Rabu, 08 Juni 2011

Mu'adz bin Jabal

Mu'adz bin Jabal adalah sahabat nabi yang berbai'at kepada Rasulullah sejak pertama kali. Sehingga ia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun).Mu'adz bin Jabal masuk Islam di hadapan seorang da'i dari Makkah, Mush'ab bin 'Umair.
Nama panjangnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, sedangkan nama julukannya adalah “Abu Abdurahman”.Dia adalah putra Amr, seorang pemimpin dan imam, Abu Abdurrahman Al Anshari, Al Khazraji, Al Madani, Al Badri.
Diriwayatkan dari Mu’adz, dia berkata, “Aku tidak pernah melanggar sumpahku sejak masuk Islam.”

Mu'adz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram.
Tidak mengherankan kalau Mu'adz bin Jabal berhasil menjadi orang pandai. Sejak kecil dia dididik di Madrasah Rasulullah saw., dan menamatkan pelajarannya di tangan beliau sendiri. Dia meneguk ilmu dari sumber yang mulia itu sejak bermula. Dia berhasil menguasai Ilmu Ma'rifat sesuai dengan ma'nanya yang baik dari guru yang paling baik. Diploma Mu'adz cukuplah kiranya pengakuan Rasulullah saw. bagi Mu'adz dengan sabda beliau, "Umatku yang paling 'alim tentang halal dan haram ialah Mu'adz bin Jabal."  Mu'adz juga merupakan duta besar Islam yang pertama kali yang dikirim Rasulullah ke negeri Yaman.

Diriwayatkan dari Ashim bin Humaid As-Sakuni, bahwa ketika Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berwasiat kepadanya. Mu’adz pada saat itu sedang menaiki tunggangannya, sementara Rasulullah SAW berjalan di bawah tunggangannya. Ketika selesai, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Mu’adz, mungkin engkau tidak bisa lagi bertemu denganku setelah tahun ini, dan mungkin engkau akan melewati masjid dan kuburanku.” Mendengar itu, Mu’adz menangis tersedu-sedu karena harus berpisah dengan Rasulullah SAW. Beliau kemudian bersabda, “Jangan menangis wahai Mu’adz, karena tangisan itu berasal dari syetan.”

Diriwayatkan dari Sa’id bin Abu Burdah, dari ayahnya, dari Abu Musa, bahwa ketika Nabi SAW mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bersabda kepada keduanya,“Permudahlah jangan dipersulit dan bersikap lembutlah dan jangan bersikap kasar.”

Abu Musa berkata lalu kepadanya, “Sesungguhnya di negeri kami ada minuman dari madu yang dikenal dengan nama Bit’u dan dari gandum yang dikenal dengan nama Mizr.”
Ditanya seperti itu, Mu’adz berkata, “Setiap minuman yang memabukkan adalah haram.”
Setelah itu Mu’adz berkata kepadaku, “Bagaimana kamu membaca Al Qur`an?” Aku menjawab, “Aku membacanya ketika shalat, ketika di atas tunggangan, ketika berdiri, dan ketika duduk. Aku akan membacanya sedikit demi sedikit.”

Sa’id berkata: Mu’adz kemudian berkata, “Tetapi aku tidur kemudian bangun, dan lamanya tidurku sama dengan lamanya bangunku.” Seakan-akan Mu’adz lebih diutamakan.

Diriwayatkan dari Mu’adz, dia berkata: Nabi SAW menemuiku seraya berkata,
“Wahai Mu’adz, aku mencintaimu karena Allah.” Aku lalu menjawab, “Begitu juga denganku wahai Rasulullah, aku mencintaimu karena Allah.”

Rasulullah SAW lalu bersabda, “Aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dibaca pada setiap selesai shalat, ‘Rabbi a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika (ya Tuhanku, tolonglah aku agar bisa mengingat-Mu, berterima kasih kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik )’.”

Diriwayatkan dari Nafi’, dia berkata, “Umar pernah menulis kepada Abu Ubaidah dan Mu’adz, ‘Lihatlah orang-orang shalih dan angkatlah mereka untuk menjadi qadhi serta berilah mereka rezeki’.”

Diriwayatkan dari Abu Qilabah dan yang lain, mereka mengatakan bahwa suatu ketika ada seorang pria melewati para sahabat Nabi SAW, lalu dia berkata, “Berwasiatlah kepadaku!" Mereka semua lalu menasihatinya dan Mu’adz bin Jabal berada pada akhir kaum.
Pria itu berkata, “Berwasiatlah kepadaku niscaya Allah akan merahmatimu!” Mu’adz berkata, “Mereka semua telah menasihatimu dan mereka tidak sembarangan. Aku hanya akan menyimpulkannya kepadamu. Ketahuilah bahwa kamu tidak membutuhkan dunia jika kamu lebih membutuhkan akhirat, maka mulailah mencari nasibmu dari akhirat, karena hal itu akan mengalir menuju dunia lalu mengaturnya, lalu hilang bersamamu di manapun kamu menghilang.”

Muadz termasuk dalam rombongan berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu ia kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat terkemuka misalnya Amru bin al-Jamuh. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib.

Pada malam 'Aqabah, Mu'adz mengulurka tangannya yang kecil kepada Rasulullah untuk dibai'at. Mu'adz dibai'at bersama-sama dengan suatu rombongan berjumlah tujuh puluh dua orang. Mereka sengaja datang ke Makkah, memperoleh kebahagiaan dan kemuliaan bertemu dengan Rasulullah saw untuk di bai'at oleh beliau. Mereka hendak melukis halaman sejarah yang sangat mengagumkan dan megah.

Sekembalinya Mu'adz bin Jabal dari Makkah ke Madinah, dia dengan beberapa orang remaja sebayanya membentuk suatu kelompok untuk untuk menghancurkan patung-patung dan membunganya dari rumah-rumah kaum musyrikin Tatsrib, baik dengan cara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Hasil gerakan pemuda-pemuda tanggung ini antara lain seorang pemimpin tertua Yatsrib, 'Amr bin Jamuh, masuk Islam.
'Amr bin Jamuh adalah pemimipin Bani Salamah, dan tergolong bangsawan. Dia mempunyai sebuah berhala milik pribadi.

Berhala itu terbuat dari kayu, bagus dan mahal harganya. Memiliki berhala dan menempatkannya di rumah pribadi seperti yang dilakukan 'Amar bin Jamuh sudah menjadi adat bagi para bangsawan Yatsrib. Orang tua Bani Salamah ini merawat patung tersebut dengan sungguh-sungguh. Patung itu diberinya pakaian dari sutera halus dan diminyakinya dengan wangi-wangian setiap pagi.

Pada suatu malam yang gelap gulita, remaja kelompok Mu'adz bin Jabal mencuri patung tersebut dari tempat pemujaannya, lalu mereka bawa ke belakang komplek perumahan Bani Salamah. Sampai di sana patung itu dilemparkan ke tempat kotoran. Setelah hari Subuh, orang tua itu mencari-mencari patung pujaannya, tetapi tidak bertemu. Maka dicarinya ke luar rumah.

Akhirnya patung itu ditemukannya tercampak dengan kepala ke bawah, tenggelam dalam lobang kotoran. "celakalah orang yang menganiaya tuhan kami," kata 'Amr bin Jamuh mengutuk. Patung itu dikeluarkannya dari lubang kotoran, kemudian dimandikan dan dibersihkannya.
Sesudah itu diminyakinya dengan harum-haruman, lalu diletakkannya kembali di tempat pemujaan. Katanya, "Hai Manat! (nama patung tersebut). Kalau aku tahu orang yang menganiayamu, sungguh akan aku hukum dia"

Bila hari sudah malam dan orang tua itu sudah tidur, Mu'adz dan kawan-kawan pergi pula ke tempat patung itu dengan sembunyi-sembunyi. Mereka bereaksi kembali seperti kemarin. Besok paginya 'Amr bin Jamuh mencari patungnya, dan ditemukannya di lobang kotoran yang lain. Patung itu dikeluarkannya, lalu dimandikan, dibersihkan dan diminyakinya.

Dia mengutuk sejadi-jadinya perbuatan orang yang menghina tuhannya. Peristiwa seperti itu terulang berkali-kali. Setiap patung itu dilemparkan para remaja kelobang kotoran, selalu diambil kembali.. kemudian dibersihkannya, dimunyakinya, dan diletakkannya kembali ke tempat pemujaan. Terakhir, diambilnya pedang lalu digantungkannya di leher patung itu. Kata 'Amr bin Jamuh kepada Manat, "Demi Allah! Aku tidak siapa yang menganiaya engkau. Jika engkau memang sanggup, hai manat, maka lindungilah dirimu...! Ini pedang untukmu...!"

Setelah malam tiba, dan orang tua itu sudah tidur, Mu'adz dan kawan-kawan segera pula bereaksi. Pedang yang tergantung di leher Manat mereka ambil. Patung Manat mereka ikat menjadi satu dengan bangkai anjing, kemudian mereka lemparkan ke lubang kotoran, pagi-pagi 'Amr bin Jamuh mencari-cari patung pujaanya. Didapatinya patung itu tengkurap, bersatu dengan bangkai anjing dlam comberan bergelimang kotoran.

Kata 'Amr bin Jamuh, "Seandainya engkau benar-benar tuhan, tentu engkau tidak sudi diikat bersama bangkai anjing di dalam comberan bergelimang kotoran seperti itu..." kemudian pemimpin Bani Salamah itu masuk Islam dan menjadi muslim yang baik.

Setelah Rasulullah saw. tiba di Madinah sebagai Muhajirin, Mu'adz muda selalu mendampingi beliau. Tak ubahnya bagaikan bayang-bayang dengan orangnya. Mu'adz belajar mengaji Al-Qur'an dan Ilmu Syari'at Islam kepada beliau. Mu'adz cepat menjadi sahabat yang terpandai membaca kitab Allah dan paling 'alim mengenai syari'at Islam.

Yazid bin Quthaib pernah bercerita, "Pada suatu ketika aku masuk ke masjid Himsh. Di sana kulihat seorang pemuda berambut keriting duduk dikelilingi orang banyak. Kalau dia berbicara seolah-olah cahaya dan permata yang keluar dari mulutnya. Aku bertanya, "siapa pemuda itu?"
"Muadz bin Jabal," jawab mereka. Abu Muslim. Abu Muslim al Kaulany pernah pula meriwayatkan, "Aku masuk ke masjid Dimsyiq. Halaqah (majlis ta'lim) dalam masjid penuh dengan para sahabat senior. Seorang pemuda bermata hitam dan gigi putih berkilat duduk di tengah-tengahmereka. Setiap mereka berselisih pendapat tentang suatu masalah, mereka tanyakan kepada pemuda itu. Akku bertanya kepada orang di dekatku, "siapa pemuda itu?" "Mu'adz bin Jabal!" katanya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda,
“Belajarlah Al Qur`an kepada empat orang, yaitu Ibnu Mas’ud, Ubai, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hudzaifah.”

Diriwayatkan dari Al Harits bin Amr Ats-Tsaqafi, dia berkata: Sahabat-sahabat kami menceritakan kepada kami tentang Mu’adz, mereka berkata, “Ketika Nabi SAW mengutusku ke Yaman, dia berkata kepadaku, ‘Bagaimana kamu menetapkan hukum jika ada suatu perkara yang kamu hadapi?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan menetapkan hukum berdasarkan Kitabullah. Jika tidak ada dalam Kitabullah maka aku akan menetapkan dengan hadits Rasulullah’. Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada dalam Sunnah Rasulullah?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak berlebihan’. Setelah itu Rasulullah SAW memukul dadanya dan bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelaraskan utusan Rasulullah dengannya, sebagaimana yang diridhai oleh Rasulullah’.”

Diriwayatkan dari Anas secara marfu, dia berkata, “Umatku yang paling penuh cinta kasih kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam memegang agama Allah adalah Umar, yang paling malu adalah Utsman, yang paling mengetahui masalah halal dan haram adalah Mu’adz, dan yang paling taat adalah Zaid. Setiap umat memiliki kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah.”

Di bawah ini kita muat cerita tentang A’idzullah bin Abdillah yakni ketika pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar, ia masuk mesjid bersama beberapa orang shahabat, katanya:

“Maka duduklah saya pada suatu majlis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih, masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan . . . . hitam manis warna kulitnya, bersih, manis tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya, dan ia tak hendak berbicara kecuali bila diminta . . . . Dantatkala majlis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ujarnya: Saya adalah Mu’adz bin Jabal.”

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya:

“Bila para shahabat berbicara sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya . . . .!”

Dan Amirul Mu’minin Umar r.a. sendiri sering meminta pendapat dan buah fikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata: “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar !”

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sahal bin Abu Hatsmah, dari ayahnya, dia berkata, “Orang-orang yang berfatwa pada masa Rasulullah SAW masih hidup itu ada tiga dari kalangan Muhajirin, yaitu Umar, Utsman, dan Ali, serta tiga dari kalangan Anshar, yaitu Ubai bin Ka’ab, Mu’adz, dan Zaid.”
Musa bin Ulai bin Rabah meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, “Umar pernah berkhutbah di hadapan orang-orang di Jabiyah, ‘Barangsiapa menginginkan pemahaman maka dia hendaknya mendatangi Mu’adz bin Jabal’.”

Dan ternyata Mu’adz memiliki otak yang terlatih baik dan logika yang menawan serta memuaskan lawan, yang mengalir dengan tenang dan cermat. Dan di mana saja kita jumpai namanya - di celah-celah riwayat dan sejarah, kita dapati ia sebagi yang selalu menjadi pusat lingkaran. Di mana ia duduk selalulah dilingkungi oleh manusia.

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buaka suara, adalah ia sebagimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “
Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara . . . .”

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini serta penghormatan Kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun.

Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak suatupun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik orang adalah Abu Bakar, Umar, dan Mu’adz bin Jabal.”

Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu’adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing Kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.
Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Yaman, Umar tahu bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka diusulkan Umara kepada khalifah agar kekayaannya itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya secara dosa bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat. Oleh sebab itu usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula . . . . Umar berpaling meninggalkannya.

Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar. Demi sampai di sana, Umar dirangkul dan dipeluknya, sementara air mata mengalir mendahului perkataannya, seraya berkata:
“Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar dan menyelamatkan saya !”

Kemudian bersama-sama mereka datang kepad abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satupun yang akan saya ambil darimu”, ujar Abu Bakar. “Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik”, kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz.
Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang shaleh itu akan menyisakan baginya.

Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz. Hanya saja masa itu adlah mas gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu’adz pindah ke Syria, di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah - amir atau gubernur militer di sana - serta shahabat karib Mu’adz meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mu’minin Umar sebagai penggantinya di Syria. Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegan jabatan itu, ia dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Umar r.a. berkata:
“Sekiranya saya mengangkat Mu’adz sebagai pengganti, lalu ditanya oleh Allah kenapa saya mengangkatnya, maka akan saya jawab: Saya dengar Nabi-Mu bersabda: Bila ulama menghadap Allah Azza wa Jalla, pastilah Mu’adz akan berada di antara mereka !”

Mengangkat sebagai pengganti yang dimaksud Umar di sisi ialah penggantinya sebagi khalifah bagi seluruh Kaum Muslimin, bukan kepala sesuatu negeri atau wilayah.
Sebelum menghembuskan nafasnya yang akhir, Umar pernah ditanyai orang: “Bagaimana jika anda tetapkan pengganti anda?” artinya anda pilih sendiri orang yang akan menjadi khalifah itu, lalu kami bai’at dan menyetujuinya . . . .?

Maka ujar Umar:
“Seandainya Mu’adz bin Jabal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagi khalifah, dan kemudian bila saya menghadap Allah Azza wa Jalla dan ditanya tentang pengangkatannya: Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin bagi ummat manusia, maka akan saya jawab: Saya angkat Mu’adz bin Jabal setelah mendengar Nabi bersabda: Mu’adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari qiamat.”

Pada suatu hari Rasulullah SAW, bersabda: “Hai Mu’adz! Demi Allah saya sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: Ya Allah, bantulah daku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu.”
Tepat sekali: “Ya Allah, bantulah daku . . . !”

Rasulullah SAW selalu mendesak manusia untuk memahami makna yang agung ini yang maksudnya ialah bahwa tiada daya maupun upaya, dan tiada bantuan maupun pertolongan kecuali dengan pertolongan dan daya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar . . . .

Mu’adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat . . . . Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu’adz, maka tanyanya:

·    Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?
·    Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah, ujar Mu’adz
·    Setiap kebenaran ada hakikatnya, ujar Nabi pula, maka apakah hakikat keimananmu?
·    Ujar Mu’adz: Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore.
Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pn yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap ummat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka. Maka sabda Rasulullah SAW : Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!

Benar dan tidak salah, Mu’adz telah menyerahkan seluruh jiwa raga dan nasibnya kepada Allah, hingga tidak suatu pun yang tampak olehnya hanyalah Dia! Tepat sekali gambaran yang diberikan Ibnu Mas’ud tentang kepribadiannya. katanya:

“Mu’adz adalah seorang hamba yang tunduk kepada Allah dan berpegang teguh kepada Agama-Nya. Dan kami menganggap Mu’adz serupa dengan Nabi Ibrahim a.s ”

Mu’adz senantiasa menyeru manusia untuk mencapai ilmu dan berdzikir kepada Allah. Diserunya mereka untuk mencari ilmu yang benar lagi bermanfaat, dan katanya:

“Waspadalah akan tergelincirnya orang yang berilmu! Dan kenalilah kebenaran itu dengan kebenaran pula, karena kebenaran itu mempunyai cahaya . . . .!”

Menurut Mu’adz, ibadat itu hendaklah dilakukan dengan cermat dan jangan berlebihan.
Pada suatu hari salah seorang Muslim meminta kepadanya agar diberi pelajaran.

-    Apakah anda sedia mematuhinya bila saya ajarkan? tanya Mu’adz
-    Sungguh, saya amat berharap akan mentaati anda! ujar orang itu. Maka kata Mu’adz kepadanya: “Shaum dan berbukalah!”
-    Lakukanlah shalat dan tidurlah!!!
-    Berusahalah mencari nafkah dan janganlah berbuat dosa
-    Dan janganlah kamu mati kecuali dalam beragama Islam
-    Serta jauhilah do’a dari orang yang teraniaya

Menurut Mu’adz, ilmu itu ialah mengenal dan beramal, katanya: “Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian mafaat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dulu!”
Baginya iman dan dzikir kepada Allah ialah selalu siap siaga demi kebesaran-Nya dan pengawasan yang tak putus-putus terhadap kegiatan jiwa. Berkata Al-Aswad bin Hilal:
“Kami berjalan bersama Mu’adz, maka katanya kepada kami; Marilah kita duduk sebentar meresapi iman!”

Mungkin sikap dan pendiriannya itu terdorang oleh sikap jiwa dan fikiran yang tiada mau diam dan bergejolak sesuai dengan pendiriannya yang pernah ia kemukakan kepada Rasulullah, bahwa tiada satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali timbul sangkaan bahwa ia tidak akan mengikutinya lagi dengan langkah berikutnya. Hal itu ialah karena tenggelamnya dalam mengingat-ingat Allah dan kesibukannya dalam menganalisa dan mengoreksi dirinya.

Sekarang tibalah ajalnya, Mu’adz dipanggil menghadap Allah. Dan dalam sakarat maut, muncullah dari bawah sadarnya hakikat segala yang bernyawa ini, dan seandainya ia dapat berbicara akan mengalirlah dari lisannya kata-kata yang dapat menyimpulkan urusan dan kehidupannya.

Dan pada saat-saat itu Mu’adz pun mengucapkan perkataan yang menyingkapkan dirinya sebagai seorang Mu’min besar. Sambil matanya menatap ke arah langit, Mu’adz munajat kepada Allah yang Maha Prngasih, katanya:
“Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu.
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan. tetapi hanyalah untuk menutup haus dikala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan”

Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tempat ia mengajar sebagai utusan khalifah Umar bin Khattab, waktu itu usianya 33 tahun.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, dia berkata, “Mu’adz meninggal dunia dalam usia 33 atau 34 tahun.”




---


Sumber :
- Wikipedia. Mu'adz bin Jabal
- islamipedia. Mu'adz bin Jabal:Biografi
- Berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates