusuan, anak laki-laki dari saudara sesusuan, cucu laki-laki dari saudara sesusuan dan seterusnya ke bawah.&lt;br /&gt;(note: urutan mahram susuan sama dgn urutan mahram karena nasab berdasarkan hadits &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Darah susuan mengharamkan seperti apa yang diharamkan oleh darah nasab”[HR. Al Bukhari dan Muslim])&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:&lt;br /&gt;1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalilnya adalah,&lt;b&gt;&lt;em&gt;“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…” An-Nisa(4): 23&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Kelompok kedua, juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan ALLOH SWT,&lt;/em&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;“Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.”&lt;/em&gt; An-Nisa(4):23.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menunjukkan dan menjelaskan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susu itu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu. Ini menunjukkan secara tanbih bahwa suaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandung dari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama. &lt;br /&gt;Dengan demikian, anak si ibu tidak diperbolehkan menikah dg anak sepersusuan, karena keduanya (berdasar ayat di atas) sudah menjadi mahram. Kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara (keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah. Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.&lt;br /&gt;2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari referensi lain, ada hal yg masih ‘diperdebatkan’…yakni masalah definisi sepersusuan. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman ALLOH SWT,&lt;b&gt;&lt;em&gt;“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya.”&lt;/em&gt; Al-Baqarah(2): 233&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha muttafaqun ‘alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan. &lt;br /&gt;Selain itu, yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-9121989460868713057?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/9121989460868713057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/mahram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/9121989460868713057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/9121989460868713057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/mahram.html' title='Mahram'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-7144025524177697705</id><published>2011-06-05T15:52:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T17:11:57.589-07:00</updated><title type='text'>Memories Of Me</title><content type='html'>Sebenernya tulisan ini dah lama banget ada.. awalnya ku tulis di dalam blog friendster, sekarang ku coba pindahin aja..&lt;br /&gt;Ini ku tulis saat hatiku bener2 hancur, untuk pertama kalinya seorang perempuan yang ku harapkan dapat menjadi teman hidup meninggalkan ku dengan berlinangan air mata tanpa penjelasan dan tanpa sebab, sementara aku cuma diam tak mengerti apa2..&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hari-hari seperti janggal rasanya..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kosong,hampa tanpa ada arti bener-bener sepi..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sampai seseorang mengenalkannya padaku..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia tidak cantik sepeti&amp;nbsp; artis-artis di TV..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia tidak indah seperti puisi puisi cinta..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Dia adalah dia..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dengan senyumnya tentramkan seluruh jiwa..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia adalah dia..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dengan tawanya hilangkan beban di hati..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia adalah dia..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dengan tutur katanya membuat aku mengerti arti cinta sesungguhnya, tetapi..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;dia?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Aku tak mengerti mengapa pergi begitu saja..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tanpa suara dan kata-kata yang biasa ia suguhkan kepadaku..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kini hilang tanpa arti..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;dia ?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Aku tak mengerti mengapa pergi begitu saja..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tanpa aku sadari,tanpa aku mengerti..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Seperti mimpi buruk yang terus hadir berulang kali..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Membuatku terjaga di malam hari..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hampa dan fana..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Air mata mengalir tanpa terasa.. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hanya hati yang merintih dan berbicara..&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;"Safe me..&amp;nbsp; ya Allah"&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Namun dengan kejadian itu memberikan banyak perubahan positif pada diriku..&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Pembelajaran islam tentang hubungan lelaki dan perempuan yang bukan &lt;i&gt;&lt;b&gt;mahram&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; nya membuka pikiranku.&lt;br /&gt;Islam ilmunya begitu luas, banyak hal yang belum aku mengerti tentang agamaku sendiri.. Agama yang ku dapat sejak aku lahir ke dunia ini. Agama yang di turunkan oleh Allah SWT. kepada rasullullah Muhammad SAW.sebagai agama yang &lt;i&gt;&lt;b&gt;rahmatan lil alamin&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Anbiya’ ayat 107:&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi semesta alam”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ya Allah kau lahirkan aku dalam keluarga Islam...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-7144025524177697705?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/7144025524177697705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/memories-of-me.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7144025524177697705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7144025524177697705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/memories-of-me.html' title='Memories Of Me'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-676787552650315396</id><published>2011-06-05T05:42:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T05:49:14.044-07:00</updated><title type='text'>Khitbah</title><content type='html'>Duh, judulnya kok provokatif banget ya? Hmm… nggak juga kok? Lagian kena­pa musti ditutup-tutupi, iya nggak? Masak kita kalah sama yang aktivis pacaran. Mereka sampe nekat over acting di depan banyak orang. Nggak tanggung-tang­gung, mereka cuek aja bermes­raan. Nggak peduli lagi dengan orang di sekitar­nya. Bahkan mungkin ada rasa puas udah bisa ngasih ‘hibu­ran’ ke orang lain. Hih, dasar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat aja di angkot, di pasar, apalagi di mal, ada aja pasangan ilegal ini yang nekat melakukan adegan yang bisa bikin orang yang ngeliat merasa muak dan sebel. Aksi nekat dan berani malu memang. Hubungan gelap dan liar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran dikatakan hubungan gelap? Ya, sebab, ikatan antara laki-laki dan wanita yang sah dalam pandangan Islam adalah dengan khitbah dan nikah. Nggak ada selain itu. Dengan demikian yang boleh dibilang sebagai hubungan yang ‘terang’ itu adalah khitbah dan nikah itu. Namun demikian, jangan dianggap bahwa khit­bah sama dengan pacaran islami, lho. Itu salah besar sodara-sodara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat muda muslim, khitbah dalam bahasa Indonesia artinya meminang. Udah per­nah kenal istilah ini? Jangan sampe kuper ya? Apalagi selama ini, kayaknya banyak juga dari kita yang nggak kenal istilah-istilah islami. Yang kita hapal betul dan udah terformat dalam otak dan pikiran kita adalah istilah dan aturan main yang bukan berasal dari Islam. Jadinya ya pan­tes aja nggak ngeh, bahkan mungkin nggak ke­nal sama sekali. Memprihatinkan memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, kita lebih kenal dan paham isti­lah pacaran. Akibatnya, sebagian besar dari kita mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maklum, perbuatan itu kan selalu berban­ding lurus dengan pemahaman. Itu mutlak lho, nggak bisa ditawar-tawar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujungnya, ada juga yang kemudian meng­anggap bahwa pacaran adalah semacam akti­vitas ‘wajib’ bagi orang dewasa, ketika ingin memilih or mencari pasangan hidup. Itu sebab­nya, jangan heran pula kalo ada ortu yang begitu resah dan gelisah ketika menyaksikan anak gadisnya masih menyendiri. Pikiran­nya selalu yang serem-serem. Ujungnya, untuk mengusir perasaan itu, nggak sedikit ortu yang tega ngomporin anaknya supaya nyari pasang­an. Dalam beberapa kasus malah lebih mengeri­kan, ada ortu yang ngasih pernyataan, bahwa siapa pun deh pacar anak gadisnya yang penting laki-laki. Wacksss? Nah lho, apa nggak salah tuh? Tentu salah dong dalam pandangan Islam. Kok nggak disuruh nikah? Kok malah dibiarin pacaran dulu? Waduh. Bahaya Mas! Dan, tentunya ada juga di antara mereka yang menjalani aktivitas itu karena memang nggak tahu hukumnya, alias kagak nyaho, jadinya ya kayak begini ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kudu dilakukan sebelum khitbah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ceritanya kalo kita udah serius mau nikah lho. Jadi, untuk temen-temen yang masih SMP or SMU, kayaknya jadikan aja sebagai wawasan ya? Untuk sementara kok. Kali aja nyangkut-nyangkut dikit deh. Biar nggak buta banget. Emang sih kagak enak ati ye, cuma dapet teorinya dong. Praktiknya belum. Tapi nggak apa-apa kan? Kuat nahan aja dulu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat para cowok, sebelum kita ‘nekat’ mengkhitbah pasangan kita. Ada beberapa kri­teria yang kudu jadi patokan kita. Nggak asal aja ya? Pesan kita neh, “Jangan keburu-buru. Gunung tak akan lari dikejar” Kalem aja Mas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, carilah wanita yang sholihah. Abdullah bin Amr berkata bahwa Rasulullah saw suatu saat bersabda:&lt;b&gt;“Dunia ini sesungguhnya merupakan kesenangan, dan kesenangan dunia yang paling baik adalah seorang wanita yang shalih” (HR Ibnu Majah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itu pesan nabi kita sobat. Jadi jangan sekali-kali nyari yang bakalan bikin repot buat kita-kita. Pokoke, jangan ambil risiko deng­an memilih gajah, alias gadis jahiliyah. Masak tega-teganya sih kamu milihinhj buat anak-anak kamu nanti ibunya yang amburadul begitu rupa. Dan tentunya biar peluang kamu gede untuk dapetin gadis yang sholihah, maka kamunya juga kudu jaim (jaga imej). Kamu musti taat dan sholeh juga dong. Malu atuh, seorang muslim tapi kelakuannya nyontek abis kaum lain. Mana ada cewek baik-baik mau sama kamu yang begitu. Jadi, dua-duanya emang kudu oke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kalo kamu pengen nyari calon istri, sebelum meminta ke ortunya (meng­khitbah), pastikan calon kamu itu oke punya dong. Utamanya dalam soal agamanya. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah juga pernah bersabda:&lt;b&gt;“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunan­nya, karena kecantikannya dan karena agama­nya. Tetapi hendaklah kamu memilih wanita yang beragama. Camkanlah hal ini olehmu.” (HR. Jama’ah kecuali Tirmizi)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Itu bakalan bisa memberikan yang terbaik buat kita. Memang sih, kita kepengen banget dapet pasangan yang wajahnya enak dan sedap dipandang mata. Yang laki barangkali mengkhayal, kali aja dapet istri yang wajahnya kembaran banget ama Shakira or Jessica Alba. Aduh, gimana senengnya kali yee. Begitu juga anak cewek, berharap banget dapet gandengan itu cowok yang mirip-mirip Vaness Wu or Vic Zhou. Wah, bisa-bisa ‘kesetrum’ tuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentunya bakalan percuma aja kalo punya gandengan yang tampilannya oke tapi bikin berabe. Karena doi nggak taat sama Allah. Kalo dalam istilah komputer, jangan sampe kita punya pasangan tipe Windows, tampilan luar sih boleh, tapi dalemnya penuh bugs. Wacksss?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berlaku buat kedua belah pihak dong. Yang laki kudu taat, begitu pun yang wanita. Jangan sampe yang wanita nyablaknya minta maaf (bosen pake ‘ampun’ aja). Gaswat itu. Kalo dalam istilah kom­puter, cewek model gitu katanya tipe moni­tor; genit, senangnya diperha­tiin, suka pamer, padahal belum tentu yang dipamerin bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, paling nggak inilah panduan awalnya sebelum kamu mengkhitbah wanita pujaan hati­mu. Jadi jangan asal aja. Begitu juga kamu yang wanita atau walinya, jangan cuma seneng ngeli­hat cowok atau calon menantunya dari tampilan fisiknya aja, padahal pikirannya amburadul. Inti­nya carilah yang beriman kepada Allah Swt. Abu Nu’im mentakhrij di dalam al-Hilyah, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata: “Yazid bin Mu’awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’ untuk menikahi putrinya. Namun Abu Darda’ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, ‘Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepa­damu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Darda’?” Yazid menjawab, “Celaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.” Temannya berkata, “Perkenan­kan aku untuk menikahinya, semoga Allah mem­berikan kemaslahatan kepadamu.” Terse­rahlah,” jawab Yazid. Ketika Abu Darda’ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Darda’ menerima dan menikahkan­nya. Lalu Abu Darda’ berkata,”Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khitbah saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, iya, ngapain dilama-lamain, kalo emang kamu udah merasa cocok dan yakin dengan pilihanmu dengan kriteria seperti disampaikan di atas. Nggak usah ragu Mas, silakan saja. Kalo masih ragu, coba lakukan sholat istikharah. Siapa tahu tambah ragu, eh, sori, bisa bikin yakin hati kamu. Terus kalo udah siap segalanya? Pokok­nya, bagi yang udah siap nikah neh. Jadi memang kalo belum siap or berani untuk nikah, men­dingan jangan mengkhitbah akhwat. Itu bakalan bikin runyam. Oya, gimana sih cara kita melakukan khitbah sama gadis idaman kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak susah. Kalo kamu udah siap mental, insya Allah kendala yang lain bisa diatasi. Awalnya, pas kamu dapet ‘kembang’ yang bisa membikin hatimu kesengsem, dan itu kemudian terus membetot-betot hatimu untuk selalu tentrem kalo mengingat namanya, apalagi sampe ketemu segala. Nah, kalo kamu berani, bilang aja sendiri sama beliau kalo kamu tuh tertarik. Aduh, ‘radikal’ amat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, nggak juga tuh. Mudahnya begini. Jurus per­tama, tanya dulu, apakah doi udah ada yang punya atau belum. Soalnya jangan sampe kita meminang pinangan orang lain. Bisa gaswat. Namanya juga orang. Punya hati, dan sangat mungkin sakit hati. Kalo sampe begitu, udah mending kalo cuma digebukin pake omongan, lha kalo sampe digebukin pake pen­tungan besi? Nggak mustahil kalo urusannya bisa langsung ngontak tukang gali kubur kan? J Adalah Abu Hurairah yang berkata:&lt;b&gt; &lt;/b&gt;“Ra­sulullah saw. bersabda: &lt;b&gt;"Seorang laki-laki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang oleh saudaranya." (HR. Ibnu Majah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo ternyata gadis itu masih ‘sendiri’? Nggak dilarang kalo kamu ngajuin pinangan. Lebih sueneng lagi kalo doi menyambut cinta kita. Aduh enake. Jadi jurus keduanya, langsung datengin ortunya. Minta langsung kepada mere­ka. Tapi jangan ngeper ya? Jangan sampe pas dateng ke rumahnya, begitu pintu dibuka, yang muncul adalah lelaki setengah baya dengan kumis tebel segede ulet jambu, kamu langsung ngibrit balik lagi. Yee… itu sih kebangetan. Hadapi aja. Nggak usah takut. Kata pepatah; segalak-galaknya macan, nggak bakalan berani makan sendal, eh, anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagian, itu kan boleh dibilang camer (calon mertua), ngapain kudu takut segala. Iya nggak? Sampaikan saja apa maksud kedatangan kamu ke mereka. Bahwa kamu berminat kepada putri mereka, dan serius ingin membina rumah tangga dengannya. Kalo ditolak? Ya, jangan sampe dukun bertindak dong. Itu namanya cinta terpadu, alias terpaksa pakai dukun. Nggak boleh. Kalem aja. Sabar. Kembang tak hanya setaman. Ceileee.. menghibur diri, padahal mah hati serasa kompor meledug! Jadi intinya, kamu mengkhitbah akhwat pujaan hatimu itu langsung ke ortunya. Tentu­nya setelah oke dengan doi dong. Kenapa kudu menyampaikan ke ortunya? Lho, itu kan walinya. Sebab seorang gadis itu dalam pengawasan walinya. Karena walinya (ayah, dan sau­dara dari ayahnya), bertanggung jawab penuh. Terus selain meminta kepada ortunya, dan jika ortu udah oke, boleh nggak melihat calon istri kita? Misalnya, untuk memastikan apakah telinganya masih utuh ada dua-duanya ataukah tidak. Karena kan selama ini nggak kelihatan ditutupi kerudung terus. Intinya, jangan sampe kita beli karung dalam kucing, eh, beli kucing dalam karung. Yup, boleh melihat kok. Tapi bukan seluruh tubuhnya. Bisa gawat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anas bin Malik berkata: “Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan, lalu Rasulullah memberi nasihat kepadanya: “Pergilah untuk melihat perempuan itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk lebih dapat membina kerukunan antara kamu berdua ” Lalu ia pun melaku­kannya, kemudian menikahi perempuan itu, dan ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan perempuan itu. (HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Sobat muda muslim, kayaknya kalo diba­has terus bakalan asyik juga ya? Tapi sayang, buletin ini nggak cukup menampung semua per­soalan itu. Jadi intinya, bagi kamu yang udah siap moril, materiil, maupun ‘onderdil’, segera saja menikah. Mau khitbah dulu juga boleh. Tapi jangan lama-lama. Dan inget, kalo pun udah khitbah, kamu kudu tetep menjaga batasan dalam bergaul. Kan, tetep aja belum sah jadi suami-istri. Makanya, cepetan nikah aja! Dan buat kamu yang masih SMP or SMU, jadikan aja ini sebagai wawasan awal ya? Biar ngeh juga. Jadi, hindari pacaran dan fokus belajar. Untuk yang udah mapan, langsung nikah sajalah. Ya, kalo nikah itu halal, buat apa pacaran? Iya nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;وَ أَنْكِحُوا الْأَيامى‏ مِنْكُمْ وَ   الصَّالِحينَ مِنْ عِبادِكُمْ وَ إِمائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَراءَ   يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ اللهُ واسِعٌ عَليمٌ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antaramu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampu­kan mereka dengan karunia-Nya. Dan Alah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (TQS an-Nûr [24]: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah Swt: Seorang Mujahid di jalan Allah, Mukatab (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melu­nasi pembayarannya, dan seorang yang kawin karena mau menjauhkan diri dari yang haram” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitu sobat. Paham kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_______________________________________&lt;br /&gt;Buletin Gaul Islam - Edisi 116/Tahun ke-3 (23 September 2002)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-676787552650315396?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/676787552650315396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/khitbah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/676787552650315396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/676787552650315396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/khitbah.html' title='Khitbah'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-3582590556948893766</id><published>2011-06-03T01:52:00.000-07:00</published><updated>2011-06-03T06:00:27.008-07:00</updated><title type='text'>Kebenaran Hadist Ini</title><content type='html'>&lt;span class="postbody"&gt;&amp;nbsp;Pertanyaan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="postbody"&gt;Apakah Hadist ini shahih ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="postbody"&gt;uwaid bin Sa'id Al-Hadatsany berkata, kami diberitahu Ali bin Mushir, dari Au Yahya Al-Qattat, dari Mujahid, dari Ibnu 'Abbas radhiyAllahu 'anhuma, dari Nabi shallAllahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;i&gt;"Barangsiapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar lalu meninggal dunia, maka dia mati syahid."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="postbody"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="postbody"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="postbody"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;أخبرنا أبو بكر أحمد بن علي الحافظ قال: حدثنا أبو الحسن علي بن أيوب القمي قال: حدثنا محمد بن عمران قال: حدثني محمد بن مخزوم قال: حدثني الحسن بن علي الأشناني وأحمد بن محمد بن مسروق قالا: حدثنا سويد بن سعيد قال: حدثنا علي بن مسهر عن أبي يحيى القتات عن مجاهد عن ابن عباس قال: قال رسول الله، صلى الله عليه وسلم: من عشق فظفر فعف فمات مات شهيداً&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;hadis beserta susunan sanadnya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku diberitahu abu bakr ahmad bin 'ali al-hafidz, berkata : menceritakan kepadaku abu al-hasan 'ali bin ayyub, berkata : menceritakan padaku muhamad bin 'imran, berkata : menceritakan padaku yahya bin makhzum, berkata : menceritakan padaku hasan bin 'ali al-asynani dan ahmad bin muhamad bin masruq, keduanya berkata : menceritakan padaku suwaid bin sa'id, berkata : menceritakan padaku 'ali bin mushir dari abi yahya al-qathtat dari mujahid dari ibn 'abbas : barang siapa sedang rindu ( cinta ), lalu menyembunyikannya , menahan diri kemudian dia mati, maka meninggal dalam keadan syahid.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang jadi masalah disini adalah pada rawi suwaid bin sa'id. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diantara yang mengatakan maudhu' adalah syekh albani&amp;nbsp; dalam &lt;em&gt;dha'if al-jami' al-shaghir&lt;/em&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;الحديث : 12472 - من عشق فعف ثم مات مات شهيدا( خط ) عن عائشة . قال الشيخ الألباني : ( موضوع ) انظر حديث رقم : 5697 في ضعيف الجامع&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;hadis nomor 12472 ; ( al-hadis )...dari 'aisyah. berkata syekh albani : maudhu' ( palsu ). lihatlah hadis nomor 5697 dalam dha'if al-jami' al-saghir&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;tapi syekh sayyid ahmad bin shiddiq al-ghummary dalam juz &lt;em&gt;dar' hadis man 'asyaqa fa 'affa &lt;/em&gt;: &lt;em&gt;mengatakan bahwa hadis ini shahih. yang diikuti oleh ulama dan muhaddis setelahnya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam &lt;em&gt;asna al-mathalib&lt;/em&gt; dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;فيه سويد بن سعد أنكره ابن معين وغيره&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;didalamnya ada suwaid bin sa'id yang diingkari oleh ibnu ma'in&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam &lt;em&gt;al-manar almunif&lt;/em&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;وحديث من عشق فعف فكتم فمات فهو شهيد موضوع على رسول الله &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;hadis nomor 321 :.... (al-hadis )....pendustaan atas nama nabi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi hal ini diinkari dalam &lt;em&gt;al-maqashid al-hasanah&lt;/em&gt; hadis nomor 1153 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;حديث ( من عشق فعف وكتم فمات مات شهيدا )&lt;br /&gt;الخطيب في ترجمة محمد بن داود بن علي الأصبهاني من تاريخه من طريق نفطويه عن محمد المذكور عن أبيه إمام مذهب الظاهر عن سويد بن سعيد عن علي بن مسهر عن أبي يحيى القتات عن مجاهد عن ابن عباس به مرفوعا بلفظ ( فهو شهيد )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;hadis ( man....ila akhirihi ) (dari sanad diatas ) marfu' dg lafadz "fahua syahid"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu juga hadis ini diriwayatkan oleh abu ja'far al-siraj dari hadis hasan bin 'ali al-asynani dan ahmad bin muhamad bin masruq, keduanya dari suwaid ( dg lafadz yang sudah disebutkan diatas )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muncul redaksi lain dari &lt;em&gt;al-maqashid al-hasanah&lt;/em&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;بل عند الديلمي بلا سند عن أبي سعيد مرفوعا ( العشق من غير ريبة كفارة للذنوب )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menurut dailumi ( ketika ) disebutkan tanpa sanad dari abi sa'id statusnya marfu'.&lt;/em&gt;. marfu' artinya sampai ke nabi SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suwaid bin sa'id juga sudah mendapat legalitas untuk riwayatnya dari ahmad bin hanbal. artinya ahmad bin hanbal yang seorang muhaddis besar masih menganggap riwayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;قال الحسن الميموني : سأل رجل أبا عبد الله ، يعني : أحمد ، عن سويد ، فقال : ما علمت إلا خيرا &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;berkata al-hasan almaimuny, bertanya tentang suwaid pada laki-laki yang jadi ayahnya 'abdullah yaitu ahmad, kemudian berkata : saya tidak mengenalnya kecuali kebaikan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walhasil..walaupun ada sebagian ulama yang menghukumi hadis diatas maudhu', tapi ada juga yang menghukumi shahih. pangkal masalah ada pada suwaid bin sa'id yang diperselisihkan hapalannya, kejujurannya dll. tapi disamping ada yang mempermasalahkan, toh masih ada yang menganggapnya tsiqqah seperti ahmad bin hanbal dan muhaddis maghriby syekh shiddiq al-ghummary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;Kita tahu perawi cacat dari mana ?&lt;br /&gt;Apakah ada kitab yang bernama Mustolah hadist ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;Dari kitab takhrij..khan ilmu hadis ada dua. hadis riwayah dan dirayah. ilmu riwayah itu cuma sebatas isi hadis dan kandungannya saja. kalau dirayah didalamnya dibahas tentang sanad, matan, jarh watta'dil dll, yang berfungsi untuk mengetahui status hadis itu shahih atau palsu atau hasan atau yang lain. nah kitab2 tentang takhrij hadis ini bagian dari ilmu hadis dirayah. ilmu hadis dirayah untuk sekarang lebih dikenal dg ilmu musthalah hadis. orang yang mempopulerkan ilmu ini namanya alqadhi abu muhamad al-ramahurmuzy dg kitabnya al-muhaddis alfashil baina al-rawi wa al-wa'y.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musthalah hadis itu fan ilmu. nama kitabnya ya tidak hanya sebatas musthalah hadis saja, seperti punya imam suyuthi tadriburrawi fi taqribinnawawi, muqaddimah ibnu shalah dll. kalau contoh kitab takhrij seperti al-maudhu'at milik ibnu jauzi, almaqashid al-hasanah, nasburrayah dll...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;Apa yang membuat hal tersebut menjadi istimewa sehingga jika yang bersangkutan menahan diri (terhadap dorongan isyiq tersebut) kemudian dia mati, maka meninggal dalam keadaan syahid ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;Jika kita melihat pada makna khusus hadis, kita harus tahu apa pengertian 'isyq..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;الإفراط في المحبة بحيث يستولي المعشوق على قلب العاشق حتى لا يكاد يخلو من تخيله و الفكر فيه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بحيث لا يغيب عن خاطره و ذهنه&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'&lt;em&gt;isyq adalah sikap berlebihan dalam mahabbah ( cinta ) yang menjadikan orang yang dirindukan senantiasa ada di hati orang yang merindu sampai hampir2 hatinya selalu berpikir orang yang dirindukan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari sini kita tahu bahwa tingkatan 'isyq lebih hebat dan dahsyat dari sekedar mahabbah. dalam kitab dzammul hawa, ibnu al-jauzi menjelaskan tingkatan-tingkatan itu sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pandangan mata atau berita yang didengar bila melahirkan rasa senang diungkapkan dg kata 'aliqa ( &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;علق &lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apabila melebih sehingga terbetik keinginan untuk mendekat dinamakan mailun ( &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;ميل &lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan apabila ada keinginan itu mencapai tingkat kehendak untuk menguasainya maka ia dinamakan mawaddah ( &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;مودة &lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian tingkat berikutnya mahabbah ( &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;محبة &lt;/span&gt;), dilanjutkan dg khullah ( &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;خلة &lt;/span&gt;), lalu al-shababah ( &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;الصبابة &lt;/span&gt;), kemudian al-hawa ( &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;الهوى &lt;/span&gt;)....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah setelah melalui ini semua, baru sampai pada tingkatan Al-'isyq (&amp;nbsp; &lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;العشق&lt;/span&gt; ), yaitu bila seseorang bersedia berkorban untuk membahayakan dirinya demi kekasihnya, ataua dg kata lain, perasaan dihati sudah penuh sehingga tidak ada tempat untuk yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibnu qayyim al-jauziah menggambarkan sifat orang yang terkena al-'isyq dalam kitabnya &lt;em&gt;al-da' wa al-dawa' &lt;/em&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;&lt;br /&gt;فعند ذلك تشتغل النفس عن استخدام القوة البدنية و النفسية فتتعطل هذه القوي فيحدث بتعطيلها الكثير من آفات البدن و الروح ما يعز دواؤه و يتعذرفتتغير أفعاله و صفاته و مقاصده&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yaitu ( saat orang terkena 'isyq ) selalu menggunakan kekuatan badan dan jiwa ( karena selalu berpikir dg yang dirindukan ) sehingga kekuatan itu mulai hilang, dan karena penggunaan yang berlebihan itu datanglah penyakit badan dan jiwa, sehingga perbuatannya jadi berubah, sifatnya jadi berubah, dan tujuannya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkata ibnu hazm al-andalusy tentang bahaya al-isyq :&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 15pt;"&gt;&lt;br /&gt;للعشق أضرار كثيرة تصيب الفرد و بالتالي تمتد آثارها على الأسرة و المجتمع و من هذه الأضرار :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• الاشتغال بحب المخلوق و ذكره عن حب الرب و ذكره&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• الاشتغال عن مصالح دينه و دنيا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• آفات الدنيا أسرع إلى الوصول إلى العشاق فأبعد القلوب عن الله قلوب العاشقين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• إذا تمكن من القلب و استحكم و قوى سلطانه أفسد الذهن و أحدث الوساوس و ربما ألحق صاحبه بالمجانين ( مثل مجنون ليلى )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• يفسد الحواس معنويا فيرى القبيح حسنا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;orang yang 'isyq mempunyai bahaya yang sangat banyak, bahkan bahayanya itu bisa sampai melebar pada keluarga dan masyarakat, diantara bahayanya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) hati sibuk dg makhluk dan sehingga mengenyampinkan cinta dan dzikir pada allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) mengindahkan maslahat dunia dan akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) penyakit dunia lebih cepat sampai pada orang yang terkena 'isyqn sehingga menjauhkan dzikir pada allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) jika hati mampu menghalau penyakit ini ( al'isyq ), kadangkala akan merusak hati dan mengakibatkan waswas, bahkan menyebabkan gila. seperti kegilaan laila majnun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) merusak indra ma'nawi. sehingga melihat yang jelek jadi baik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bgitu hebatnya penyakit 'isyq ini, sampai-sampai para ulama menyebut bahwa 'isyq ini obatnya sangat sulit terkecuali memang si penderita benar2 berazam untuk sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sangat pantas jika nabi SAW menjanjikan syahid bagi yang terkena penyakit ini dan bisa menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******************************************************************************&lt;br /&gt;Sebagai tambahan pemaknaannya menggunakan dzauq, tidak serta merta secara harfiah, contohnya :&lt;br /&gt;misalkan&lt;i&gt; dzafara&lt;/i&gt; : memenangkan...nah, memenangkan rasa rindu itu bagaimana ? semua ulama sepakat bahwa memenangkan rasa rindu itu ya dg bersabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;misalkan &lt;i&gt;dzafara 'alalhubb&lt;/i&gt; : dia mengalahkan/memenagkan perasaan cinta itu. disini bisa kita maknai : orang yang menahan cinta pada seorang perempuan, sampai tiba saatnya menikah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;misalkan &lt;i&gt;dzafara 'alal imtihan&lt;/i&gt; ; dia memenangkan ujian. bisa dimaknai : dia mendapat nilai bagus. menang disini artinya dia bisa mengerjakan khan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;misalkan lagi : &lt;i&gt;dzafara 'alal faqr&lt;/i&gt; : dia memenagkan kefaqiran. bisa diartikan : dia menjadi kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[[&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt; dirangkum dari berbagai sumber &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;]]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-3582590556948893766?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/3582590556948893766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/kebenaran-hadist-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3582590556948893766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3582590556948893766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/06/kebenaran-hadist-ini.html' title='Kebenaran Hadist Ini'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-5163563087430716313</id><published>2011-05-04T02:59:00.000-07:00</published><updated>2011-05-04T02:59:57.797-07:00</updated><title type='text'>Menjamak Sholat</title><content type='html'>Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah pernah shalat di Madinah sebanyak tujuh dan delapan rakaat yaitu Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’.&lt;span id="more-1023"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu riwayat Muslim, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, “Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;mengerjakan shalat Zhuhur dan ‘Ashar secara jamak di kota Madinah padahal tidak ada ketakutan, tidak pula sedang bepergian”.&lt;br /&gt;Abu az Zubair mengatakan bahwa aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang mengapa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;berbuat demikian. Kata Sa’id, “Hal itu sudah kutanyakan kepada Ibnu Abbas. Jawaban Ibnu Abbas, “Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;ingin untuk tidak&amp;nbsp; menyusahkan satupun dari umatnya’.&lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim yang lain, “Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ di Madinah padahal tidak ada rasa takut, tidak pula ada hujan” (HR Bukhari no 522 dan Muslim no 705).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kandungan Hadits&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini merupakan dasar pokok &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;disyariatkannya shalat jamak bagi bukan musafir&lt;/span&gt;. Sejumlah ulama berpendapat dengan makna tekstual hadits tersebut. Oleh karena itu, mereka berpendapat bolehnya menjamak shalat ketika tidak bepergian karena ada kebutuhan apapun bentuk kebutuhan tersebut namun dengan syarat tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Sirin, Rabi’ah, Asyhab, Ibnul Mundzir dan al Qoffal al Kabir. Menurut penjelasan al Khatabi hal ini juga merupakan pendapat sejumlah ulama pakar hadits (&lt;em&gt;Fathul Bari &lt;/em&gt;2/24).&lt;br /&gt;Secara langsung hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;menjamak shalat di kota Madinah tanpa udzur. Sedangkan secara tidak langsung hadits di atas menunjukkan bahwa rasa takut, hujan dan bepergian merupakan faktor-faktor yang membolehkan untuk menjamak shalat.&lt;br /&gt;Tidak terdapat penjelasan valid tentang sebab Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menjamak shalat sebagaimana dalam hadits di atas selain penjelasan Ibnu Abbas ‘&lt;em&gt;Nabi ingin untuk tidak menyusahkan satupun dari umatnya&lt;/em&gt;’. Kaedah mengatakan bahwa seorang perawi itu lebih tahu tentang maksud hadits yang dia riwayatkan.&lt;br /&gt;Imam Syafii mengatakan, “Tentang masalah ini terdapat banyak pendapat. Di antaranya adalah Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;menjamak shalat di Madinah dengan tujuan memberi kelonggaran untuk umatnya sehingga tidak ada seorangpun yang berat hati untuk menjamak shalat pada satu kondisi”. Setelah itu beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;” وليس لأحد أن يتأوّل في الحديث ما ليس فيه “&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengotak atik hadits dengan hal yang tidak terdapat di dalamnya&lt;/em&gt;” (&lt;em&gt;Al Umm&lt;/em&gt; 7/205).&lt;br /&gt;An Nawawi mengatakan, “Pendapat ini dikuatkan oleh makna eksplisit dari pernyataan Ibnu Abbas, ‘Nabi ingin agar tidak menyusahkan umatnya’. Ibnu Abbas tidak memberikan alasan karena sakit atau faktor yang lain” (5/219).&lt;br /&gt;Dalam salah satu riwayat Bukhari, Ayub bertanya, “&lt;em&gt;Boleh jadi malam itu turun hujan?&lt;/em&gt;”. Gurunya mengatakan, “Boleh jadi”.&lt;br /&gt;Ibnu Hajar mengatakan, “Kemungkinan karena faktor hujan juga dilontarkan oleh Malik setelah meriwayatkan hadits di atas. … Akan tetapi dalam riwayat Muslim dan Ashabus Sunan disebutkan ‘&lt;em&gt;padahal tidak ada rasa takut, tidak pula ada hujan&lt;/em&gt;’. Sehingga jelaslah bahwa jamak tersebut Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; lakukan bukan karena rasa takut, bepergian atau karena hujan.&lt;br /&gt;Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menjamak shalat ketika itu mungkin karena faktor sakit. Inilah pendapat yang dipilih oleh An Nawawi. Akan tetapi, jika dicermati secara seksama pendapat ini juga tetap kurang tepat. Jika Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;menjamak shalat karena sakit, berarti para shahabat yang shalat bersama beliau hanya para shahabat yang sedang sakit saja. Padahal secara eksplisit Nabi menjamak shalat dengan semua shahabat sebagaimana penegasan yang disampaikan oleh Ibnu Abbas”.&lt;br /&gt;An Nawawi juga mengatakan, “Ada ulama yang menjelaskan bahwa ketika itu ada mendung lalu Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;mengerjakan shalat Zhuhur. Setelah mendung hilang misalnya diketahui bahwa waktu Ashar sudah tiba. Akhirnya Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; lanjutkan dengan shalat Ashar”. Komentar An Nawawi terhadap pendapat ini, “Ini adalah pendapat yang mengada-ada. Meski ada sedikit kemungkinan untuk menerima pendapat ini untuk memahami shalat jamak yang Nabi lakukan untuk shalat Zhuhur dan Ashar. Namun kemungkinan ini jelas tertolak untuk shalat Maghrib dan Isya” (Fathul Bari 2/30).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jamak Shuri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada ulama yang memahami jamak dalam hadits di atas dengan &lt;em&gt;jamak shuri&lt;/em&gt;. Akan tetapi pendapat ini tertolak dengan perkataan perawi, ‘&lt;em&gt;Nabi ingin tidak menyulitkan seorangpun dari umatnya&lt;/em&gt;’.&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata, “Keinginan Nabi untuk menghilangkan kesusahan dari umatnya adalah bantahan terhadap yang mengatakan bahwa jamak tersebut adalah &lt;em&gt;jamak shuri&lt;/em&gt;. Karena jamak shuri itu tidak bisa lepas dari kesulitan” (Fathul Bari 2/31).&lt;br /&gt;Jamak shuri adalah menunda pelaksaan shalat zhuhur -misalnya- sampai di akhir waktunya lalu shalat ashar dikerjakan pada awal waktunya. Nampaknya jamak padahal masing-masing shalat tetap dikerjakan pada waktunya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jamak karena Sakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sakit adalah alasan yang bisa dibenarkan untuk menjamak shalat. Ketika seorang yang sakit kesulitan untuk shalat di waktunya masing-masing maka dibolehkan baginya untuk menjamak shalat.&lt;br /&gt;Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama bersilang pendapat mengenai shalat jamak bagi orang yang sakit baik ketika bepergian ataupun tidak. Sejumlah ulama membolehkan orang sakit untuk menjamak shalat di antaranya adalah Atha’ bin Abi Rabah. Tentang orang sakit Malik mengatakan, “Jika lebih mudah baginya untuk menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar di tengah-tengah waktu Zhuhur maka hal tersebut dibolehkan kecuali jika dia khawatir akan jatuh pingsan sebelum itu maka boleh menjamak setelah zawal/setelah matahari bergeser ke barat. Demikian untuk shalat Maghrib dan Isya’, jamak dilakukan ketika awan merah telah menghilang. Akan tetapi jika si sakit khawatir akan jatuh pingsan maka boleh menjamak shalat sebelum itu. Jamak bagi orang sakit itu hanya dibolehkan bagi orang yang sakit perut atau sakit semisal itu atau orang yang sakitnya parah yang dengan menjamak shalat itu lebih memudahkannya” (&lt;em&gt;Al Ausath&lt;/em&gt; 2/434 dan &lt;em&gt;al Istidzkar&lt;/em&gt; karya Ibnu Abdil Barr 6/36-37).&lt;br /&gt;Al Laits mengatakan bahwa jamak shalat itu dibolehkan bagi orang yang sakit secara umum dan sakit perut secara khusus. Abu Hanifah mengatakan bahwa orang yang sakit itu dibolehkan untuk menjamak shalat sebagaimana jamak yang dilakukan oleh seorang musafir. Ahmad dan Ishaq juga menegaskan bahwa orang yang sakit itu boleh menjamak shalat (&lt;em&gt;Al Istidzkar &lt;/em&gt;6/37).&lt;br /&gt;Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama dari kalangan tabi’in membolehkan orang sakit untuk menjamak shalat. Inilah pendapat Ahmad dan Ishaq. Sebagian ulama juga membolehkan menjamak shalat karena hujan. Inilah pendapat Syafii, Ahmad dan Ishaq. Akan tetapi Syafii tidak membolehkan shalat jamak bagi orang yang sakit” (&lt;em&gt;Jami’ Tirmidzi&lt;/em&gt; 1/357).&lt;br /&gt;Sakit yang membolehkan untuk menjamak shalat adalah jika si sakit akan kesulitan dan fisik tidak mampu untuk mengerjakan shalat pada waktunya masing-masing. Al Atsram mengatakan bahwa Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad pernah ditanya apakah orang yang sakit dibolehkan untuk menjamak shalat. Jawaban Imam Ahmad, “Aku harap demikian jika fisiknya lemah dan tidak mampu mengerjakan shalat kecuali dengan cara demikian. Demikian pula dibolehkan menjamak shalat bagi wanita yang mengalami istihadhah, orang yang terkena penyakit beseren dan orang yang keadaannya sebagaimana mereka” (&lt;em&gt;Mughni &lt;/em&gt;3/136).&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits-hadits seluruhnya menunjukkan bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menjamak shalat dengan tujuan menghilangkan kesempitan dari umatnya. Oleh karena itu, maka dibolehkan untuk menjamak shalat dalam kondisi yang jika tidak jamak maka seorang itu akan berada dalam posisi sulit padahal kesulitan adalah suatu yang telah Allah hilangkan dari umat ini. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa jamak karena sakit yang si sakit akan merasa kesulitan jika harus shalat pada waktunya masing-masing adalah suatu hal yang lebih layak lagi. Demikian pula dibolehkan untuk menjamak shalat bagi seorang yang tidak memungkinkan untuk melakukan bersuci yang sempurna di masing-masing waktu shalat kecuali dengan kerepotan semisal wanita yang mengalami &lt;em&gt;istihadhah &lt;/em&gt;dan kasus-kasus semisal itu” (&lt;em&gt;Majmu’ Fatawa &lt;/em&gt;24/84).&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyyah berkata, “Orang yang menjamak shalat karena safar apakah dia diperbolehkan menjamak secara mutlak ataukah jamak itu hanya khusus bagi musafir. Imam Ahmad dalam masalah ini memiliki dua pendapat baik ketika bepergian ataupun tidak bepergian. Oleh karena itu, Imam Ahmad menegaskan bolehnya jamak karena adanya kesibukkan (yang merepotkan untuk shalat pada waktunya masing-masing).&lt;br /&gt;Al Qadhi Abu Ya’la mengatakan, ‘&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Semua alasan yang menjadi sebab bolehnya meninggalkan shalat Jumat dan shalat jamaah adalah alasan yang membolehkan untuk menjamak shalat&lt;/span&gt;. Oleh karena itu, boleh menjamak shalat karena hujan, lumpur yang menghadang di jalan, angin yang kencang membawa hawa dingin menurut zhahir pendapat Imam Ahmad. Demikian pula dibolehkan menjamak shalat bagi orang sakit, wanita yang mengalami istihadhah dan wanita yang menyusui (yang harus sering berganti pakaian karena dikencingi oleh anaknya)” (&lt;em&gt;Majmu Fatawa&lt;/em&gt; 24/14).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-5163563087430716313?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/5163563087430716313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/05/menjamak-sholat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5163563087430716313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/5163563087430716313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/05/menjamak-sholat.html' title='Menjamak Sholat'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-7000887356007048978</id><published>2011-03-07T07:05:00.000-08:00</published><updated>2011-03-07T07:05:44.039-08:00</updated><title type='text'>Ukhuwah Yang bernilai ibadah</title><content type='html'>Ukhuwah adalah karunia Ilahi yg dituangkan Allah dalam hati2 hamba2Nya yang ikhlas dan bertakwa. Ukhuwah terjalin kerana perasaan cinta yang dilandasi iman dan takwa. Sekalipun ada cinta, jika tak ada dasar iman dan takwa, persaudaraan sukar terwujud dan lebih banyak kemungkinan unk saling bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya Berukhuwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah ukhuwah Islamiyah sangatlah besar kerana itu Allah pun memberikan kedudukan utama dan mulia serta keutamaan yang banyak bg mereka yg mahu mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah salallahu'alaihi wa sallam pernah bercerita:&lt;br /&gt;Seorang laki2 berkunjung kepada saudaranya kerana Allah. Lalu Allah menyuruh seorang malaikat unk mengikuti laki2 itu.&lt;br /&gt;Malaikat bertanya 'Mau kemana engkau?',&lt;br /&gt;laki2 itu menjawab 'Aku mau mengunjungi saudaraku, si Fulan'.&lt;br /&gt;Malaikat berkata 'Apakah engkau punya keperluan dengannya?'&lt;br /&gt;Laki2 itu menjawab 'Tidak ada!',&lt;br /&gt;Malaikat berkata 'Apakah ada pertalian kerabat antara engkau dan dia?',&lt;br /&gt;Laki2 itu menjawab 'Tidak!',&lt;br /&gt;Malaikat berkata 'Barangkali ada satu nikmatnya dgn kunjunganmu kepadanya?',&lt;br /&gt;Laki2 itu menjawa 'Tidak!',&lt;br /&gt;Malaikat bertanya 'Kalau begitu apa keperluanmu?'&lt;br /&gt;Laki2 itu menjawab 'Aku menyenangi dia kerana Allah'&lt;br /&gt;Malaikat berkata 'Sesungguhnya Allah telah mengutus aku untk menyampaikan berita padamu bahwa Allah mencintaimu kerana engkau mencintainya. Maka Allah telah mewajibkan kamu masuk surga (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Ukhuwah Kekal lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nyatakan rasa cintamu (tidak main2...Rasulullah sendiri yang menganjurkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam Hadist Rasulullah:&lt;br /&gt;"Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepadanya" (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saling mendoakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Org yang mendoakan saudaranya pun tdk akan rugi kerana keutamaan doa itu sendiri akan ttp kembali kpd org yg mendoakan, spt dalam sebuah hadist:&lt;br /&gt;" Tidaklah seorang hamba mukmin berdoa unk saudaranya dari kejauhan, melainkan malaikat berkata 'Dan bagimu seperti itu' " (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Saling memberi hadiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jgn terlalu dipikir susah. Pemberian hadiah tdk hrs menunggu peristiwa2 tertentu apalagi dgn event bid'ah spt 'hari jadi'. Juga tdk perlu sesuatu yg bernilai kewangan tinggi. Yang diukur adl bkn nilai kewangannya, tp makna dr pemberian hadiah itu sendiri.Pemberian hadiah spt ini akan menumbuhkan perasaan cinta antara pemberi dan yg diberi, Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;"Saling memberi hadiahlah, niscaya kamu akan saling mencintai" (HR Al Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Melepas kesusahan saudaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;"Barang siapa melepaskan salah satu kesusahan dunia dr seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan salah satu kesusahan hari kiamat darinya. Barang siapa memudahkan org yg dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya didunia dan akhirat" (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memenuhi hak sesama muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ini dibagi menjadi 2, hak umum dan hak khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak umum:&lt;br /&gt;Dikenal melalui hadist yg bersumber dr Abu Hurairah, Rasulullah berkata:&lt;br /&gt;"Hak muslim atas muslim lainnya ada 6: menjawab salam, menghadiri undangan, memberi nasehat, mendoakannya bila bersin, menjenguknya bila sakit, dan mengantarkan jenazahnya" (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak khusus:&lt;br /&gt;- berinteraksi dlm segala hal&lt;br /&gt;Mestinya, saudara sesama muslim kita jadikan teman dlm meniti kehidupan beragama kita. Teman dalam suka dan duka, ada rasa saling memiliki dan memahami. Bahkan berusaha unk mementingkan urusan saudaranya dr urusannya sendiri sbg wujud perngorbanan tulus unk membahagiakan saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- menutup aib&lt;br /&gt;Aib saudara sesama muslim wajib disimpan demi menjaga kehormatannya. Ini akan terwujud jk ada kesadaran bahwa aib saudaranya seakan2 aibnya sendiri.&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yg lain, kecuali Allah menutupi keburukannya pada hari kiamat" (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara2 yang bisa ditempuh untuk mengetahui aib diri kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghadap seorang ustadzah/ustadz yang bisa mengetahui aib jiwa, sehingga dia bisa mengenali aibnya dan sekaligus mengubatinya. Yang seperti ini seringkali terjadi, dan cukup banyak dokter yang menanganinya&lt;br /&gt;2. Mencari teman karib yang jujur dan dapat dipercaya dan bagus agamanya. Dia bisa menjadikan teman karib itu sebagai pendampingnya, agar memberinya peringatan dari akhlak atau perbuatannya yang kurang baik.&lt;br /&gt;3. Mengambil manfaat tentang aib dirinya dari penuturan musuhnya. Sebab mata yang penuh kebencian itu akan memancarkan keburukan. Manfaat yang dapat diambil oleh musuh mengingatkan aib dirinya. Hal ini lebih bermanfaat bagi dirinya dari pada teman karib yang mencari muka dan menutupi aibnya. Kita semua tentu ingat, bahwa rasul pun menuntun kita untuk mengetahu kepribadian seseorang.. tidak saja dari teman karibnya... tapi juga dari musuh2nya&lt;br /&gt;4. Melihat jika manusia menjauhinya, bererti ada yang salah pada dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apalagi yg ditunggu? Kita sudah tau keutamaan ukhuwah dan kiat2 agar keutamaan itu dpt kita rasakan scr continue...&lt;br /&gt;Niatkan ukhuwah ini kerana Allah semata agar bernilai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyikapi saudara yg suudzhon&amp;nbsp;kepada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tentang suudzhon...ane pernah baca suatu nasehat yang sangat indah...bunyinya begini: kepada saudara sendiri... habisin dulu husnuzhonnya, baru suudzhon...&lt;br /&gt;Hubungan baik antara manusia yang satu dengan yang lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya merupakan sesuatu yang harus diupayakan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Hal ini kerana Allah SWT telah menggariskan bahwa mu’min itu bersaudara (QS 49: 10). Oleh sebab itulah segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Dan agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh zhan (berbaik sangka).&lt;br /&gt;Berburuk sangka merupakan sesuatu yang sangat tercela dan mengakibatkan kerugian, maka perbuatan ini sangat dilarang di dalam Islam sebagaimana yang sudah disebutkan pada surat Al Hujurat ayat 12.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana menghadapi teman kita yang suudzon pada kita?&lt;br /&gt;1. introspeksi diri, dan fokuskan pada isi kritikan. Muhasabah, kerana kita hidup bermasyarakat. Apakah benar seperti yang di prasangkakan. Kalau tidak benar: jawablah dengan hikmah, hujjah yang baik dan lemah lembut. Kalau tidak: sabar. Sebaiknya kita menghargai setiap kritikan yg masuk, apalagi jika diberikan dengan cara yang benar.&lt;br /&gt;Namun kita juga punya adab dalam bermasyarakat dan seupaya mungkin, kita disarankan untuk menutupi aib saudara kita. Inget kisah imam hasan al Banna...&lt;br /&gt;Suatu ketika, seorang sahabatnya mengkritik suatu permasalahan dalam islam, habis2an. Bahkan dipublish kemana2, sehingga semua orang pun membaca. Sahabat2 al imam yang lain tersinggung berat, kerana apa yang dituduhkan, tidaklah sepenuhnya benar. Namun apakah yang dilakukan oleh as syahid hasan al banna?? Beliau memilih diam, bersabar dan menyerahkan pada ALLAH. Kerana kala itu, jika ditanggapi, apalagi dengan emosi,justru akan banyak mudaratnya. Dan ternyata diamnya al imam sungguh berhikmah. Sekarang, sahabat yg dulu menghujat habis2an itu malah menjadi partnernya dalam menyiarkan da'wah islamiyah. Dialah Sayyid Qutb.&lt;br /&gt;Demikian saja , tentang menyikapi suudzhon... bercermin pada al imam hasan al banna&lt;br /&gt;(tambahan : ertikel tentang suudzon http://unisa.f2o.org/min62/ertikel.php?view=30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bila teman kita suudzon, sebaiknya positive thingking saja. Jadikan itu sebagai bahan muhasabah, mungkin ada yang salah pada diri kita dan musti diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mengatasi rasa trauma kerana pernah dikecewakan teman padahal selama ini ukhuwah erat terjalin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ukhuwah is ukhuwah , InsyaAllah klo kita Ikhlas tidak akan ada namanya kecewa dan trauma, seburuk apapun perlakuan atau ketidakadilan yg kita dapat dari ukhuwah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dinding ukhuwah bisa runtuh manakala kita hanya menuntut kesempurnaan, kebaikan dari saudara kita, tanpa mau mengerti keadaan saudara kita itu. Jadi intinya, dalam berukhuwah, kedua belah pihak harus mmemaklumi dan memahami kekurangan masing-masing. Contoh kes, ada yang merasa kecewa kepada seorang teman kerana ketidak peduliannya. Padahal karakter orang tersebut memang demikian, tidak peduli.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-7000887356007048978?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/7000887356007048978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/03/ukhuwah-yang-bernilai-ibadah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7000887356007048978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/7000887356007048978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/03/ukhuwah-yang-bernilai-ibadah.html' title='Ukhuwah Yang bernilai ibadah'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-1154700639300088240</id><published>2011-03-07T07:04:00.001-08:00</published><updated>2011-06-08T12:52:55.137-07:00</updated><title type='text'>PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh Dr.H. Achmad Satori&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenrnya sangat banyak, Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Marah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Hasad&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dar orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:" Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli" Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Perut kenyang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam. Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ? Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa lainnya? Tidak ada!&lt;br /&gt;Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata: Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya. Iblis berkata. Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;b&gt;Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan recheck&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT.&lt;br /&gt;Allah berfirman: "Manusia diciptakan tergesa-gesa" dalam ayat lain itegaskan: "Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa. Mengapa kita edilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan.&lt;br /&gt;Sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Mencintai harta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Ta’assub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ta’assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain. Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas.&lt;br /&gt;Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Kikir dan takut miskin.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata:&lt;br /&gt;Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya (zakat).&lt;br /&gt;Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskinan.&lt;br /&gt;Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Memikirkan Dzat Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Suudzon terhadap orang Islam (ghibah)&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam Surat Al Hujarat 12 sbb.:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk.&lt;br /&gt;Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan atetpi orang munafik selalu mencari cela orang lain.&lt;br /&gt;Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya. Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mempu menghitus semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia Sekarang bagiamana solusi dari hal ini? Apakah acukup dengan zikrullah dan mengucapkan "Laa haula wa laa quwwata illa billah"? ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifat tercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidak bisa menembus ke dalam karena zikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikir tidak akan kokh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela.&lt;br /&gt;Bila orang yang hatinya mamsih diliputi oleh akhlak tercela maka zikrullah hanyalah omongan jiwa yang tidak menguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab itu Allah berfirman:&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 180%;"&gt;إِنَّالَّذِينَاتَّقَواْإِذَامَسَّهُمْطَائِفٌمِّنَالشَّيْطَانِتَذَكَّرُواْفَإِذَا هُممُّبْصِرُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. ( Al A’raaf 201)&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendakati anda. Bila anda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupun Cuma menghardiknya dengan ucapan kaita. Tapi bila di tangan kita ada daging maka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia ingin merebut daging dari kita. Demikian juga hati bila tidak memiliki makanan syetan akan pergi hanya dengan dzikrullah.&lt;br /&gt;Syahwat bila menguasi hati maka ia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisa merasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karena syahwat tapi karena kelalaian daari dzikrullah apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsusng. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya: &lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al A’roof ayat 200)&lt;br /&gt;Dalam ayat lain disebutkan:&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ&lt;/b&gt;&lt;b&gt; , إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ , &lt;/b&gt;&lt;b&gt;إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 98-100)&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar."? Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu&lt;br /&gt;syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi dir dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang kerasa dicerna. Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak mamsuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.Allab SWT berfirman :&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qoof 37)&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;WAllahu a’lamu bis showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.&lt;br /&gt;2· Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.&lt;br /&gt;3· Mengganggu ketaatan kepada Allah&lt;br /&gt;4· Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan&lt;br /&gt;5· Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.&lt;br /&gt;6· Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati.Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-1154700639300088240?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/1154700639300088240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/03/pintu-pintu-masuknya-syetan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/1154700639300088240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/1154700639300088240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/03/pintu-pintu-masuknya-syetan.html' title='PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-3292594701294610934</id><published>2011-01-03T22:20:00.001-08:00</published><updated>2011-01-03T22:20:53.934-08:00</updated><title type='text'>Bahaya Lidah</title><content type='html'>Lidah adalah salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari'at. Dan padanya pula terdapat kejelekan yang banyak dan bahaya yang besar bagi siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau tempat yang tidak semestinya.&lt;br /&gt;Padahal Allah Ta'ala menciptakan lisan (lidah) itu agar digunakan untuk dzikrullah (menyebut Asma Allah), membaca Al Quran, menasehati manusia dan mengajak mereka kepada jalan Allah dan ketaatan serta memperkenalkan kepada mereka tentang kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah SWT.Maka jika si hamba mempergunakan lidahnya untuk tujuan tersebut, maka dia tergolong orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat lidah itu sendiri. Tapi jika sebaliknya, digunakan bukan pada jalan kebenaran seperti disebutkan di atas, maka dia adalah orang yang berbuat dholim lagi melampaui batas.&lt;br /&gt;Kemudian ketahuilah, bahwa perkara lidah ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, sebab dia adalah anggota tubuh yang dominan dalam dhohir manusia dan paling kuat dalam menyeret seorang hamba dalam kebinasaan, ini semua jika tidak dijaga dan dipaksa dengan tuntunan syari'at.Maka Rasulullah SAW sudah menasehati kita agar menjaga lidah dengan baik, minimal dengan jalan tidak banyak berbicara, selagi tidak bermanfaat atau tidak mengandung kebaikan, beliau SAW bersabda (yang artinya):&lt;br /&gt;"Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah ". (HR. Bukhori dan Muslim)Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):"Semoga Allah merahmati seseorang yang berbicara kebaikan maka dia beruntung, atau diam dari kejelekan maka dia selamat ".Dan banyak riwayat yang sampai kepada kita tentang bahaya lidah ini, diantaranya, hadits Rasulullah saw (yang artinya):"Dan tidakkah nanti seseorang akan diseret ke neraka dengan wajah-wajah mereka (di tanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah mereka". (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain disebutkan (yang artinya):"Setiap pembicaraan anak adam adalah (saksi yang) memberatkannya, bukan untuk kebaikannya, kecuali Dzikrullah, Amr Ma'ruf dan Nahi Munkar ".Rasulullah SAW bersabda pula (yang maknanya):&lt;br /&gt;"Sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat, dimana ketika mengucapkannya dia tidak perduli (dengan cuek), tapi berkat satu kalimat itu justru dia terjun ke neraka lebih jauh daripada jarak bintang Tsurayya ".Maka lidah ibarat pedang yang tajam, jika tidak dijaga dengan baik akan membinasakan orangnya, ibarat binatang buas, jika si hamba lengah sedikit maka dia akan menyambar dan mencabiknya dan lidah ibarat juru bicara hati, yang ada disana dilontarkan olehnya, yang terpendam disana ditampakkan olehnya. Maka orang yang sholeh akan diketahui dari cara bicaranya atau pembicaraan yang disampaikannya demikian pula orang jelek akhlaknya dan kaku perangainya dapat diketahui dari apa yang keluar dari lidahnya.Hal mana seperti dikatakan oleh imam Hasan Al Bashri:"Sesungguhnya lidah orang mukmin berada dibelakang hatinya, apabila ingin berbicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya, apabila menginginkan sesuatu maka dia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan dulu dengan hatinya ".&lt;br /&gt;Ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu membelah besi dan daya penghancur (rusak)nya sangat kuat mengalahkan cuka dalam merusak madu yang manis, seperti diriwayatkan Ibnu Abi Dunya, Rasulullah saw bersabda:"Tidak ada satupun jasad manusia, kecuali pasti kelak akan mengadukan lidah kepada Allah atas ketajamannya".&lt;br /&gt;Beliau saw bersabda pula :"Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya" (HR. Ath Thabarani, Ibnu Abi Dunya dan Al Baihaqi)Keutamaan menjaga lidahAl Imam Al Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin berkata: "Ketahuilah bahwa lidah bahayanya sangat besar, sedikit orang yang selamat darinya, kecuali dengan banyak diam ". Oleh sebab itu, Pembuat syari'at memuji dan menganjurkan diam, Nabi Muhammad SAW bersabda (yang artinya):"Barang siapa yang diam, pasti dia selamat " (HR. At Tirmidzi)&lt;br /&gt;Luqman Al Hakim berkata: "Diam itu adalah kebijaksanaan, namun sedikit sekali orang yang melakukannya".&lt;br /&gt;Abdullah bin Sufyan meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata:"Aku berkata kepada Rasulullah SAW, wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang islam, dengan suatu perkara yang aku tidak akan bertanya lagi kepada orang lain sesudahmu.". Nabi saw bersabda: "Katakanlah, aku beriman, kemudian istiqamahlah". Dia berkata: "Lalu apakah yang harus aku jaga?", kemudian Rasulullah saw mengisyaratkan dengan tangan beliau ke lidah beliau. (HR. At Tirmidzi, An Nasa'I dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;Uqbah bin ‘Amir bertanya kepada Rasulullah SAW:"Wahai Rasulullah, apakah jalan keselamatan?", Nabi menjawab: "Tahanlah lidahmu, tinggallah di rumahmu (jangan banyak keluar) dan tangisilah kesalahanmu". (HR. At Tirmidzi)Mu'adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah Saw: "Wahai Rasulullah perbuatan apakah yang paling utama?", kemudian Rasulullah menjulurkan lidah beliau yang mulia lalu meletakkan jemarinya diatasnya dengan mengisyaratkan agar menjaganya.Sahl bin Sa'ad meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, dimana beliau bersabda (yang artinya):"Siapa yang menjamin untukku (agar menjaga) apa yang ada diantara dua janggutnya (lidah) dan yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin untuknya surga " (HR. Bukhori)Rasulullah Saw bersabda (yang artinya):"Siapa yang menahan lidahnya pasti Allah menutupi auratnya, siapa yang dapat menahan amarahnya pasti Allah melindunginya dari siksaNya, dan siapa meminta ampun kepada Allah, Dia pasti menerima permohonan ampunannya " (HR. Ibnu Abi Dunya).Beliau saw bersabda pula:"Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena dengan demikian kamu dapat mengalahkan syaitan " (HR. Ath Thabarani dan Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Keutamaan diam&lt;/i&gt;Cara menyelamatkan diri dari bahaya lidah adalah diam, kecuali dari hal yang baik dan mengundang kebaikan. Para salaf pendahulu kita lebih banyak diam daripada berbicara. Sebab dengan diam akan mengurangi dosa dan bahaya yang timbul akibat lidah. Tetapi jika hak-hak Allah dilecehkan, syariat dihina dan Rasulullah direndahkan, maka mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan berbicara dengan lantang dan pasti sekalipun di depan pemimpin yang kejam, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Jadi berbicara itu baik jika ditempatkan pada posisinya dan diam itu baik jika ditempatkan pada tempatnya pula. Dan jika dibalik maka rusaklah tatanan Amr Ma'ruf Nahi Munkar.&lt;br /&gt;Bagaimana Imam Syafi'I tidak diam diri, manakala melihat sulthon berbuat ketidakadilan, dengan tegas beliau berbicara, menasehati si pemimpin itu. Tetapi jika ditanyakan sesuatu yang sekiranya tidak perlu jawaban, maka beliau diam, tidak menjawab. Lihatlah bagaimana beliau memposisikan sesuatu pada tempat dan waktu yang layak dan tepat.Sebagian Ulama berkata: "Diam menghimpun beberapa keutamaan, diantaranya keselamatan agama, kewibawaan, konsentrasi untuk berfikir, berdzikir dan beribadah. Dan dalam diam juga terkandung keselamatan dari berbagai tanggung jawab perkataan di dunia dan hisabnya di akhirat", Allah SWT berfirman (yang artinya):"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir (Raqib ‘Atid) " (QS. Qaaf 18)&lt;br /&gt;Bahkan diam mendatangkan ibadah yang berpahala, jika diam itu didasarkan karena khawatir berbicara sesuatu yang haram, demi mengharap ridho Allah. Rasulullah saw bersabda (yang artinya):"Maukah kalian aku beritahukan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Diam dan akhlak yang baik " (HR. Ibnu Abi Dunya).Jika anda bertanya, apa sebabnya diam memiliki keutamaan sedemikian besar? Maka ketahuilah bahwa sebabnya karena terlalu banyak penyakit lidah, seperti ghibah, berdusta, mengadu domba, berkata keji, riya', terlibat dalam kebathilan, bertengkar, marah, menyingkap aurat orang dan lainnya. Oleh karena banyak penyakit dan dosa yang timbul karena lidah, maka yang terbaik adalah banyak diam. Kemampuan menahan lidah adalah jalan keselamatan, oleh sebab itu keutamaan diam sangatlah besar. Wallahu A'lam. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Disarikan dari kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam Al Ghazali dan An Nashoihud Diniyyah karya Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-3292594701294610934?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/3292594701294610934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/01/bahaya-lidah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3292594701294610934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3292594701294610934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2011/01/bahaya-lidah.html' title='Bahaya Lidah'/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-884216758965973184</id><published>2010-10-20T09:18:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T09:18:57.130-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: #b45f06; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Rukun Islam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Islam adalah agama yang mengimani satu tuhan yaitu Allah S.W.T. Islam memberikan banyak amalan keagamaan bagi umatnya. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas. Tambahan dari Lima Rukun,(&lt;i&gt;syariah&lt;/i&gt;)  telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua  aspek kehidupan dan kemasyarakatan.Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;1. Mengucap &lt;b&gt;&lt;i&gt;dua kalimat syahadat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yaitu meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali &lt;b&gt;&lt;i&gt;Allah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;b&gt;S.W.T.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;saja dan meyakini bahwa &lt;i&gt;&lt;b&gt;Muhammad&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; adalah hamba dan rasul Allah yang terakhir.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TL8VMvbFv3I/AAAAAAAAAA8/ZS1EQULZIcc/s1600/syahadat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="38" src="http://2.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TL8VMvbFv3I/AAAAAAAAAA8/ZS1EQULZIcc/s320/syahadat.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mendirikan &lt;i&gt;&lt;b&gt;sholat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; wajib lima kali sehari.&lt;br /&gt;3. Melakukan ibadah &lt;i&gt;&lt;b&gt;berpuasa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; pada bulan suci &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ramadhan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;4. Membayar &lt;b&gt;&lt;i&gt;Zakat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;5. Menunaikan ibadah &lt;i&gt;&lt;b&gt;haji&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; bagi mereka yang mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Rukun Iman&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Muslim juga mempercayai &lt;b&gt;&lt;i&gt;Rukun Iman&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang terdiri atas 6 perkara yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Iman kepada Allah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Iman kepada malaikat Allah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Iman kepada Kitab-kitab Allah (Al-Quran, Injil, Zabur, Taurat dan suhuf)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Iman kepada nabi-nabi dan Rasul Allah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Iman kepada hari kiamat&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yaumul_Qiyamah" title="Yaumul Qiyamah"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Iman kepada qada&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Qada" title="Qada"&gt;&lt;/a&gt; dan qadar&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Qadar" title="Qadar"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-884216758965973184?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/884216758965973184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2010/10/rukun-islam-islam-adalah-agama-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/884216758965973184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/884216758965973184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2010/10/rukun-islam-islam-adalah-agama-yang.html' title=''/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TL8VMvbFv3I/AAAAAAAAAA8/ZS1EQULZIcc/s72-c/syahadat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-3853018390606399883</id><published>2010-10-20T08:31:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T08:31:09.881-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #b45f06; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: large;"&gt;&lt;strong&gt;ADAB BERCANDA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Mungkin kita pernah mendengar seseorang berkata "Jenggotmu makin&lt;br /&gt;panjang aja, kayak embek" atau ketika ada akhwat bercadar lewat&lt;br /&gt;dikatakan "Awas…awas…ada ninja lewat" dengan nada bercanda. Atau&lt;br /&gt;perkataan seperti "Eh gua dulu dong, yang tampangnya jelek belakangan"&lt;br /&gt;kepada teman kuliah saat sedang antri bayar SPP. Atau kadang kita&lt;br /&gt;bercanda "Eh, naik mobil gua yuk, tapi mobilnya masih di toko".&lt;br /&gt;Terdengar biasa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk sosial, manusia tentunya dituntut untuk bisa&lt;br /&gt;berinteraksi dengan manusia yang lain. Karena manusia tidak bisa hidup&lt;br /&gt;sendiri, melainkan butuh orang lain dalam memenuhi hajat-hajat&lt;br /&gt;hidupnya. Untuk bisa melahirkan seorang manusia saja, seorang ibu&lt;br /&gt;butuh seorang suami. Saat lahir pun akan membutuhkan bantuan dari&lt;br /&gt;bidan atau dokter. Dan seterusnya sampai kita dewasa pasti akan&lt;br /&gt;membutuhkan peran orang lain dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, seorang manusia sejatinya harus bisa berinteraksi dengan manusia&lt;br /&gt;yang lain dengan baik. Membangun keakraban, membangun suasana&lt;br /&gt;kekeluargaan, menjalin persahabatan. Rasulullah pun memerintahkan kita&lt;br /&gt;untuk menjadi orang yang suka bergaul di masyarakat dengan baik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mukmin yang bergaul ditengah-tengah masyarakat dan bersabar atas&lt;br /&gt;gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan&lt;br /&gt;tidak bersabar dengan gangguan orang" (HR. Ahmad, dihasankan oleh&lt;br /&gt;Al-Hafidz dalam Al-Fath)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bergaul, kadang diperlukan bumbu-bumbu agar muamalah tidak&lt;br /&gt;membosankan, tidak kaku dan supaya mudah tercipta keakraban.&lt;br /&gt;Bumbu-bumbu tersebut kadang berupa candaan. Bisa berupa plesetan,&lt;br /&gt;humor, tingkah yang lucu, sindiran dan segala macam bentuk canda yang&lt;br /&gt;bisa mencairkan suasana. Tentu saja hal ini adalah perkara mubah,&lt;br /&gt;boleh-boleh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah pun suka bercanda. Anas ra. Meriwayatkan bahwa&lt;br /&gt;pernah ada seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah agar membawanya&lt;br /&gt;di atas kendaraan. Kemudian Rasulullah berkata: "Aku akan membawamu di&lt;br /&gt;atas anak unta". Orang tadi bingung karena ia hanya melihat seekor&lt;br /&gt;unta dewasa, bukan anak unta. Kemudian Rasulullah berkata: "Bukankan&lt;br /&gt;yang melahirkan anak unta itu anak unta juga?" (HR.Abu Dawud dan&lt;br /&gt;Tirmidzi dengan sanad yang shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seringkali dalam kenyataannya, banyak sekali candaan-candaan&lt;br /&gt;yang melewati batas dan tidak sesuai dengan akhlak Islami yang hanif.&lt;br /&gt;Seringkali candaan mengandung unsur kebohongan, mengolok-olok ajaran&lt;br /&gt;agama, menyakiti perasaan teman, tertawa berlebihan dan&lt;br /&gt;kebatilan-kebatilan lain. Seringkali candaan jadi apologi seseorang&lt;br /&gt;untuk berbuat buruk. Misalnya ia mencela seseorang kemudianketika&lt;br /&gt;orang tersebut tersinggung pencela tadi berdalih "Saya khan cuma&lt;br /&gt;bercanda". Sungguh ini sebuah kezhaliman. Padahal Rasulullah sendiri&lt;br /&gt;dalam bercanda pun tetap tidak keluar dari batasan-batasan akhlak Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ia berkata, "Ya Rasulullah, sungguh engkau sering&lt;br /&gt;bergurau dengan kami". Kemudian Rasulullah berkata "Tapi, sungguh aku&lt;br /&gt;tidak mengatakan kecuali kebenaran". (HR Tirmidzi, Hadist hasan). Maka&lt;br /&gt;bercanda pun ada adabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;1. Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya,&lt;br /&gt;Sunnah Rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Rasulullah pernah ada beberapa orang dari kaum Muslimin yang&lt;br /&gt;bercanda dengan berkata bahwa tidak ada orang yang lebih penakut dan&lt;br /&gt;berperut buncit seperti para penghafal Qur'an itu (Rasulullah dan para&lt;br /&gt;sahabat). Kemudian ada sahabat yang mendengarkan hal tersebut kemudian&lt;br /&gt;dilaporkan kepada Rasulullah. Kemudian turunlah ayat:&lt;br /&gt;"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka&lt;br /&gt;lakukan), tentulah mereka menjawab: &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #b45f06; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;"Sesungguh-nya  kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah:  "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu  berolok-olok? ". Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah  beriman". (At-Taubah:65-66).&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pun tidak mema'afkan mereka walau mereka berdalh hanya&lt;br /&gt;bercanda saja. Karena ajaran agama ini adalah ajaran yang suci yang&lt;br /&gt;turun dari Allah, sekecil apapun itu. Maka barang siapa menghina&lt;br /&gt;ajaran ini, sama saja dengan menghina Allah SWT dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Misalnya orang yg menghina seseorang yang memanjangkan jenggotnya&lt;br /&gt;karena mengikuti sunnah dengan berkata "Jenggotmu panjang sekali,&lt;br /&gt;mirip embek(kambing) ". Maka sama saja ia mencela orang yang telah&lt;br /&gt;mencontohkan hal tersebut, yaitu Rasulullah SAW. Hal-hal lain yang&lt;br /&gt;sering dicela dalam candaan misalnya:&lt;br /&gt;* Akhwat yang memakai cadar&lt;br /&gt;* Hadist tentang adanya syetan menjadi pihak ketiga bila seorang&lt;br /&gt;laki-laki berduaan dengan wanita non-muhrim. Mereka (orang-orang&lt;br /&gt;jahil) mengatakan bila ada temannya yang datang mengganggu aktifitas&lt;br /&gt;khalwat mereka, maka dialah syaitannya. Sungguh ini candaan yang bathil.&lt;br /&gt;* Ikhwan yang meninggikan pakaiannya di atas mata kaki.&lt;br /&gt;* Ucapan salam "Assalamu'alaikum" yang sering dibuat-buat supaya&lt;br /&gt;terdengar lucu.&lt;br /&gt;* Dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;strong&gt;2. Hendaknya percandaan itu tidak mengandung dusta.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan atau&lt;br /&gt;berbohong supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa&lt;br /&gt;Salam bersabda:&lt;br /&gt;"Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya&lt;br /&gt;orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah". (HR.&lt;br /&gt;Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;strong&gt;3. Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan&lt;br /&gt;salah seorang di antara manusia.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mencela atau menyakiti perasaan tidak dihalalkan diantara sesama&lt;br /&gt;mukmin. Hendaknya setiap orang menjaga perasaan saudaranya dalam&lt;br /&gt;setiap keadaan, baik bercanda ataupun bukan. Allah SWT berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mencela sebagian yang&lt;br /&gt;lain, karena boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari yang mencela"&lt;br /&gt;(Al-Hujurat : 11)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dengan berkata "Yang bertampang jelek minggir dulu" atau "Hei&lt;br /&gt;hitam, kalau malam jangan keluar rumah, nanti tidak terlihat".&lt;br /&gt;Sekalipun hanya dalam candaan, celaan tetap akan menyakiti hati dan&lt;br /&gt;berbekas dihati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih khusus mengenai ini Rasulullah memperingati: "Janganlah seorang&lt;br /&gt;di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau&lt;br /&gt;sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia&lt;br /&gt;harus mengembalikannya kepadanya". (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai&lt;br /&gt;hasan oleh Al-Albani). Hadist ini mengingatkan bahwa dilarang berbuat&lt;br /&gt;zhalim dalam bercanda, apakah itu mengambil barang, menyakiti hati,&lt;br /&gt;menyakiti fisik atau semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;strong&gt;4. Bercanda tidak dengan semua orang.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, dalam bercanda harus pilih-pilih. Tidak semua orang suka&lt;br /&gt;dibercandai dan bercanda bisa saja menimbulkan mudharat (keburukan)&lt;br /&gt;bila dilakukan dengan orang-orang tertentu, misalnya wanita yang bukan&lt;br /&gt;mahram. Bercanda berlebihan dengan wanita non-muhrim akan menimbulkan&lt;br /&gt;fitnah. Maka sebaiknya dibatasi kadar dan intensitasnya. Begitu pula&lt;br /&gt;kepada orang yang lebih tua, tentunya sikap yang utama adalah santun&lt;br /&gt;dan berlemah lembut. Adapun bila ingin bercanda perlu disesuaikan&lt;br /&gt;jenis candaannya agar tidak mengurangi rasa hormat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;strong&gt;5. Tidak bergaya menyerupai wanita (atau laki-laki).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seringkali untuk membuat orang tertawa, seorang laki-laki bergaya&lt;br /&gt;seperti wanita. Baik pakaian, cara berjalan, atau cara bicaranya. Dari&lt;br /&gt;Ibnu Abbas ra. Ia berkata "Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang&lt;br /&gt;menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai&lt;br /&gt;laki-laki". (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi, hadist shahih).&lt;br /&gt;Sungguh aneh, saat zaman dahulu di negeri kita ini banci atau bencong&lt;br /&gt;menjadi hal yang tabu, namun di masa ini malah menjadi hal yang biasa&lt;br /&gt;saja dan malah jadi bahan candaan. Padahal hal tersebut mendapat&lt;br /&gt;laknat Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah akhlak seorang muslim yang hanif. Tidaklah melakukan&lt;br /&gt;sesuatu melainkan itu sebuah kebaikan, baik dalam bekerja, melihat,&lt;br /&gt;mendengar juga dalam berbicara. Sesuai dengan sabda Rasulullah:&lt;br /&gt;"Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah&lt;br /&gt;yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim). Cuma ada 2 pilihan,&lt;br /&gt;berkata yang baik, kalau tidak bisa maka diamlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang shalih menganjurkan agar tidak memperbanyak canda dan&lt;br /&gt;tidak berlebihan dengannya. Baik dalam bermuamalah, dalam menuntut&lt;br /&gt;ilmu apalagi dalam berdakwah. Karena seseunggunnya hal tersebut dapat&lt;br /&gt;menjatuhkan wibawa, menjauhkan diri dari hikmah, menimbulkan&lt;br /&gt;kedengkian, mengeraskan hati dan membuat banyak tertawa yang&lt;br /&gt;melalaikan diri dari mengingat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diambil dari Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh&lt;br /&gt;Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan&lt;br /&gt;Muslim Sehari-hari dengan penambahan)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-3853018390606399883?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/3853018390606399883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2010/10/adab-bercanda-mungkin-kita-pernah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3853018390606399883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/3853018390606399883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2010/10/adab-bercanda-mungkin-kita-pernah.html' title=''/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500486336722853131.post-378919114123848216</id><published>2010-10-20T08:25:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T08:33:57.896-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;u style="color: #b45f06;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pakaian Muslimah ( Jilbab )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #ea9999; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Hijab  syar’i bagi seorang wanita muslimah ketika keluar rumah setelah memakai  gamis (baju panjang) adalah khimar (kerudung penutup kepala, leher, dan  dada), dan&lt;span style="background-color: white;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: black;"&gt;jilbab&lt;/span&gt; (baju setelah gamis dan khimar yang menutup  seluruh badan wanita).&lt;/i&gt; Dalam firman Allah ta’ala:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: #ffd966;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(&lt;b&gt;وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ  فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا  وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ )(النور: من الآية31)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan  pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka  menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.  Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke juyub (celah-celah pakaian)  mereka.”&lt;/i&gt; (Qs. 24:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuNUcNiXkI/AAAAAAAAAAk/ig7XFSPIy_8/s1600/jilbab_benar_03.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuNUcNiXkI/AAAAAAAAAAk/ig7XFSPIy_8/s320/jilbab_benar_03.jpg" width="154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sementara  itu saat ini banyak kita jumpai wanita muslimah yang mengenakan pakaian  yang tidak semestinya bahkan membuat konsep model pakaian muslimah yang  tidak sepatutnya di kenakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuOs_Hrg3I/AAAAAAAAAAo/Y1PkjcrzTxQ/s1600/jilbab_salah_02.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuOs_Hrg3I/AAAAAAAAAAo/Y1PkjcrzTxQ/s320/jilbab_salah_02.jpg" width="154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuO1PRSBOI/AAAAAAAAAAs/xSFlryLasq8/s1600/jilbab_salah_01.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuO1PRSBOI/AAAAAAAAAAs/xSFlryLasq8/s320/jilbab_salah_01.jpg" width="154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuO7W8Z_JI/AAAAAAAAAAw/dP2a6mvZDWg/s1600/salah2.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuO7W8Z_JI/AAAAAAAAAAw/dP2a6mvZDWg/s320/salah2.jpg" width="154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="border: medium none; clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLtW32DbtOI/AAAAAAAAAAg/J79rP9Q4gP8/s1600/poster6.jpg" style="height: 299px; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 442px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="border: medium none; clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLtW32DbtOI/AAAAAAAAAAg/J79rP9Q4gP8/s1600/poster6.jpg" style="height: 299px; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 442px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500486336722853131-378919114123848216?l=muslimpower.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimpower.blogspot.com/feeds/378919114123848216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2010/10/pakaian-muslimah-jilbab-hijab-syari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/378919114123848216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500486336722853131/posts/default/378919114123848216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimpower.blogspot.com/2010/10/pakaian-muslimah-jilbab-hijab-syari.html' title=''/><author><name>Ari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-wQysC8HaxLY/Te5tzj8RP6I/AAAAAAAAACw/dN8hl3hc0zc/s220/Ari.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FGGsvH2Ni0A/TLuNUcNiXkI/AAAAAAAAAAk/ig7XFSPIy_8/s72-c/jilbab_benar_03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
